Gaya Kelas Menengah Ngehek Berutang

Di dinding Facebook saya banyak berseliweran memes tentang utang: tentang bagaimana handai tolan dan sanak saudara kita meminjam uang dari kita yang sebetulnya juga tidak kaya-kaya amat ini, dan kemudian mereka, jangankan membayar tepat waktu, ingat akan utangnya pun sepertinya tidak. Mereka tetap menjalani hidup kelas menengah ngehek seperti biasa: media sosialnya tetap berisi foto-foto makanan enak di restoran kekinian, bermalam di hotel sana dan resort sini di akhir pekan, dan kumpul-kumpul arisan di rumah yang isi barangnya lengkap. Intinya, hidup mereka normal, seakan tiada utang. Hidup kita yang memberi utangan? Makan lebih sering masak sendiri di rumah, akhir pekan jalan-jalan ke taman saja yang murah meriah, tidak ada furnitur terbaru dari katalog IKEA.

Melihat memes seperti ini membuat saya tercenung, karena saya jadi menyadari kalau hal ini (memberi utangan tapi tidak dibayar-bayar dan yang ngutang malah (terlihat) lebih kaya dari yang memberi utangan) bukan hanya menimpa saya saja, tapi juga banyak orang lainnya. Saya jadi berpikir “jangan-jangan ini memang budaya bangsa kita? Jangan-jangan (pura-pura) melupakan utang adalah hal yang normal dan wajar bagi bangsa ini?”

Untuk mengecek jawabannya, jadilah saya bertanya pada suami saya yang adalah seorang WNA, warga negara Cina.

“Di Cina, apakah ada budaya kalau seseorang berutang pada teman atau saudaranya, maka ia akan melakukan apapun semaksimal mungkin agar utangnya lekas terbayar lunas? Misalnya, ia akan menjual barang-barang tersiernya, ia tidak akan pergi liburan, ia akan lebih hemat listrik dan air, ia akan makan di rumah terus, ia akan mengurangi jam tidurnya karena harus kerja sampingan untuk mendapat tambahan penghasilan, ia akan berhenti langganan TV kabel dan internet, ia akan… intinya, menurunkan level gaya hidup untuk sementara sampai utangnya terbayar lunas. Apakah budaya orang-orang Cina seperti itu…?”

Tidak seperti biasanya, suami saya tidak cepat menjawab pertanyaan saya. Dia diam, mengernyitkan dahinya, dan kemudian mengucapkan kalimat ini perlahan-lahan:

“Pertanyaan macam apa itu? Bukankah harusnya itu adalah hal yang wajar bagi siapa pun di dunia ini? Tidak perlu budaya-budayaan untuk membayar utang kita tepat waktu…”

Jleb.

Ternyata kelas menengah Indonesia memang ngehek. BPJS! Bujet Pas-Pasan, Jiwa Sosialita.

Di Facebook, Jangan Jadi Orang yang Konsisten

Katanya jadi orang itu harus konsisten. Tapi kalau kamu konsisten mem-posting hal-hal berikut ini di FB-mu tanpa variasi, maka saat ini kemungkinan besar hubungan kita di FB hanya sekedar teman biasa saja…

1.       Konsisten mempromosikan barang daganganmu. Apa kamu sudah tahu bahwa Facebook memiliki fitur Facebook for Business? Coba deh buat FB Page dan undang teman-temanmu untuk menyukainya.

2.       Konsisten mengaitkan setiap postingan tentang kegiatan sehari-harimu dengan bisnis MLMmu. Jadi misalnya kamu lakukan A, lalu ada embel-embel “bisnisku ini enak sekali, bisa kerja dari rumah”, atau kamu lakukan B, lalu ada tambahan kalimat “Cuma di [nama MLM] nih yang bisa begini…”.

3.       Konsisten memposting foto-foto selfie close-up mu, apalagi kalau estetika fotografinya biasa saja. Itu kantong matanya kelihatan banget loh…

4.       Konsisten menyebarkan berita/info hoax, dan berlindung di balik kata mutiara “sharing is caring” atau bermain aman dengan menambahkan kalimat “sekedar share, nggak tahu ini benar apa nggak”. Hellow… kalau belum tentu benar, untuk apa disebarkan? (karena belum tentu salah ya?).

5.       Konsisten membenci pemerintahan Jokowi. Kamu mengkritik pedas terus dengan tidak realistis, dan tidak memposting apapun bila pemerintah membuat gebrakan bagus. Jadilah pengamat politik yang berimbang dan realistis.

6.       Konsisten mengemukakan pendapat/pemikiranmu tentang suatu isu/hal dengan alur pikir yang tidak runut, dengan sikap yang ngotot, dan kalau diajak diskusi dengan teman FB lain jawabanmu tidak nyambung.

7.       Konsisten memposting status-status galau tentang tempat kerjamu, bosmu, dan teman-teman kantormu. Lakukan sesuatu dong untuk mengubah situasimu.

Di FB, tolong jangan terlalu konsisten lah kalau mau saya tetap jadi follower-mu. Variasikan postinganmu!

(eh, memang siapa saya ya sehingga harus difollow… :p)

Akhir kata, ternyata memang yang saya unfollow adalah orang-orang yang tidak saya kenal baik di dunia nyata. Dan silakan unfollow saya loh kalau tidak suka dengan postingan saya! Teman baik di dunia nyata lebih berharga.

Apalagi yang Kurang?

Apalagi yang kurang, yang kau butuhkan untuk hidup tetapi tak diberiNya?

Kau memiliki napas hidup.
Kau memiliki kesehatan (scoliosis dan gen kanker tidaklah maut).
Kau memiliki pekerjaan yang kau sukai.
Kau memiliki orang tua yang masih lengkap di usia 30an.
Kau memiliki otak yang bukan di bawah rata-rata (kau lulusan FEUI!)
Kau memiliki gaji yang relatif tinggi, yang cukup untuk membeli rumah, smart phone, dan bahkan mobil bila kau memang niat membelinya.
Kau memiliki bos yang baik.
Kau memiliki sahabat, bahkan mendapat sahabat dikala sahabatmu undur diri.
Kau melihat dunia di empat benua.
Kau memiliki pria yang kau cintai dan mencintaimu juga.
Kau memiliki kakak adik ponakan yang semuanya baik saja.

Apalagi? Apalagi? Apalagi yang masih harus Dia beri agar kau buat hidupmu berarti?

Diberi banyak, mengapa kau malah undur diri?

Apakah kau ingin semua itu diambil darimu?

Tidak! Jangan, ya, Tuhan.

Ku coba lagi, mau ku coba lagi.

So God help me.

Jakarta, 19 Feb 2013.

Puaskan Tanpa (rasa) Dosa

Seks adalah kebutuhan.

Dan kebutuhan akan seks adalah mimpi buruk bagi lajang yang ingin menjaga
dirinya dari seks di luar pernikahan, dari masturbasi, dan dari menginginkan
orang lain walaupun hanya dalam pikirannya.

Mimpi buruk karena kebutuhan itu tak tertahankan, karena setelah bergumul pada
akhirnya jatuh memuaskan diri sendiri, karena setelah terpuaskan akhirnya
merasa berdosa.

Mengapa tidak begini:

Saat kebutuhan itu datang tak tertahankan, bebaskan diri tanpa ragu dengan
mengingat kekasih pujaan, bukan orang lain.

Akankah rasa bersalah hilang? Apakah ini penyelesaian?

Ah, tidak….

Dia menginginkanku benar-benar kudus…

Depok, 3 Feb 13

Bagaimana Kau Bisa Tahu?

Bagaimana kau bisa tahu apakah kau benar-benar mencintai kekasihmu?
Kupikir salah satunya adalah saat kau dapat membayangkan hidup bahagia bersamanya walau dia tidak dapat memberikan seks memuaskan kepadamu.

Bagaimana kau bisa meyakinkan dirimu bahwa kekasihmu saat ini bukanlah pasangan hidup yang baik untukmu?
Kupikir salah satu indikatornya adalah bila yang paling kau takutkan dari tak bersamanya lagi adalah kehilangan seks memuaskan darinya.

Akhir kata, bila demikian, apakah sebaiknya kita mencoba seks pra-nikah…?

Depok, 3 Feb 13

Nissan Livina X-Gear 1.5 A/T Silver: Proses Pengambilan Keputusan Membeli Barang Kedua Termahal Dalam Hidup

Akhirnya, setelah tujuh tahun bertahan untuk tidak membeli dan menggunakan mobil pribadi terhitung sejak mulai bekerja, saya memutuskan untuk membeli mobil karena sudah pada fase kebutuhan (needs), dan bukan sekedar keinginan (wants).

Toyota Vios G 1.5 A/T, Toyota Innova G-Luxury 1.5 A/T, Ford Fiesta Sport 1.5 A/T, Nissan Grand Livina High-Way-Star 1.5 A/T. Mana yang harus dipilih?

Akhirnya, setelah menjelajah internet, mendatangi kantor penjualan, melakukan test drive, dan berdiskusi alot dengan suami, pilihan jatuh kepada Nissan Livina X-Gear 1.5 A/T.

Kenapa pilih Nissan daripada Toyota? Kenapa pilih Livina daripada Grand Livina?

Hal pertama adalah menentukan budget dan disiplin dalam mengaplikasikannya. Tanpa budget, saya akan tertarik untuk melihat lebih detil mobil-mobil di atas budget, sehingga tidak hanya membuang-buang waktu tetapi juga membuat saya menjadi sulit berpuas hati saat melihat mobil-mobil yang berada dalam budget. Misalnya, panel dashboard di Toyota Vios 280 juta menjadi terlihat jelek karena sudah melihat panel dashboard Toyota Camry 500 juta; leg room baris kedua Toyota Avanza 180 juta menjadi terasa sangat sempit karena sudah mencoba duduk di baris kedua Toyota Innova Captain Seat 280 juta.

Dalam kasus saya, budget yang saya dan suami sepakati adalah 180-280 juta rupiah (ya, range-nya memang cukup besar, mencapai 100 juta).

Berikutnya adalah menimbang-nimbang untuk membeli mobil baru atau bekas.

Saya sempat tertarik untuk membeli mobil bekas karena dengan budget yang sama, saya bisa mendapatkan mobil bekas yang usianya baru 2 tahun yang harga barunya sekarang jauh di atas budget saya.

Setelah diskusi dengan suami, akhirnya kami memutuskan untuk membeli mobil baru saja dengan pertimbangan yang akan banyak menggunakan mobil dan mengurusnya adalah saya yang tidak mengerti mesin dan hal teknis mobil, sehingga lebih mudah bila menggunakan mobil baru. Lagipula, kami berencana untuk ganti mobil setiap 5 tahun sekali, untuk kenyamanan dan keamanan.

Berikutnya adalah membuat daftar hal-hal apa saja yang tidak boleh tidak ada di mobil yang akan di beli. Kalau budget kita tidak terbatas sih tidak perlu membuat daftar ini…

Pada akhirnya, konsumen-lah yang harus pintar dalam menentukan fitur apa yang harus dimiliki oleh suatu mobil karena setiap mobil memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing; kekurangan suatu mobil di mata konsumen A bisa menjadi tidak relevan di mata konsumen B. Misalnya, kalau bagi seorang konsumen konsumsi bahan bakar sangat penting, maka dia akan memilih mobil X yang lebih irit walaupun fitur interiornya lebih jelek daripada mobil Y yang konsumsi bahan bakarnya lebih tinggi, walaupun harga mobil X dan Y sama.

Dalam konteks saya, ada dua hal yang harus dimiliki oleh mobil yang akan saya beli:

  1. Transmisi otomatis. Saya biasa menggunakan mobil dengan transmisi manual, dan merasa lebih keren bila menyetir mobil manual karena tidak semua perempuan bisa menyetir mobil bertransmisi manual. Tetapi, menyadari bahwa mobil akan banyak dipakai di dalam kota Jakarta yang macet ini, dan mengakui bahwa dengkul kiri saya seiring pertambahan usia suka terasa mau copot saat menyetir mobil manual dalam kemacetan panjang, maka saya harus realistis bahwa transmisi otomatis adalah suatu keharusan.
  2. Mempunyai fitur keamanan sbb:
  • Dual airbag: tidak hanya untuk pengemudi, tapi juga untuk orang di samping pengemudi. Bila (amit-amit) terjadi kecelakaan, tentu saya tidak mau hanya saya yang selamat karena airbag, sedangkan suami di kursi sebelah saya tidak mendapatkannya, bukan?
  • Sabuk pengaman di seluruh kursi: tidak hanya untuk dua orang di kursi depan, tapi juga untuk penumpang di kursi belakang. Bila (lagi-lagi amit-amit) terjadi kecelakaan, tentu saya tidak mau hanya saya dan suami di kursi depan yang terikat pada tempat duduk saat mobil terguling-guling sedangkan anak-anak kami berantakan di kursi belakang.
  • Rem ABS+EBD+BA: karena lebih baik mencegah daripada mengobati; lebih baik menghindari tabrakan daripada menabrak dan menggantungkan hidup pada piranti keselamatan sesaat setelah benturan terjadi (airbag, seat belt, collapsible steering column, dll).
  • Collapsible steering column
  • Side impact beam
  • Crushable and safety zone body

Dengan persyaratan ini, maka saya terpaksa harus mencoret Toyota Innova G-Luxury Captain Seat dari daftar saya, karena sistem rem ABS hanya diterapkan untuk tipe tertinggi Innova yaitu tipe V yang harganya di atas budget saya.

Fakta bahwa Toyota tidak memberikan ABS untuk mobil seharga 280 juta mengagetkan dan mengecewakan saya. Di mana perhatian Toyota atas keamanan pengguna mobil-mobilnya? Kenapa Yaris yang harganya lebih murah dilengkapi oleh ABS? Bila masalahnya adalah budget, menurut saya lebih baik Toyota memasang ABS dan mengompensasinya dengan mengurangi beberapa fitur interior/exterior. Tapi ya mungkin hanya sedikit konsumen di Indonesia yang memilih fitur keamanan daripada fitur kecantikan sehingga Toyota tidak memprioritaskan ABS…

Fakta fitur keamanan ini membuat saya jadi tertarik dengan mobil-mobil Nissan karena terlihat bahwa Nissan peduli dengan keamanan mobilnya. Selain itu, membanding-bandingkan fitur dan harga mobil membuat saya menyadari bahwa mobil Nissan memberi value-for-money dibandingkan mobil Toyota atau Honda yang sepertinya over priced  karena merk-nya lebih terkenal.

Memang sih bengkel resmi Toyota dan Honda lebih mudah ditemui dan suku cadangnya mudah didapat. Akan tetapi, membeli mobil Nissan cukup aman saat ini karena Nissan terlihat serius untuk memperluas pangsa pasarnya dan mengembangkan jangkauan dealer dan bengkel resminya.

Pertimbangan berikutnya adalah bentuk kendaraan: sedan atau hatchback? MPV atau cross-over sedan dan SUV?

Sebetulnya saya ingin punya mobil sedan; sedan yang harganya sesuai budget adalah Toyota Vios dan Ford Fiesta Sedan. Tidak jadi Vios karena value-for-money-nya kurang; tidak jadi Ford karena Ford Fiesta Sedan tidak diproduksi lagi.

Saya tidak suka hatchback karena mungil dan tanggung rasanya. Lagipula, sejuta umat menggunakan mobil hatchback macam Jazz atau Yaris. Sebetulnya tertarik juga untuk membeli Ford Fiesta Hatchback varian Sport. Tetapi sayang suami kurang setuju karena lebih suka bentuk cross-over SUV yang terkesan lebih ‘cowok’.

Jadi, pilihannya antara MPV atau cross-over (SUV asli di atas budget soalnya… hiks…)

Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, pilihan pun kemudian mengerucut ke keluarga Livina produksi Nissan. Sebetulnya saya tertarik untuk membeli Nissan Grand Livina varian High-Way-Star karena interior dan exteriornya paling manis. Dan saya pikir MPV 3-baris sebetulnya pilihan rasional, mengingat kami ingin punya anak lebih dari satu, ada kemungkinan memiliki supir dan/atau baby sitter, dan agar memungkinkan untuk bepergian bersama orang tua. Akan tetapi, suami ternyata lebih memilih Livina yang hanya dua baris daripada Grand Livina yang tiga baris. Menurutnya, untuk apa membeli mobil 3 baris yang panjang bila kita tidak terlalu memerlukan baris ketiga. Sebagai orang Cina asli, konsep mobil tiga baris tidak terbayangkan olehnya karena di Cina memiliki supir, pembantu, dan baby sitter bukanlah hal yang biasa, jumlah anak per keluarga dibatasi hanya satu, dan Livina yang beredar di Cina adalah Livina, bukan Grand Livina.

Husband:   how often will we travel with parents? Once a month?”

Me:              “No, once a year, in Lebaran day”

 

Me:              “When we don’t use the third-row seat, we can fold it so we have bigger luggage space…”

Husband:   “how big is the luggage you want to carry that doesn’t fit the space of two-row Livina?”

End of discussion. Two-row Livina, it is.

Next, tidak ada pertimbangan untuk mesin, karena Livina X-Gear hanya memiliki dua varian, yaitu berdasarkan transmisi (A/T dan M/T), sehingga tidak ada pilihan mesin selain 1.5.

Tapi seandainya saya harus memilih antara 1.0, 1.2, 1.5, atau 1.8 dan lainnya, maka saya akan tetap pilih 1.5, karena ini sudah lebih dari cukup untuk penggunaan dalam kota, dan cukup untuk ke luar kota sesekali.

Saya sempat menginginkan mobil 1.8 tetapi batal karena pajaknya lebih tinggi daripada 1.5. Akan tetapi, suami saya mengatakan “…bukan masalah pajaknya; kita akan bayar biayanya kalau memang kita membutuhkan mobil kapasitas 1.8. Kita membeli 1.5 karena 1.5 sudah cukup untuk kebutuhan kita…”.

Nah, hal terakhir adalah warna mobil. Pilihan mengerucut pada hitam dan silver karena dua warna inilah yang banyak dicari orang di pasar mobil bekas (kami berencana akan ganti mobil setiap 5 tahun). Karena Livina X-Gear otomatis dilengkapi dengan under protector berwarna hitam di bumper-nya, maka efek hitam ini jadi kurang menonjol bila body color-nya juga hitam. Jadi, warna silver menjadi pilihan rasional.