8. Back to Inpatient Room

[0] Sabtu, 22 September 2018

“Mana Cheche?”, tanyaku ke Papaku.

“Di NICU. Kami bagi tugas. Papa nungguin kamu di kamar operasi, Cece yang nemenin bayinya ke NICU”, jawabnya.

Begitu Cheche memasuki kamarku, pertanyaan pertamaku adalah “Che, bayinya laki-laki apa perempuan?”

“Laki-laki, Kak!”, jawabnya.

“Bagaimana kondisinya?”

“Dokter lagi berusaha supaya bayinya bisa mencapai 80% oxygen level. Sekarang baru 65%. Mereka sudah punya nomor HP-ku. Katanya setiap ada perkembangan atau update yang perlu kita ketahui, aku akan ditelepon”.

Setelah Cheche, ternyata tidak ada lagi yang bisa masuk ke NICU, termasuk Papa-ku. Peraturan NICU hanya membolehkan bayi dijenguk oleh orangtuanya. Cheche boleh masuk di awal, karena ia di sana bertindak sebagai saksi, yang menemani bayi sejak keluar kamar operasi hingga ke dalam NICU. Kasihan bayiku… Bapaknya lagi di luar negeri, ibunya terkapar di sini… Sabar ya, Nak… dalam waktu kurang dari 24 jam lagi, Mama sudah bisa lepas kateter dan pasti sudah cukup pulih untuk bertemu denganmu di NICU…

“Bayinya cakep, Kak. Aku melihat tangan bayinya gerak-gerak gitu… Tapi sayang aku ga ambil foto atau videonya, Kak… Aku ga minta, kupikir nggak bisa… Jadi aku cuma ambil foto dari luar saja.”

“Nggak papa, Che…”, jawabku.

Papaku pulang ke Depok pagi itu membawa ari-ari bayiku.

Begitu Adikku datang pagi itu, aku minta Cheche – yang sudah bersamaku sejak semalam dan belum tidur – untuk pulang ke rumahnya.

Cheche-pun handover ke adikku. Handphone-ku, kartu ATM dan PIN-nya. Selama ini memang Cheche yang menjawab whatsapp orang-orang, termasuk meng-update kondisi bayiku dan aku ke suamiku. Arum adikku dan Cheche juga mendatangi ruang NICU bersama supaya adikku tahu di mana lokasinya, dan juga untuk mengganti nomor kontak kami di NICU dari nomor HP Cheche ke nomor HP adikku.

:::glassy:::

“DOKTER INGIN BERTEMU…”

Sekitar jam 12:45, adikku mendapat telepon dari NICU. Salah satu anggota keluarga diminta datang ke sana. Begitu telepon ditutup, interkom di kamarku berbunyi. Suster berkata singkat, “Bu, Dokter ingin bertemu…”. Adikku pun bergegas ke sana. Aku tidak suka situasi ini. Lebih baik tidak ada telepon daripada ada. Telepon artinya kabar buruk…

Adikku kembali ke kamarku. Ia bilang dokter akan segera datang untuk menjelaskan situasinya. Tak berapa lama kemudian, dokter spesialis anak yang merawat anakku datang. Ia ditemani satu orang dokter lainnya dan satu orang perawat.

“Selamat siang, Bu. Saya dr. Adhi, yang merawat anak Ibu. Saya ada di kamar operasi juga waktu itu, tapi mungkin Ibu tidak melihat saya karena ketutupan tirai. Saya melihat sendiri proses kelahiran anak Ibu. Waktu itu anaknya keluar pantatnya duluan. Kami langsung rawat anak Ibu. Kami berikan treatment A obat B, lalu treatment C obat D… (dokter menjelaskan detil, tapi aku tidak bisa mengingatnya). Bayi ibu memang sempat menangis akhirnya, tapi hanya sebentar. Lalu kami coba treatment E obat F (aku juga tidak ingat), tapi tidak berhasil juga. Ini karena alveolinya jumlahnya sangat sedikit dan belum berkembang, sedangkan tugas alveoli adalah menukar CO2 dengan O2. Jadi anak Ibu tidak bisa menukar CO2 sendiri tanpa dibantu. Sebetulnya ada satu cara lagi, Bu, yaitu menggunakan mesin yang berfungsi jadi semacam paru-paru buatan. Mesin ini yang menukar CO2 dengan O2 tersebut. Tapi di rumah sakit ini teknologinya tidak ada, Bu… Di Indonesia juga tidak ada…”

Air mata yang menggenang di pelupuk mataku berjatuhan ke pipi… Aku mengerti, anakku akan mati…

“Jadi, sambil menunggu, apakah sebaiknya ia tetap di dalam inkubator atau di luar, Dok?”, tanyaku.

“Menurut saya tidak ada gunanya lagi di inkubator. Jadi lebih baik dikeluarkan. Ibu yang ke sana atau bayinya yang dibawa ke sini?”

“Saya boleh datang ke sana, Dok? Kalau bisa, saya mau ke sana”.

“Err… tapi saya juga tidak yakin Ibu boleh ke sana ya. Harus ijin dokter Ibu dulu. Karena untuk operasi caesar kan biasanya 1×24 jam di tempat tidur. Takutnya luka operasi Ibu terbuka. Ibu juga masih pakai kateter kan…”

“OK, Dok. Berarti anaknya yang di bawa ke sini ya.”

:::glassy:::

“HE DIED, BA! HE PASSED AWAY!!”

Jam 12:51, segera setelah dokter meninggalkan ruangan, aku videocall dengan suamiku. Ku beritahu dia perkembangan terakhir ini, dan ku memintanya untuk siap-siap ku videocall lagi saat bayinya tiba di kamarku nanti. Aku ingin tidak hanya aku yang ada bersama dengan bayiku di saat-saat terahir hidupnya, tapi juga ayahnya. Aku juga bilang pada adikku untuk siap-siap bantu memegang handphone selama nanti videocall berlangsung.

Tunggu punya tunggu, bayiku tidak datang-datang. Aku sampai sempat terlelap, kemudian terbangun lagi. Masih efek obat bius sepertinya…

Jam 1:34, dua orang perawat mendorong tempat tidur bayi memasuki kamarku. Itu dia bayiku datang! Adikku langsung menyambungkan aku dengan suamiku via videocall. Dengan hati-hati perawat mengangkat bayiku dari dalam tempat bayi. Aku membuka bagian atas bajuku sedikit, sambil memberi tanda ke perawat untuk meletakkan bayiku di dadaku. Aku ingin merasakan skin-to-skin! Tapi perawat menolaknya dengan mengatakan “Pegang di sini saja ya, Bu…” sambil membuka lengan kananku untuk menerima bayinya. Ku turuti sarannya. Toh nanti bisa kupindah sendiri, pikirku. Ku angkat tanganku untuk menerima bayiku dari tangan perawat. Bayiku sudah dibedong rapi dengan kain putih. Matanya terpejam. Saat aku menerimanya di tanganku, ku rasakan badannya bergerak. “Eh, he is moving, Ba!”, kataku sambil tersenyum ke suamiku yang terdiam di layar handphone. Ku amati bayiku yang ada di dekapanku. Kulitnya putih, hidungnya mancung, bibirnya sempurna. “He looks like you, Ba!”, kataku lagi. Ku lihat ada luka di bibirnya. Ah, ini pasti bekas selang. Kasihan anakku… Ku lihat lehernya ditutupi oleh libatan kain kassa. Ah, ini juga mungkin bekas selang… Ku amati dia lagi, ku cium dia. Tapi… ada yang aneh… kenapa dia tidak bergerak lagi ya…? Ku alihkan wajahku ke perawat yang tadi membawa bayiku.

“Suster…”, kataku lamat-lamat. Ini bayi saya sudah meninggal ya…??”

Dalam diam, suster menganggukkan kepalanya perlahan.

Aku langsung berteriak histeris ke suamiku sambil menghentak-hentakkan kakiku, “HE DIED, BA! HE PASSED AWAY….!!!”. Aku pun menangis tersedu-sedu sambil mendekap mayat anakku. Suamiku hanya diam… diam yang dalam…

Sambungan video terputus… Suamiku segera mengirimkan pesan “I am sorry ma. Maybe this world is not good enough for him.”

Setelah aku agak bisa menguasai diriku, kutanya pada suster apa perlakuan selanjutnya pada jenazah anakku. Suster mengatakan ia sudah bisa dibawa pulang. Beritahu saja kapan akan dibawa, para perawat akan menyiapkan anakku.

Aku coba videocall suamiku lagi, menanyakan padanya apakah ia mau melihat anaknya dulu saat ia kembali nanti di hari Minggu malam, atau ia mau anaknya segera dikuburkan. Tapi ternyata sambungan masih jelek. Dia tidak bisa mendengar suaraku dan memintaku voice message saja. Ku tanyakan hal yang sama lewat voice message kepadanya. Sambil menunggu jawabannya, aku bertanya ke perawat:

“Apakah bisa anak saya ditaruh dulu di kamar jenazah yang ada pendinginnya, sambil menunggu Bapaknya pulang di hari Senin pagi?”

“Di sini tidak ada kamar jenazah, Bu…”

“Oh?! Kok bisa nggak ada ya… Kalau di RSU seberang, ada?”

“Nggak ada juga, Bu…”

“Oh, bisa bantu carikan kamar jenazah?”

“Setahu saya RSCM punya, Bu. Dan lokasinya cukup dekat dari sini. Coba saya tanyakan ke RSCM ya, Bu”.

“OK, tolong ya suster…”


Tapi kemudian ada balasan dari suamiku. “Let us bury him soon. He has come so difficult situation. No need to freeze him anymore, just let him return to his world. Please take a few photo of him”.

“Oh, nggak jadi, Suster”, kataku pada suster. “Suami saya setuju untuk langsung menguburkannya”.

“OK, Ibu beritahu kami saja bayinya mau dibawa kapan. Akan kami siapkan.”

“Saya bisa gendong anak saya lebih lama lagi sekarang?”

“Ya, nanti kalau sudah selesai, Ibu bisa panggil saya untuk jemput anak Ibu kembali”.

Kedua perawat meninggalkan ruangan sambil mendorong kereta bayi yang kini kosong.

Aku kembali memandangi bayiku. Ku minta adikku mengambil beberapa foto.

Kemudian kubaringkan bayiku di sampingku di atas tempat tidur. Ku buka kain penutup kepalanya sedikit saja, ku lihat rambutnya. Ah… ada rambutnya… hitam warnanya. Ku buka kain penutup di bagian bawah lahirnya, ku lihat pundaknya dan dadanya. Ah… dia benar-benar bayi sempurna. Bayi yang tampan… Wajahnya tenang, bahkan bibirnya mengguratkan senyuman.

Aku ciumi dan dekap dia, entah berapa lama. Sampai akhirnya ku rasakan pipinya dingin saat aku menyentuhnya.

Heh? Kok terasa dingin? Aku tidak suka!

Aku segera minta adikku memanggil perawat untuk membawa kembali bayi yang mendingin di tanganku ini.

Keputusan yang akhirnya aku sesali, karena ternyata aku tidak pernah menggendongnya lagi…

:::glassy:::

“LET US NAME HIM ‘GLASSY’”

Untuk keperluan administrasi, ternyata bayiku harus diberi nama. Aku dan suamiku tidak menyiapkan nama. Jenis kelamin bayi saja baru kami ketahui di hari lahirnya, itu pun dari Cheche. Dalam situasi seperti ini, apalagi dengan sambungan videocall yang buruk, ini hal yang pelik untuk dipikirkan.

Nama anak pertama dan keduaku terdiri dari tiga nama: nama pertama mereka adalah nama western, nama tengah mereka adalah nama Jawa/Indonesia, dan nama terakhir mereka adalah marga Bapaknya. Nama pertama mereka berdua diawali dengan huruf J. Sebetulnya aku, waktu mengandung anak ketigaku dulu, pernah berpikir untuk memberinya nama “Jude” bila laki-laki. Tapi kini aku merasa dia sangat spesial, sehingga namanya pun harus spesial.

Tiba-tiba saja aku terpikir untuk memberinya nama “Glassy”. Glassy adalah nama pemberian anak pertamaku untuknya saat dia ada di kandunganku. “The baby’s name is Glassy, Ma!” Aku dan suamiku yang mendengarnya saat itu terpukau. “Wow, dia bisa memberi nama! Dan namanya cukup unik pula”. Sejak saat itu, kami memanggil bayi yang masih di kandungan dengan nama Glassy. Kenapa tidak terus memanggilnya Glassy sekarang? Lagipula nama Glassy terdengar unisex.

Aku pun mengirimkan voice message ke suamiku tentang ide nama ini.

“…Let me know your preferred name. Then we will put it in paperwork and on the tomb”, tutupku.

“OK, let us use Glassy”, putusnya.

:::glassy:::

OBITUARY

Sore itu juga Papa kembali ke rumah sakit, ditemani oleh om dan tanteku, untuk mengambil jenazah Glassy untuk dibawa ke rumah orang tuaku di Depok dan dimakamkan di TPU di Depok. Rencananya malam itu akan ada kebaktian penghiburan, diikuti dengan kebaktian pelepasan/penguburan keesokan harinya pukul 11 siang.

Malam harinya, sekitar jam 10-an, aku putuskan untuk mengumumkan berita tentang kelahiran dan kematian Glassy di laman Facebookku. Entah kenapa aku mau memori ini tersimpan benar-benar di tanggal 22 September, supaya kalau kelak Facebook mengingatkanku akan memori ini, ia mengingatkanku di tanggal yang sebenarnya.

Aku buat obituary tentang Glassy. Aku tak ingin dunia mengetahui kematiannya saja. Aku ingin dunia mengetahui perjuangannya. Bayi pejuang, yang bertahan hidup jauh lebih lama dari yang diperkirakan dokter; yang terus bertumbuh sempurna dan sesuai perkembangan usia walaupun tidak didukung oleh air ketuban yang cukup; yang jantungnya terus berdetak normal hingga kami memutuskan untuk memisahkannya dari badanku…

Glassy Liang, my beloved warrior son, I love you!

:::glassy:::

Catatan:

Di obituary ini kutuliskan kalau Glassy meninggal di jam 1.45 siang. Entah darimana aku dapatkan data ini. Karena beberapa hari setelah kematiannya, saat aku merapikan dokumen medis dan adminnya, yang tertulis di sana adalah jam 12.45 siang. Jadi, Glassy hidup selama 10 jam, bukan 11 jam.

7. Operating Theater

[25+4] Sabtu, 22 September

Aku dipindahkan ke ruang persiapan operasi. Suster ruang operasi mencoba menyuntikkan obat melalui bukaan infus di tanganku, tetapi aku menjerit kesakitan. Obatnya tidak bisa masuk; infus terpasang dengan tidak tepat. Walaupun infus itu baru saja terpasang di tanganku beberapa jam lalu oleh bidan di Delivery Room, suster ruang operasi tidak mau tahu. Dia lepas dan cari tempat lain untuk menginfusku. Nadi di kedua tanganku sudah habis dari berminggu-minggu rawat inap. Akhirnya dicoba di bagian lengan bawah dekat tangan. Berkali-kali, berbagai jarum. Dokter anestesi juga turut membantu.

Akhirnya aku masuk ke kamar operasi. Entah jam berapa waktu itu. Dokter anestesi menyuntikkan obat bius ke punggungku. Bius lokalnya sempat sakit, aku sampai menarik punggungku… Tapi bius setelahnya berjalan lancar. Operasi pun dilakukan dengan aku masih tersadar karena biusnya hanya separo badan. Terasa dokter menarik-narik sesuatu dari dalam perutku. Dokter anestesi yang duduk di dekat kepalaku terus menenangkanku. Dia akhirnya berkata, “bayinya sudah keluar”. Ah, aku tidak mendengar tangisannya… sungguh hening di sana. “Mana anak saya?”, tanyaku mengiba. Aku sungguh berharap aku bisa melihatnya dulu dan bisa merasakan skin-to-skin di dadaku. Tapi, aku juga tahu mengapa, mereka tidak melakukannya. “Anak Ibu lagi dirawat dulu ya sama dokter anaknya. Ibu bisa lihat nanti”. Itu adalah kalimat terakhir yang aku dengar sebelum aku terlelap…

—–

Aku terbangun, itu pun setengah sadar, saat para tenaga medis beres-beres ruang operasi. Mereka pun kemudian memindahkanku ke recovery room. Aku tertidur lagi. Di sana, pukul 7 pagi, saat aku masih belum sadar, darahku diambil untuk pemeriksaan lab*. Entah kenapa kesadaranku lama pulih. Badan rasanya lemasss sekali. Kadang aku tersadar, kadang aku tertidur lagi. Aku sempat samar-samar mengetahui kalau Papaku masuk ke recovery room mencariku, tapi kemudian suster memintanya menunggu di luar. Entah sudah berapa pasien operasi yang masuk dan keluar sesudahku.

Suster ruang operasi akhirnya menyadari kenapa aku tidak sadar-sadar juga. Mereka memberi teh manis hangat yang hanya boleh kuteguk beberapa cecap. Saat pergantian suster rawat inap telah berlangsung, suster ruang operasi pun ingin aku kembali ke ruang rawatku. Di situlah mereka sadar bajuku basah kunyup oleh keringat. Mereka mengganti bajuku. Ku dengar sayup-sayup percakapan mereka, “Kita ganti ‘aja bajunya di sini, daripada nanti dia masuk angin…”.

Serahterima antara suster kamar operasi dan suster ruang perawatan pun dilakukan. Aku di dorong kembali ke kamarku tempat Papa-ku sudah menunggu di sana…

*

Hasil lab sampel darah 22 September pagi paska operasi: Entah kenapa CRP tidak ada di daftar hasilnya, yang ada malah Random Glucose untuk Diabetic. Salah order?

Hasil lab sampel darah 24 September pagi, sebelum aku pulang ke rumah: CRP mencapai rekor tertinggi yaitu 64,1 mg/L dari acuan <=5,0 sehingga aku dibekali antibiotik untuk diminum sampai habis di rumah.

6. Delivery Room

[25+3] Jum’at, 21 September

Sore ini perawat memindahkanku ke Delivery Room karena dokter memutuskan untuk memotong cervical stitch/cerclage-ku. Karena semua obat sudah diberikan tetapi aku masih kesakitan, hipotesanya adalah mungkin cerclage-nya bermasalah. Makin besar bayiku, makin kuat dorongannya. Takutnya ikatan cerclagenya menggores rahimku sehingga inilah yang menimbulkan pendarahan.

Jadilah aku kini berada bukan sekedar di obgyn exam chair, melainkan di tempat tidur untuk ibu-ibu melakukan persalinan. Proses pelepasan cerclage ini terasa lama… dan mengerikan. Peralatannya tidak hanya sekedar speculum, tapi juga gunting terpanjang yang pernah kulihat. Aku terus memegang erat lengan perawat selama proses berlangsung.

Setelah ikatan berhasil di gunting lepas, dokter menunjukkannya kepadaku. “Ini ya, Bu… sudah saya lepas…”. Astagaaa… kupikir ikatannya benang. Ternyata tebal seperti ikatan kabel-kabel di ruangan server!

Setelah proses selesai, dokter bertanya kepadaku.

“Kalau dalam beberapa hari ke depan Ibu mulai kontraksi dan harus melahirkan, Ibu mau bayinya di resusitasi atau tidak?”

“Apa itu resusitasi, Dok?”

“Bayinya dibantu untuk mempertahankan hidupnya. Misalnya pernapasannya dibantu…”

“Kalau opsi satunya lagi, berarti bayinya dibiarkan begitu saja sampai mati sendiri?”

“Iya”

“Oh, ya resusitasi lah, Dok”, jawabku cepat. Kupikir pertanyaannya sudah selesai. Ternyata masih ada lagi.

“Nah, kalau resusitasi, Ibu mau yang seperti apa. Maximum handling, 50:50, atau yang biasa saja”

“Maximum handling”, jawabku cepat juga.

“OK, kalau begitu saya akan mulai mencari dokter anaknya. Dan nanti juga ada form yang harus Ibu tanda tangani supaya kami bisa mulai menyiapkan NICU-nya.”

Tak berapa lama, datang petugas membawa formulir yang harus aku tanda tangani tersebut. Setelah itu, perawat Delivery Room datang menyiapkan mesin CTG untuk mengecek tanda-tanda kontraksi. Hasilnya, tidak ada kontraksi. Sakit perutku juga sudah tidak terasa lagi dan pendarahan juga sudah berhenti. Tapi aku belum boleh kembali ke ruang perawatan karena kondisiku masih harus diobservasi. Jika sampai tengah malam nanti terbukti pendarahan tidak muncul lagi, maka barulah aku boleh kembali ke sana.

Malamnya sekitar jam 9, aku mulai pendarahan lagi. Kontraksi juga mulai terasa lagi, dengan sedikit rasa sakit setiap kali kontraksi terjadi. Tapi bidan yang memeriksa meyakinkanku bahwa ini belum mengkuatirkan.

Para perawat selalu menanyakan siapa keluarga yang mendampingiku. Saat kubilang tidak ada, mereka selalu mengejar lagi. “Suaminya kapan kembali, Bu? Bisa dipercepat pulangnya? Apa tidak ada keluarga yang tinggal di sini, Bu?”. Saat kutanya kenapa harus ada yang menunggui aku, mereka berkata untuk menjadi saksi mengenai tindakan-tindakan medis apa saja yang kudapatkan.

Jadilah akhirnya aku kontak adikku dan temanku, menanyakan apakah mereka bisa datang besok ke rumah sakit untuk menungguiku. Adikku bisa datang besok, dan ternyata Cheche bisa datang malam ini juga.

Beberapa jam kemudian sebelum tengah malam, perawat menyadari kalau suhu tubuhku tinggi. Diukur, hasilnya 37,8 derajat. Detak jantung bayi lebih cepat, di kisaran 170. “Detak jantung bayi Ibu jadi lebih cepat karena ibu demam”, katanya menjelaskan. Mereka kemudian melaporkan kondisiku ke dokter melalui telepon. Tak berapa lama, bidan datang ke kamarku, hendak memeriksa apakah sudah ada bukaan. Aku reluctant, tapi bidan memaksa karena ini perintah dokter. Mungkin aku tidak mau karena aku takut akan kenyataan… Dan kenyataannya memang tidak menyenangkan. Rahimku sudah bukaan satu. Anakku akan lahir. “Apa harus dilahirkan? Kan baru bukaan satu. Apa tidak bisa diusahakan untuk menutup lagi? Kan baru bukaan satu…?”, protesku masih lari dari kenyataan.

Bidan pun menjelaskan bahwa aku sudah demam, detak jantung bayi sudah lebih cepat, rahimku sudah mulai membuka, bayiku prematur dan ini anak ketigaku, laju dripping obat antikontraksi melalui infus sudah maksimal tidak bisa ditambah lagi karena denyut nadiku sudah maksimal. Begitu bukaan terjadi, bukaan akan terus membesar, dan prosesnya bisa jadi lebih cepat karena bayi prematur dan ini bukan anak pertama. Fungsi obat antikontraksi saat ini adalah memperlambat bukaan sampai dokter dan tim operasi tiba di rumah sakit. Bayiku benar-benar harus dilahirkan. Dokter sudah mengambil keputusan.

Rasanya tak percaya… perjuangan selama ini akan berakhir saat ini. Begitu cepat… suamiku tak ada pula… Para petugas bergantian datang ke Delivery Room. Ada yang menjelaskan tentang tindakan operasi yang akan dilakukan (tanda tangan), biaya operasi caesar (tanda tangan lagi), petugas lab mengambil darah untuk pemesanan darah ke PMI, dan entah siapa lagi. Aku meminta ke petugas untuk split bill rawat inapku dengan operasiku yang akan berlangsung beberapa jam lagi. Kalau bill tidak split, asuransi tidak akan bayar dari hari pertama rawat inap. Petugas rumah sakit yang mengurus asuransi sudah pulang. Paling cepat mereka bisa split bill di pagi hari jam 7 nanti. Duh, padahal operasinya akan dilakukan sebelum jam 7 pagi. Aku akhirnya pasrah saja. Kalau memang harus bayar dari hari pertama, ya sudahlah…

Aku telepon suamiku, tidak terangkat. Wajar karena dia pasti sudah tidur, apalagi zona waktu tempat dia berada lebih cepat dari Jakarta. Akhirnya aku tinggalkan pesan kalau aku akan segera melahirkan. Aku telepon adikku lagi, memberitahunya kalau akhirnya aku harus melahirkan. Beberapa dokumen benar-benar hanya bisa ditandatangani oleh anggota keluarga. Ternyata adikku lagi ada di Depok, bukan di Jakarta. Jadilah akhirnya ia memberitahu orangtuaku, dan diputuskan Papaku yang akan ke sini, adikku menyusul paginya.

Cheche datang hampir tengah malam. Ia menandatangani satu dokumen yang bisa ia tandatangani, entah apa aku lupa. Cheche juga membantuku mentransfer uang dari rekening bank emergency fund-ku ke rekening bank lain yang kartu ATM-nya aku pegang saat itu. Memegang token internet banking-pun aku sudah tidak sanggup… Kuberitahu Cheche PIN-nya, in case pembayaran deposit harus dilakukan segera (biaya melahirkan memang tidak dijamin asuransi).

[25+4] Sabtu, 22 September

Panggilan telepon ke orang kantorku – untuk membantu urusan asuransi – tidak terangkat. Ya memang sudah lewat tengah malam… Akhirnya aku lakukan voice message, termasuk ke atasanku. Setelahnya, handphone dipegang Cheche. Aku kesakitan.

“Dokter dan tim-nya yang lain sudah datang belum ya, Suster? Kapan datangnya? Kapan operasi dimulai?”, tanyaku mulai tak sabar. Sakitnya mulai tak tertahankan…

5. Second Hospitalization

[20+4] Sabtu, 18 Agustus

Operasi pemasangan celsite dan pengikatan mulut rahim dilakukan sore menjelang malam.

Sebelum operasi di mulai, dokter anestesi menjelaskan kepadaku kalau pilihan pain killer paska operasi yang dimilikinya terbatas, mengingat kondisiku yang hamil. Ia tidak bisa memberiku morfin. Jadi, luka operasiku akan terasa lebih sakit paska operasi nanti.

Dan ia benar. Aku kesakitan. Tidak ada morfin, hanya pain killer biasa.

[20+5] Minggu, 19 Agustus

Siang ini ambil darah untuk pemeriksaan lab. CRP ada di angka 16,6 mg/L dari acuan normal <= 5.0.

Karena aku masih kesakitan dan pain killer lewat anus tidak membantu, maka berdasarkan instruksi per telepon dari dokter, suster memberikan pain killer yang berbentuk semacam koyo/tensoplast. Suster menempelkannya di dadaku sebelah kiri.

Hari ini kepalaku merasa pusing dengan tingkatan yang sangat parah sekali yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku sampai tidak bisa membuka mataku, karena kalau aku melakukannya, maka aku akan muntah! Aku sudah muntah dua kali gara-gara membuka mata. Dan muntahannya banyak, walaupun aku hampir tidak makan apa-apa hari itu; hanya beberapa potong pepaya dan pisang. Suamiku sampai memasangkan sleep mask untuk memastikan mataku tertutup selalu. Aku merasa seperti Cyclops, tokoh X-Men. Bedanya, kalau pelindung mata si Cyclops terbuka maka keluarlah laser beam. Kalau aku? Muntahan.

Dokter jaga bertanya apakah aku memiliki riwayat vertigo dan aku jawab tidak. Kondisiku kemudian dilaporkan per telepon ke dokterku. Dokter jaga kemudian datang lagi dan memberitahu kalau, menurut dokterku, pusing hebat ini disebabkan oleh painkiller yang berbentuk sticker itu. Painkiller ini memang painkiller yang sangat kuat yang memiliki efek samping dapat menyebabkan mual dan muntah. Dokter jaga kemudian memberiku obat anti-mual.

Sekitar jam 6 sore, aku putuskan untuk melepas stiker obat painkiller di dadaku tanpa ijin dokter/perawat. Aku tidak bisa hidup begini terus. Sudah selang infus membatasi gerakku, aku juga tidak bisa makan sejak puasa sebelum operasi sabtu lalu. Aku harus memilih: post-surgery pain atau vertigo and vomit! Aku pilih sakit saja.

Malamnya, perawat bertanya apakah aku masih merasa pusing dan mual, karena bila ya, dokter ku mengijinkan untuk menghentikan pemberian pain killer-nya. Aku beritahu perawat kalau aku sudah melepaskan stikernya dari tadi. She didn’t blame me… J

So, tonight vertigo gone, surgical pain remains. Aku bersyukur operasiku dilakukan weekend, sehingga suamiku bisa terus ada bersamaku sejak sebelum operasi hingga malam ini. Tak terbayangkan kalau acara vertigo dan muntah ini berlangsung dengan hanya ada aku seorang diri.

[20+6] Senin, 20 Agustus

Catheter dilepas sekitar jam 10 pagi ini; harus pakai pispot mulai sekarang.

Siang ini ambil darah lagi untuk pemeriksaan lab. CRP ada di angka 34,8 mg/L dari acuan normal <= 5.0.

Infus diganti dari satu tangan ke tangan lainnya karena sudah bengkak.

Malamnya dokter datang ke ruang rawatku untuk melakukan amnioinfusion via celsite. Sebetulnya aku berharap dilakukan USG dulu sebelum infusi supaya bisa terukur before and after-nya. Tapi sepertinya dokter menganggap USG tidak diperlukan.

Kantong demi kantong berisi cairan infus terus dimasukkan langsung ke amniotic sac-ku melalui celsite. Kantong pertama selesai dengan aman. Tapi begitu selesai kantong yang entah keberapa (kedua?), kebocoran mulai terjadi lagi. Aku tidak bisa tidur sepanjang malam hingga subuh dini hari, karena stres melihat kebocoran ini…

[20+7] Selasa, 21 Agustus

Aku bangun kesiangan sampai tidak sadar kalau teman small group-ku datang sesuai janji mereka. Aku katakan ke mereka kekuatiranku bahwa metode celsite ini pun akan gagal. Mereka mengingatkanku untuk tidak kuatir. All the best and worst of man can’t change the Master’s plan.

Sekitar jam 4 sore kebocoran berhenti.

Malamnya USG dengan dr. Rima, karena dokterku tidak ada jadwal praktek hari ini. Hasilnya, air ketuban hanya 1,4 cm. Sepertinya water in sama dengan water out… Tapi at least baby is doing OK, as usual. Suamiku mengingatkan untuk tidak terlalu kuatir, karena ini lebih baik dibandingkan Sabtu lalu dimana air ketuban tidak terdeteksi sama sekali.

Well, semoga USG berikutnya menunjukkan hasil yang lebih baik.

[21+1] Rabu, 22 Agustus

Aku merasa baikan hari ini. Hari ini hari libur, jadi suamiku bisa menemaniku di siang hari juga, tidak hanya di malam hari seperti biasanya.

Walaupun ini hari Rabu (dokterku praktek Senin-Rabu-Sabtu), tidak ada jadwal USG karena ini hari libur.

[21+2] Kamis, 23 Agustus

Tanganku sudah bengkak lagi karena tidak kuat menerima infusan. Cairan-cairan infus yang diberikan kepadaku memang relatif pekat sehingga bengkak lebih mudah terjadi. Perawat berusaha memasangkan infus lagi di tanganku yang lain, tapi tidak berhasil walaupun sudah dicoba beberapa kali. Jadilah tangan diistirahatkan dulu, tidak ada infusan. Jadi selang infusku tinggal satu, yaitu yang di perut saja. Jadi kurang heroik ya kelihatannya…

Malamnya USG dengan dr. Rima karena ini hari Kamis. Hasilnya, water level naik ke 2,7 cm.

[21 + 3] Jum’at, 24 Agustus

Dokter mengunjungiku di kamar rawat.

Highlight:

  1. Hasil pemeriksaan lab menunjukkan jumlah lekosit yang rendah dan level CRP yang tinggi yang artinya ada virus. Dokter akan memberiku obat antivirus.
  2. Besok dokter akan mengganti selang infusi celsiteku (selang yang menghubungkan kantong infus ke jarum di perutku) dan akan melakukan USG. Setelah itu, infusi akan dilanjutkan kembali.
  3. Aku akan bisa pulang kalau metode celsite sudah bisa menaikkan level air ketubanku, dan kalau virus sudah under control.

Aku harap infeksi virus ini tidak serius… tidak sampai menginfeksi bayiku…

[21+4] Sabtu, 25 Agustus

Pagi ini ambil darah untuk pemeriksaan lab. CRP ada di angka 4,6 mg/L dari acuan normal <= 5.0.

Luka bekas operasi masih sedikit berdarah sejak aku memaksakan BAB beberapa hari lalu. Tidak banyak memang, hanya sedikit jejak darah terlihat di perban.

Hari ini sudah genap satu minggu sejak operasi. USG menunjukkan hasil yang sama – 2,7 cm – tapi sekarang airnya ditemukan di antara kepala dan perut bayi. Air yang biasanya ada di daerah pantat tidak kelihatan saat ini. Dokterku dengan jelas mengatakan bahwa usaha celsite ini telah gagal. Air ketuban tidak meningkat padahal kebocoran sudah berhenti sejak Selasa malam. Ini artinya rupture yang terjadi cukup serius, sehingga air yang masuk ke amniotic sac keluar dan terserap oleh rahim/badanku.

Dokter melepas selang infus di perutku karena menurutnya infusi tidak dapat dilakukan terus-menerus; harus ada istirahatnya. Lagipula selang memang harus dilepas/diganti setiap minggu untuk meminimalisir kemungkinan infeksi. Sesuai pesan suamiku, walaupun dokter sudah menyatakan gagal, aku memintanya untuk mencoba sekali lagi. Jadi rencananya, USG akan dilakukan lagi di hari Senin untuk melihat seberapa jauh penurunan air ketuban tanpa adanya amnioinfusion. Kemudian amnioinfusion akan dicoba dilakukan lagi. Dokter bertanya apakah aku mau pulang ke rumah saja sambil menunggu Senin untuk amnioinfusion berikutnya di One Day Care. Aku jawab aku pilih tetap di rumah sakit…

[21+5] Minggu, 26 Agustus

Darah di perban luka operasi tidak ada lagi. Ini membuktikan bahwa darah yang keluar sebelumnya hanya berasal dari daerah tempat jarum untuk infusi celsite ditusukkan. Begitu jarumnya diambil kemarin, maka darah pun berhenti keluar.

[21+6] Senin, 27 Agustus

USG hari ini menunjukkan air ketuban 2,7 cm. Memang tidak ada perubahan dari USG Sabtu lalu yang juga menunjukkan 2,7 cm. Akan tetapi, Sabtu lalu dokter hanya menemukan satu single pocket, sedangkan kali ini ia menemukan beberapa pockets. Walau demikian, yang diukur memang hanya single pocket yang terdalam saja, dan itu 2,7 cm. Dokter agak heran mengetahui bahwa air ketuban meningkat walaupun tidak ada infusi sejak Sabtu malam. Jadi dia duga dalam kasusku infusi tidak bisa dilakukan terlalu banyak.

Aku minta dokter untuk mengijinkanku tetap tinggal di rumah sakit untuk observasi, karena aku ingin tahu berapa hari yang diperlukan hingga kebocoran terjadi lagi dan infusi dibutuhkan lagi. Dokter setuju. Jadi di hari Rabu nanti USG akan dilakukan lagi. Dokter juga akan memberi instruksi ke laboratorium untuk memeriksa darahku lagi besok, untuk mengetahui apakah infeksi virusnya sudah membaik.

Hari ini dokter membuka perban yang menutupi luka operasiku. Tidak ada lagi darah di sana.

Bayi baik-baik saja seperti biasa. Bentuk perutnya juga sudah kembali normal.

I feel like I am riding a rollercoaster… bad news, good news, bad news, good news…

[21+7] Selasa, 28 Agustus

Pagi ini ambil darah untuk pemeriksaan lab. CRP ada di angka 6,2 mg/L dari acuan normal <= 5.0.

Hari ini aku googling untuk mencari ibu-ibu senasib lagi. Kali ini nemu ini. Sama persis denganku, PPROM di usia kehamilan 13 minggu! Ada harapan lagi…

[22+1] Rabu, 29 Agustus

USG hari ini.

Air ketuban meningkat dari 2,7 cm menjadi 3,7 cm (one single deepest pocket). Air terbanyak masih di sekitar area pantat, tapi di area lain juga ditemukan air ketuban. Bentuk kepala sudah kembali ke bundar, detak jantung bayi baik. Taksiran berat janin adalah 580 gram. Karena air ketuban terbukti meningkat tanpa infusi, maka dokter menunda melakukan infusi lagi.

Lagi-lagi aku meminta dokter untuk mengijinkanku tetap di rumah sakit paling tidak sampai Sabtu ini, karena tujuanku adalah ingin mengetahui jumlah hari yang diperlukan antara infusi terakhir dengan kebocoran berikutnya sehingga re-infusi diperlukan. Jika Sabtu ini tetap tidak ada kebocoran dan jumlah air ketuban paling tidak tetap sama, maka aku akan bersedia untuk pulang. (Infusi terakhir adalah hari Sabtu lalu. Jadi kalau paling tidak setelah satu minggu – Sabtu ini – tidak ada kebocoran, maka aku akan merasa aman untuk pulang dan kontrol rawat jalan seminggu sekali).

Dokter memujiku. “Ibu ini hebat banget deh… Sabar banget! Segala cara dicoba. Anak-anak di rumah juga sabar nunggu Ibu-nya. Suami juga. Ini kalau orang tuanya udah begini, bayinya harus sabar juga dan bertahan nih… Kalau nggak, nanti saya pukul dia…!”, kata dokter sambil bergurau.

Aku bertanya ke dokter apakah benar bayi bisa bertahan hidup di luar rahim pada usia kehamilan minimal 24 bulan (24 bulan adalah hasil googlingku). “Wah, jangan Bu… ngeliatnya kasihan… paling nggak 32 minggu lah atau 1 kilogram”, jawabnya.

So, if God is willing to trust us with this miracle baby, I pray that at least we can hang on until 32 weeks. Ten weeks to go!

Masih ada jejak sisa darah kering di luka operasi. Perawat ruang periksa meminta perawat kamar inap-ku untuk membersihkannya dengan sempurna setiap hari. Sejak itu, luka operasiku dirawat lebih seksama oleh para perawat.

Suamiku memberi ide untuk aku menjalani tes air ketuban (amniocentesis) sekalian saat amnioinfusion dilakukan kelak. Tapi aku menolaknya.

Yes. Strict bedrest. Perhaps that is the key. I really can rest here. Husband said if no leakage and water increase without infusion, it means the right method for me is strict bedrest. He plan for me to stay at other apartment unit so I can really rest, without kids disturbing me. (Kids like to jump on my bed and play on bed with me if i stay in my current apartment with them).

[22+4] Sabtu, 1 September

USG lagi sore ini. Karena semuanya masih stabil, sesuai rencana sebelumnya maka aku harusnya pulang hari ini. Tapi mendadak suamiku minta dokter untuk perpanjang lagi sampai Senin, karena ia perlu waktu untuk menyiapkan tempat bedrest untukku, tempat yang terpisah dari anak-anakku. Ia benar-benar mau menduplikasi lingkungan bedrest rumah sakit semirip mungkin. Jadilah malam itu aku mendaftarkan barang-barang apa saja yang harus ada di tempat bedrest-ku nanti, dan kuberikan daftarnya pada suamiku.

[22+5] Minggu, 2 September

Pagi ini ambil darah untuk pemeriksaan lab. CRP ada di angka 1,4 mg/L dari acuan normal <= 5.0.

[22+6] Senin, 3 September

Entah kenapa suami berubah pikiran. Pagi ini ia bilang kepadaku kalau lebih baik aku tetap tinggal di rumah sakit. Logikanya, kalau level air ketubanku tetap stabil di lingkungan ini, kenapa kita harus mengubah lingkungannya? Aku setuju saja.

Hari ini kebocoran terjadi lagi. Aku mengecek liquid discharge yang keluar menggunakan kertas lakmus. Ternyata benar, itu air ketuban. Tapi aku tidak terlalu kuatir karena keluarnya hanya sekali saja.

Malamnya USG lagi. Air ketuban 3,5 cm one single deepest pocket. Sedikit berkurang tetapi belum cukup untuk membuatku kuatir karena aku pernah ada di situasi yang lebih buruk dari ini. Aku beritahu dokter kalau aku mengalami kebocoran lagi, berwarna kecoklatan. Tapi sama sepertiku, dokter juga tidak kuatir.
Di USG kali ini dokter mengukur berat badan janin (ini tidak seperti biasanya, karena biasanya pengukuran berat janin dilakukan setiap dua minggu sekali). Taksiran berat janin per hari ini adalah 600 gram. The baby keeps growing!

Lagi-lagi dokter menawarkanku untuk pulang, tapi lagi-lagi aku tolak mengingat saran suamiku pagi tadi. Dokter bilang terserah kami saja, tapi tolong jangan marah kepadanya kalau dia tidak melakukan tindakan medis apa pun, karena memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan (aku jadi ingat perkataannya beberapa waktu lalu bahwa metode Celsite juga gagal di kasusku). Aku bilang that’s OK, kami mengerti.

Karena aku belum mau pulang, dokter menawarkan untuk memberiku infusi lewat celsite lagi sekitar 200 cc malam ini atau besok pagi. Dia minta aku bertanya ke suamiku dulu untuk kemudian memberitahu keputusannya ke perawat. Begitu kembali ke ruang rawat, aku WA suamiku. Dia jawab tidak. Then No, it is.

Sekitar jam 10 malam ini vaginal discharge keluar lagi. Ada sekitar dua kali keluaran. Suami berkata “Good we didn’t go home. If water is stable, just maintain the same level, no need to push to increase. As we didn’t do anything, it increased. Better maintain. If water reduce, it is very needed to increase, then we do it.”

Jadilah aku menunggu hingga USG di hari Rabu nanti, untuk melihat seberapa banyak berkurangnya air ketuban yang diakibatkan oleh kebocoran hari ini.

[22+7] Selasa, 4 September

Bocor lagi. Lebih banyak dari kemarin. Dalam hatiku, aku yakin air ketubanku berkurang banyak lagi. Aku ingin menerima tawaran 200 cc infusi itu…

Suamiku akhirnya setuju untuk aku menerima amnioinfusion lagi.

[23+1] Rabu, 5 September

Pagi-pagi suamiku bangun dengan marah dan meninggalkanku dengan kalimat penutup “You make your own decision now!”. Jangan tanya aku kenapa.

Sepanjang sore sampai malam aku menunggu-nunggu panggilan USG yang tak kunjung datang. Ternyata dokter langsung datang ke ruang rawatku untuk melakukan infusi. Saat aku minta USG dulu seperti logika suamiku (jadi bisa tahu before and after-nya), dokter menolaknya dengan alasan jumlah air ketuban pasti tidak banyak berubah dibandingkan jumlahnya Senin lalu karena air ketubanku cenderung stabil sejak seminggu terakhir.

Jadilah infusi dimulai sekitar jam 9 malam. Hanya satu kantong, 500 cc. Aku sebetulnya bingung kenapa tidak 200 cc saja seperti diskusi kami Senin lalu. Tapi aku memutuskan untuk tidak membahasnya.

Aku memutuskan untuk tidak tidur selama infusi berlangsung karena aku ingin memastikan infusi dihentikan sebelum cairan di kantong infus benar-benar habis total. Aku tidak mau lagi mengalami ada udara di selang infus celsite seperti sebelumnya. Karena selang ini terhubung dengan perutku, mengeluarkan udaranya jauh lebih susah. Waktu itu perawat menggunakan suntikan untuk menarik cairan dari ujung selang ke dalam suntikan.

[23+2] Kamis, 6 September

500 cc amnioinfusion selesai jam 3.30 pagi ini tanpa kebocoran. Perawat kupanggil untuk menyetop aliran infus sebelum cairan di kantong infus benar-benar habis seluruhnya. “Ah, sekarang aku bisa tidur dengan tenang”, pikirku. Tapi ternyata aku salah!

Aku terbangun dari tidurku saat beberapa suster datang ke kamarku untuk pergantian jaga sekitar jam 7.30 pagi ini. Kebocoran mulai terjadi lagi! Aku tengok tiang infusku dan kulihat ada perawat di sana yang mengaktifkan aliran infusnya lagi!

“Saya pikir sayang obatnya, Bu… masih ada sedikit ini… sebelum kita ganti kantong baru”.

Aku jawab dengan ketus. “Jangan dijalankan lagi alirannya! Harusnya kan cuma 200 cc, ini sudah lebih! Gapapa obatnya terbuang. Kan memang satu kantong saja! Kan badan saya memang tidak bisa terima cairan banyak-banyak!”, aku nyerocos padahal aku juga tahu perawatnya kemungkinan besar tidak tahu detil tentang perkembangan kasusku ini… Kesel rasanya! Sudah begadang untuk berjaga-jaga supaya selang tidak kemasukan udara seperti kesalahan sebelumnya, eehh… ada kesalahan lain lagi. (Catatan: padahal belum tentu bocornya karena aliran dijalankan lagi. Bisa saja waktunya memang kebetulan bersamaan).

Karena kantong infus memang tidak perlu diganti lagi (hanya infusi 1 kantong saja), ada perawat yang memberi usul ke perawat lain untuk melepas selang infus sehingga badanku tidak lagi terhubung ke tiang infus. Perawat lainnya setuju. Mereka pun keluar dari ruanganku. Beberapa lama kemudian, satu orang perawat datang membawa katup penutup. Ia melepaskan selang infus dan menutup selang pendek di perutku (stopper) dengan katup itu. Tak berapa lama, aku merasa bajuku basah. Aku panggil suster lagi, dan ia membetulkan katup penutup stopper. Aku pun kemudian kembali tidur dengan sedih karena kebocoran ini. Vaginal discharge-nya sangat banyak, dan ada darahnya…

Aku terbangun karena merasa baju di daerah perut dan pinggang kananku basah… Apa ini? Astaga… cairan mengalir dari selang pendek di perutku, yang artinya cairan dari amniotic sac keluar lagi! Stopper-nya tidak menutup dengan sempurna! Aku panggil perawat, dan ia membetulkan pemasangan cap stopper-nya. Duh, aku sungguh kecewa dan sedih di sini… Sudah tidak ada USG untuk mengetahui kondisi before, sudah diinfus lebih dari 200 cc, sudah mengalami kebocoran seperti yang terjadi sebelumnya, sekarang ditambah dengan kebocoran yang tak perlu karena stopper tidak tertutup sempurna!  

Apa bisa dikata… aku hanya bisa menunggu sampai kebocoran berhenti sendiri. Total kebocoran berlangsung sekitar 4-5 jam.

Pagi ini ambil darah untuk pemeriksaan lab. CRP ada di angka 2,0 mg/L dari acuan normal <= 5.0.

Sorenya, sekitar jam 4.30, aku USG dengan dr. Rima. Ia menemukan ada 2 deepest pocket, masing-masing 1,9 cm dan 2,1 cm. Jadi rata-rata 2 cm. Malah turun dari sebelumnya… Celsite infusion failed again! Tapi bayi masih terlihat baik-baik saja. Taksiran berat janin 660 gram.

Malamnya dokter Bowo mengunjungiku. Sekali lagi ia nyatakan bahwa semua usaha yang bisa dilakukan, termasuk Celsite, telah gagal. Tapi dia juga menambahkan, “Tapi bayinya terus berkembang bagus… jadi ya gimana ya… saya jadinya juga nggak tega…”. Ia bertanya apa rencanaku berikutnya. “Tunggu sampai USG Sabtu ini, Dok. Saya akan istirahat dan minum lebih banyak air dan kita lihat hasilnya”, jawabku. Sudah sejak lama kuhapus Terminasi dari daftar opsi yang kupunya…

[23+3] Jum’at, 7 September

Bocor lagi, warnanya masih kemerahan.

Minum 3 liter air putih hari ini, rekor tertinggi. Ini belum termasuk cairan lain misalnya minuman sirup dari menu makanan rumah sakit.

[23+4] Sabtu, 8 September

Pesan gula Stevia di Tokopedia karena di PPROM FB Group banyak yang bilang kalau itu berguna untuk menambah cairan. Sayangnya, karena impor, harus pre-order satu bulan.

Siang ini petugas rumah sakit bagian asuransi mengunjungiku di kamar, menanyakan rencana perawatan. “Ini biayanya sudah sembilan puluh dua juta per hari ini. Asuransi Ibu bertanya kenapa perawatannya lama sekali… Apa Ibu ada rencana untuk menggugurkan bayinya? Karena kalau Ibu keguguran atau melahirkan, asuransi tidak akan bayar karena Ibu tidak punya manfaat melahirkan…”

Aku pun menjawab, “Bayi saya tidak akan digugurkan karena masih berkembang normal sampai sekarang. Saya tahu kok asuransi ga cover Maternity Benefit. Tapi karena saya masih hamil hidup sampai sekarang dan limit asuransi saya masih lebih besar dari biaya saat ini, maka asuransi harus terus meng-cover saya. Kemungkinan saya akan keluar rumah sakit Rabu depan saat usia kandungan saya 24 minggu”.

Hari ini kebocoran terus berlangsung… dan banyak. Dua pembalut night sudah penuh terpakai sampai kebocoran berhenti sekitar jam 4 sore, satu jam sebelum USG dengan dokter. Kenapa ya, setiap kali akan bertemu dokter, kondisi biasanya jadi membaik…

Jam 5 sore bertemu dokter untuk USG. Air ketuban di level 4,6 cm dari 2 pockets, berarti rata-ratanya 2,3 cm. Cukup mengherankan bagaimana air ketuban meningkat – walau hanya sedikit – padahal kebocoran terus-menerus terjadi. Berarti yang kubaca di PPROM Facebook Group ada benarnya: stay calm if you are leaking, as leaking means your body and your baby keep producing fluid. And bleeding is also common in leaking. Another thing, water level is at constant changes. At the moment ultra sound is being conducted, it can be 1 point something, but tomorrow can be less or more.

Aku minta dokter untuk mencabut jarum dan selang pendek yang menggantung di perutku karena aku sudah menyerah untuk celsite amnioinfusion (dokter sudah nyerah dari dulu-dulu).

Aku dan dokter sepakat bahwa Senin akan dilakukan pemeriksaan darah lagi, Rabu akan dilakukan USG lagi. Apa pun juga hasil USG, Rabu itu aku akan pulang karena Rabu itu usia kehamilanku akan sudah 24 minggu (di Amerika, viability bayi adalah 24 minggu). Aku minta dokter untuk memberiku steroid shots saat usia kehamilan 24 minggu Rabu depan sebelum pulang, tapi dokter menolaknya. Ia bilang ia akan memberikannya saat usia kehamilanku 28 minggu karena cabang-cabang paru-paru belum mulai berkembang pada usia 24 minggu. Walau aku baca di Amerika steroid shots diberikan di usia kehamilan 24 minggu, aku terima saja penjelasannya.

Aku dan dokter juga sepakat bahwa, bila waktu persalinan tiba sebelum usia kehamilan 32 minggu, maka aku mengambil pilihan emergency c-section. Taksiran berat janin per hari ini 640 gram; target 1 hingga 1,2 kg.

400 gram away, 4 days away! Just take one day at a time, in hope and peace!

[23+6] Senin, 10 September

Pagi ini ambil darah untuk pemeriksaan lab. CRP ada di angka 1,3 mg/L dari acuan normal <= 5.0.

[23+7] Selasa, 11 September

Diskusi dengan suami. Dia setuju untuk aku check-out Kamis pagi dan melanjutkan bedrest di rumah.

[24+1] Rabu, 12 September

BAYIKU 24 MINGGU! YAAAAY…!!! Tercapai juga viability-nya, walau versi Amerika. Tapi gapapa walau belum versi Indonesia yang 28 minggu. Setiap milestone harus dirayakan. Siapa yang sangka ia bertahan 11 minggu sejak kebocoran pertama kali terjadi di minggu ke-13!

—–

Aku cerita tentang insiden yang terjadi di amnioinfusion terakhir ke suamiku, sehingga akhirnya dia minta untuk aku lakukan amnioinfusion lagi sebelum pulang, kali ini pastikan semuanya berjalan dengan baik: USG dulu sebelumnya, jumlah cairan di bawah 500 cc, pastikan stopper tertutup sempurna.

Sore sekitar jam 6 aku WA dokter panjang kali lebar:

Sore, dokter Bowo!

Maaf kami ada permintaan tambahan sebelum pulang: bagaimana kalau lakukan transabdominal infusion via celsite sekali lagi, tapi kali ini sekitar 300-350 cc saja, lalu stop. USG sebelum dan setelah infusion untuk tahu before afternya. Jadi Rabu malam ini USG, infusion malam ini atau besok tergantung availability dr. Bowo. Lalu dokter Rima USG di Kamis sore. Lalu kami pulang apapun hasilnya.

Ini karena saya masih ada 2 ganjalan waktu infusion yg kali kedua:

Pertama, sebetulnya sejak infusion selesai, tidak langsung bocor lagi spt sebelumnya. Infusi jam 9 malam, selesai jam 3.30 pagi, lalu saya tidur (begadang selama infusi krn takut susternya kelewatan). Waktu itu mmg saya sisakan sedikiiit cairan infusi di kantong infusnya. Lalu saat saya tidur dan terbangun krn pergantian suster, ternyata salah satu suster membuka stopper yg di selang infus yg tergantung krn katanya sayang cairannya. Lalu mulailah bocor terjadi. Ya kemungkinan besar ini cuma kebetulan saja sih… Tapi jadi membuat saya kurang sreg dan jadi bertanya “what if…”

Kedua, setelah saya bilang stoppernya jangan dibuka lagi krn belajar dr pengalaman sebelumnya saya ga bs terima infusi banyak2, suster memutuskan untuk lepas selang infus dan pakai stopper yg diperut saya saja. Suster menutupnya dgn cap. Tidak brp lama, saya merasa perut saya basah. Ternyata air keluar dr dalam perut lewat selang krn cap stopper tdk menutup rapat. Suster lalu perbaiki capnya. Lalu saya tidur tapi terbangun sekitar 1 jam kemudian krn baju dan sprei saya basah. Ternyata cap nya masih belum menutup sempurna!

Dibetulkan lagi, dan kali ini tidak bocor lagi.

Jadi cairan keluar tidak hanya lewat vagina tapi juga lewat stopper yg mana seharusnya bisa dihindari.

Water level drop dari 3.5 di Senin ke 2 cm setelah infusi rabu saat di USG kamis.

Karena inilah saya mau coba sekali lagi, tapi dengan prosedur yg lebih baik lagi.

Setelah itu saya beneran pulang deh, Dok J

—–

Apa yang terjadi?

Sekitar jam 9 malam dokter datang ke kamarku untuk melakukan amnioinfusion. No ultrasound again! Aku tanya kepadanya kenapa tidak lakukan USG dulu, tapi ia mengatakan bahwa hasilnya tidak akan jauh berbeda dari USG sebelumnya. Jadilah akhirnya aku langsung menerima infusi sebanyak 300 cc. Infusi selesai jam 10 malam. Perawat melepas selang yang menghubungkan perutku dengan tiang infus, dan memasang cap di stopper yang menggantung di perutku. Kali ini aku pastikan cap terpasang sempurna.

Begitu suamiku tahu tidak ada USG, dia terlihat kesal. “Why guessing? It’s already long time no ultrasound!”

[24+2] Kamis, 13 September

Untuk memastikan aku mendapatkan tindakan USG “after” (karena “before”-nya sudah tidak dapat), jam 08:42 pagi aku WA dokter Bowo:

“Pagi, dokter Bowo! Semalam infusion dari jam 9-10. Jam 12 bocor sedikit sampai jam 1 pagi. Cukup bening, tidak terlalu coklat/merah seperti sebelumnya. Sore ini saya jadinya USG dengan dr. Rima kan ya, Dok? Untuk cek water level untuk menyimpulkan apakah infusion semalam ada pengaruhnya.”

“Iya”, jawab dokter singkat.

—–

Hasil USG sore ini menunjukkan air ketuban di angka 2,6 cm (rata-rata dari empat kuadran) naik sedikit dari USG sebelumnya yang 2,3 cm (average two deepest pocket). Berat bayi 700 gram. Plasenta masih bekerja dengan baik. Detak jantung bayi normal.

Karena hanya dokter Bowo yang bisa mengeluarkan Discharge Letter untukku, maka sore itu aku langsung WA dokter Bowo: melaporkan hasil USG, memberitahunya kalau hari ini aku sudah bersedia pulang, dan mengingatkannya kalau jarum di perutku belum di cabut.

“Sore bu. Jarum infus bisa dicabut kapan saja. Ibu bisa pulang kapan saja. Surat-surat bisa saya bereskan saat praktek Sabtu”, jawabnya.

Walah, aku tidak mau pulang ke rumah masih bawa-bawa jarum menggantung di perutku. Lagipula, mana bisa asuransi membayar biaya rawat inapku kalau tidak ada Discharge Letter. Jadilah ku jawab, “Kalau begitu saya pulang Sabtu saja ya, Dok… Biar semua urusan sekaligus beres (admin, obat, cabut jarum)”.

“OK”, balas dokter.

Yay, I will be going home this Saturday!

[24+3] Jum’at, 14 September

Malam ini mendadak dokter datang ke kamarku, meminta formulir asuransi yang harus diisinya untuk keperluan kepulanganku besok. Aku beritahu dia bahwa tidak ada formulir khusus. Cukup Resume Medis dan Discharge Letter biasa yang dikeluarkan oleh rumah sakit. Syukurlah saat itu kebetulan suamiku ada di tempat, jadi dia bisa diskusi juga dengan dokter.

Dari diskusi itu, akhirnya dokter tahu bahwa asuransi kami hanya bayar rawat inap selama bayi masih hidup di kandungan. Begitu ujungnya melahirkan atau keguguran, maka biaya rawat inap sejak hari pertama harus kami yang bayar. Karena itulah suamiku sebetulnya ingin aku di rawat inap terus semaksimal mungkin sampai hari-hari terakhir, karena keluar-masuk rumah sakit untuk rawat inap cukup merepotkan dalam hal admission. Gayung pun bersambut. Dokter mengatakan bahwa tadi saat ia membaca rekam medisku, ia memperhatikan bahwa pertambahan berat bayiku cukup cepat. Jadi bagaimana kalau ia berikan nutrisi yang bagus untuk bayiku selama seminggu ke depan, supaya bayi lekas mencapai 1 kilogram sehingga siap untuk dilahirkan? Kelahirannya lebih baik dipercepat karena kebocoran masih terus terjadi.

Begitu mendengar tawaran ini, tanpa berpikir aku dan suami langsung menyetujuinya. Jadilah sejak malam itu kantong cairan berwarna-warni – ada yang merah, ada yang kuning, ada yang putih susu – menggantung di tiang infusku.

[24+4] Sabtu, 15 September

Pagi ini ambil darah untuk pemeriksaan lab. CRP ada di angka 2,0 mg/L dari acuan normal <= 5.0.

Tidak ada USG hari ini. Sepertinya karena kemarin dokter sudah visitasi.

[24+6] Senin, 17 September

Aku merasa lemas hari ini, entah kenapa. Aku tidur hampir sepanjang hari karenanya.

Entah kenapa hari ini juga tidak ada panggilan untuk USG. USG terakhir hari Kamis minggu lalu dengan dr. Rima.

Malamnya, dokter Bowo melakukan visitasi, kebetulan ada suamiku. Suamiku memaksa dokter untuk melakukan USG. Dokter bilang ruang prakteknya, tempat mesin USG berada, telah terkunci. Tapi suamiku tetap memaksa untuk cek apakah pintu bisa dibukakan.

Akhirnya, dr. Bowo membawa mesin USG masuk ke ruanganku. Bukan mesin yang biasa ada di ruangan prakteknya, tapi yang penting mesin USG. Jadilah aku di USG di dalam kamar perawatanku, bukan di ruang prakteknya seperti biasa.

Malam itu, perutku mulai terasa sakit seperti sakit kontraksi…

[24+7] Selasa, 18 September

Aku terbangun jam 4 pagi dan tidak bisa tidur lagi. Perutku terasa kram, sakit setiap 2,5 sampai 4 menit (aku hitung dengan timer di handphone).

Dokter jaga mengecekku pagi ini. Ia memintaku untuk makan obat pagiku dulu, baru kemudian dia akan observasi lagi. Kalau masih sakit, ia akan memberiku pain killer lewat anus.

Siangnya aku merasa baikan. Masih terasa kontraksi/kram, tetapi sakitnya berkurang dan jedanya semakin jarang. Akan tetapi, vaginal discharge terus keluar…

Sorenya, aku USG dengan dr. Rima untuk mengonfirmasi hasil USG kemarin yang dilakukan dengan mesin USG jadul. Taksiran berat janin per hari ini 752 gram. Saat memegang badanku, dr. Rima merasa suhu badanku agak tinggi sehingga ia meminta perawat untuk mengeceknya dengan termometer. Ternyata benar, aku mulai demam. Suhu badanku 37,7 derajat celcius. Sepertinya infeksi. Suamiku meminta pemeriksaan sampel darah dilakukan hari ini juga, hasilnya dilihat dokter hari ini juga, dan bila memang terbukti infeksi, maka obat antibiotik harus diberikan hari ini juga. Dokter menyanggupi.

Jam 18:45 petugas lab mengambil sampel darahku. Hasilnya, CRP sudah ada di angka 33,4 mg/L dari acuan normal <= 5.0. Cepat sekali! Tiga hari yang lalu masih normal.

Malam itu juga cairan infusku ditambah dengan obat antibiotik, antikontraksi, dan entah apa lagi.

Tengah malam, suamiku terbang ke luar negeri untuk business trip.

[25+1] Rabu, 19 September

[07:37] Hi. Thank God the medicine work! The contraction has stopped at around midnight. Liquid is still coming but at least no excruciating pain. My temperature this morning is 35.8 degree celcius. Yesterday nurse said doctor planned to clean my vagina today. I hope the pain won’t come back.

[08:17] Btw, just went to toilet. The color of my vaginal discharge is still green. I hope it will turns brown soon…

[22:15] Hi. Vaginal discharge is still coming continuously everyday. But it becomes more watery (not mucus) and color starts to be more brownish instead of green.

Stomach pain come again today, though not as excruciating as last Tuesday.

This evening doctor cleaned my vagina. He said cervic was still close. The pain was from infection, not labor pain. My lab result shows infection, but still at level where immediate delivery is not urgently required.

Doctor prescribed steroid for baby lung development and magnesium for baby brain development and another antibiotic. The nurse is going to give me that medicine tonight via IV drip 8 hours speed level (quite fast). Doctor said side effect of magnesium was that I would feel hot. The whole body. No matter how low AC temperature is, I would feel hot. I hope I can survive tonight, with the stomach pain and hot body temperature…

Today I feel pain and also weak. So I slept quite a lot. Not done any work today. Sorry. Hopefully tomorrow getting beter. Doctor said the medicine for infection should help reduce the pain. I hope they do.

[25+2] Kamis, 20 September

Sakit di perut sudah mulai menghilang pagi ini. Paling tinggal hot/burn sensation di seluruh badan terutama di dada karena efek samping dari infus magnesium. Nggak apa-apa, demi bayiku!

Hari ini vaginal discharge masih terus keluar, tidak ada napsu makan, badan terasa lemah saat berjalan dari dan ke toilet. Aku banyak tidur hari ini saking lemahnya.

Malamnya, sakit perut seperti kontraksi terasa lagi.

[25+3] Jum’at, 21 September

Pagi harinya ambil darah untuk pemeriksaan lab. CRP masih terus meningkat, kali ini di angka 45,4 mg/L dari acuan normal <= 5.0.

Sekitar jam 12 siang, heavy bleeding mulai terjadi. HEAVY. and BLEEDING. Dokter segera diberitahu, dan obat-obatan tambahan untuk mengatasi pendarahannya segera diberikan.

Bleedingnya serupa dengan yang pernah kualami sehari sebelum aku masuk rawat inap tanggal 18 Agustus, saat aku berkata ke suamiku “I think I’ve lost the baby”. Saat itu, ternyata USG menunjukkan unmeasurable water level. Mungkinkah ini kasus yang sama? Tapi saat itu perutku tidak sakit. Kalau yang sekarang ini perutku sakit sekali. Rasa sakit perutnya seperti kontraksi yang kualami dua hari sebelum melahirkan anak pertamaku…

4. Decision to Make

[18+7] Selasa, 7 Agustus

Amnioinfusion or Cell Cyte; that is the question.

Aku bingung. Dari pembicaraan dengan dokter kemarin, aku bisa lihat bahwa ia tidak terlalu prefer opsi amnioinfusion lewat jarum suntik. “Jarumnya saja harganya lima juta, Bu… sedangkan biaya mengerjakannya paling cuma dua kali lipat dari USG…”. Tapi aku juga tidak yakin dengan cell cyte. Kemarin dokter bilang hanya ada 3 center di dunia yang bisa melakukan metode ini. Aku, apalagi suamiku, tidak percaya. Really? Indonesia is one of them? Aku juga googling tentang metode ini dengan berbagai ejaan: cell site, cellsite, cell cyte, cellcyte, tapi tidak ada satu pun informasi tentang hal ini di internet. Aku tidak mau jadi kelinci percobaan…

Aku kemudian teringat prinsip yang diajarkan suamiku: mintalah opini dari profesional yang tidak akan mendapatkan keuntungan dari opininya tersebut. Aku jadi ingat aku punya teman SMP yang pintar yang sekarang bekerja di rumah sakit sebagai SpOG. Suaminya juga SpOG. Aku kontak dia dan minta pendapatnya akan 3 opsi: terminate, let it be, atau final effort. Jika final effort: suntikan atau cell site/cell cyte. Dr. Anita memberikan insight yang sangat bermanfaat sekali berdasarkan ilmu dan pengalamannya. Hanya saja, sama sepertiku, dia juga belum pernah mendengar tentang metode cell site.

Today’s googling. Oh, the Conclusions! I think I can go with transabdominal amnioinfusion!

[19+1] Rabu, 8 Agustus

Suamiku mengingatkan untuk aku segera mengambil keputusan.

Terminate or Full Effort; that is the question. Let It Be sudah out of question, karena aku tidak bisa hanya pasrah. Resiko medisnya juga terlalu besar. Hampir pasti ingin Full Effort, tapi juga masih sedikit terpikir untuk terminate. ‘Kan aku sudah berusaha menaikkan jumlah air ketuban dengan rawat inap waktu itu tetapi gagal? Mungkin sekarang saatnya untuk menyerah. Hemat waktu, hemat biaya, hemat tenaga dan emosi jiwa. Selama masih ada sedikiiittt saja pikiran untuk terminate, rasanya aku belum mantap untuk full effort berikutnya, entah itu amnioinfusion atau cell site (or whatever the name is). OK, why don’t I ask uncle google again…

Googling lagi, cari teman sepenanggungan lagi, dan menemukan ini:

PPROM di usia kehamilan 14 minggu, sama denganku! Ada harapan…

Googling lagi, googling terus, dan akhirnya lelah sendiri. Dari dulu aku sudah baca BabyCenter, WebMD, jurnal-jurnal penelitian berbahasa medis, blog ibu-ibu, quora, dan lain-lain, dan lain-lain. Tapi pada akhirnya aku tidak bisa mengambil keputusan juga, karena apa yang kubaca kadang berbeda, bertentangan satu dengan lainnya. Namanya juga pendapat orang… Tapi jurnal-jurnal penelitian juga dengan gamblang menyatakan limitasi penelitian mereka dan rekomendasi mereka untuk penelitian selanjutnya supaya hasilnya lebih terpercaya. Kalau begitu, kemana aku harus mengacu? Tulisan apa yang memiliki otoritas dan bisa kupercaya?

Ah, stupid me! Bible, it is!

Ku buka aplikasi Holy Bible di handphoneku, dan tercenung. Mulai dari mana? Bible itu tebal… Apa yang ingin kuketahui? Bahwa aborsi itu tidak disukai Tuhan?

Akhirnya kupikir aku ingin mengetahui apakah janin di dalam kandungan diperhitungkan, diperhatikan Tuhan. Maka aku search Bible dengan kata kunci “womb”, dan ku baca hasilnya.

Oh, I will definitely keep the baby! As long as the baby has a heartbeat, I will continue fighting!

—–

Hari ini Johnson demam dan mulai batuk. Aku nekat saja menuruti permintaannya untuk tidur bersamaku malam ini. Kasihan dia, lagi sakit…

[19+2] Kamis, 9 Agustus

Aku kini sudah mantap untuk melanjutkan perjuangan mempertahankan kandunganku. Dan karena informasi tentang cellsite tidak bisa kudapatkan, maka aku mengambil keputusan untuk mencoba transabdominal amnioinfusion yang lewat suntikan. Suamiku setuju saja, karena memang sejak keluar rawat inap ia terus mengatakan “OK lah, up to you”. Mungkin karena orang tuanya terus menyarankan untuk terminasi, demi kepastian kelangsungan hidupku…?

“Dgn kondisi gw saat ini, semua dokter sebetulnya menyarankan terminate… Jadi saran mertua adalah untuk kebaikan gw. Mrk takut gw infeksi dan mati. Nah, suami percaya banget sama ortunya, secara mrk dokter dan perawat. Gw mengerti suami sekali. Gw juga kasihan lihat dia kerja sendiri dari pagi sampai malam… Dia sampai sempat bilang ‘dosanya gw yg tanggung. Kan gw suaminya, lo ikut gw’. Tp dia blg ini cuma sekali. Abis itu dia selalu bilang ‘terserah kamu lah…’. Dia pasti stres. Gw juga stres. Tlg doakan suami gw juga ya.”

~my prayer request to a concerned friend today

Pagi ini ku WA dokterku, memberitahu keputusanku.

“…Mohon info kapan harus ke RS lagi untuk treatment selanjutnya.”

“Maksudnya yang dipasang celsite atau yang hanya 1x amnioinfusion?”

“Yang 1x. Mau coba yang itu dulu. Kalau yang 1x ini gagal, masih bisa opsi celsite kan ya, Dok?”

“Insyaa Allah masih bisa. Besok siang jam 13, bisa di Jl. Kimia.”

Dari WA ini, aku dapat nama metodenya: celsite! “L”-nya satu dan nyambung dengan “site”. Langsung ku gooling “celsite”, and I got it! Ternyata Cellsite Access Ports adalah nama brand dari alat kesehatan.

Malamnya aku update Anita, memberitahunya bahwa aku memilih transabdominal amnioinfusion yang versi suntik. Aku juga memberitahunya kalau metode yang satu lagi ejaannya ternyata celsite. Pantas aku tidak menemukan informasinya di internet dengan kata cell site, cellsite, cell cyte, cellcyte, atau cell sites.

Tak lama kemudian datang balasan dari dr. Anita, menjelaskan:

“Tadi gue coba liat alat cellsite itu, alatnya mirip double lumen yang biasa dipake suami gue kalo bikin port access buat pasien yang cuci darah. Dimasukkin ke lumen, trus katubnya ditanam di bawah kulit. Jadi kalau diperlukan, tinggal dimasukkan melalui katub itu, ga perlu sampai dalam lagi. Aksesnya lebih superfisial jadi lebih ga traumatis… Jadi katub disambungkan dengan tube, pake guidance dimasukkan ke dalam amniotic sac. Ujung tubenya ditinggal di dalam, katubnya ditanam di bawah kulit biar ga gampang infeksi. Ada juga yang katubnya di luar, tapi kata suami gue yang ini biasanya bertahan kira-kira 3 bulan karena risiko infeksi. Kalo ditanam, biasanya lebih aman. Karena ditanamnya transabdominal, jadi menembus otot rahim, sehingga setelah masuk lewat otot ke dalam amniotic sac, otot rahimnya akan menjepit tubenya, sehingga tidak ada kebocoran lagi yang lewat tempat masuknya. Beda kalau transvaginal. Karena ga ada ototnya, makanya pasti akan bocor. Kalau nalarnya sih, bisa dicoba.”

Hmm… berarti cara celsite ini memang logis untuk ditempuh. Tapi karena sudah terlanjur bilang dokter bahwa aku ambil yang metode suntikan, maka ku pikir tak perlu lah berubah pikiran. ‘Toh tadi kata dokter kalau metode suntik gagal, masih bisa coba metode celsite. Bagaimanapun, prinsipku tidak operasi lebih baik daripada operasi. Pemasangan celsite adalah major surgery karena membuka perut…

—–

Hari ini Doppler pemberian Leo dan Jully sudah tiba. Aku dan anak-anak excited mencobanya; bahkan babysitter-nya Jackie pun ingin mencobanya! Ah, ternyata semuanya pada doctor wanna be

Karena doppler ini, anak-anakku jadi tahu kalau ada adek bayi di dalam perutku…

[19+3] Jum’at, 10 Agustus

Hasil googling pagi ini. Bagian Conclusions-nya membuatku makin mantap melakukan amnioinfusion siang nanti.

Sebetulnya aku tidak terlalu mengerti kalimat “…fluid loss within 6 h after infusion is the main variable in predicting pulmonary hypoplasia and neonatal survival”. Apa maksudnya “fluid loss”? Apa itu “pulmonary hypoplasia”? Aku tidak googling lebih jauh lagi…

Side Note:

Saat perjuangan melawan PPROM berakhir dan aku menuliskan tulisan ini, barulah aku mengerti bahwa inilah yang terjadi pada anakku Glassy. Science sudah bisa memprediksi outcome-nya…

—–

Jam 1.30 siang ini aku dan suamiku ke Klinik Gulardi di Jl. Kimia untuk transabdominal amnioinfusion. Karena tegang (dan juga lapar), di ruang tunggu aku makan mangga potong saja yang ku bawa dari rumah. Saat dokter melewati ruang tunggu ia melihatku dan berkata, “Ibu! Kok mau infusi malah makan…?!” “Oh, nggak boleh ya, Dok?”, jawabku sambil buru-buru menutup kotak makanku.

Tindakan medis dilakukan di kamar periksa biasa, di tempat tidur periksa biasa, tanpa obat bius. Dokter menunjukkan dua macam jarum kepadaku dan suamiku, keduanya masih dalam kemasan. “Jarum yang ini buatan lokal, harganya sekian rupiah (berapa ya? Aku lupa. Di bawah satu juta sepertinya). Kalau yang ini impor, harganya sekitar lima juta rupiah, FDA approved. Ibu mau yang mana?”. Karena dokter sudah pernah memberitahu kami sebelumnya tentang biaya amnioinfusion, maka kami memang datang ke situ sudah siap dengan resiko harga jarum doang lima juta. “Yang FDA approved”, jawabku dan suamiku cepat.

Dokter kemudian membuka kemasan jarum yang kupilih. Ternyata ada dua jarum di dalamnya. Jarumnya panjang! Jarum terpanjang yang pernah ku lihat! Dokter mengamati jarum-jarum itu dengan seksama dan bertanya lagi kepadaku. “Ini ada dua jarum, yang tajam dan tumpul. Yang tajam nggak terlalu sakit saat ditusukkan, tapi bisa beresiko bagi bayi. Yang tumpul sebaliknya, lebih sakit saat ditusukkan, tapi aman bagi bayi”. Busettt… susah amat ya pilihannya… mendingan ditanya pilihan harga. “Yang tumpul aja, yang aman buat bayi saya”, jawabku.

Dokter kemudian mengangkat jarum yang kupilih, dan mencoba menusuk-nusukkannya di perutku sebagai ancang-ancang sebelum menusukkannya beneran. Aku tegang sekali karena percobaan penusukan itu (belum ditusuk beneran) terasa sakit! Ingin rasanya aku bangkit dari tempat tidur, pulang ke rumah, cuci kaki dan tidur. Pilih opsi let it be saja. Atau opsi terminasi. Nggak perlu bersakit-sakit begini, bersusah-susah kemudian. Tapi aku tahu no turn back. Aku sudah mengambil keputusan, dan dasar pengambilan keputusannya kuat.

“Bu”, dokter menyebut namaku sehingga aku terlepas dari pikiranku untuk sejenak.

“Saya ganti jarumnya pakai yang tajam ya. Kalau saya pakai yang ini pasti sakit banget nih…”.

“Bayinya gapapa?”, tanyaku.

“Nggak papalah. Kan kalaupun terkena bukan tertusuk, Bu. Tapi terserempet saja”, kata dokter sambil memperagakan yang dia maksud dengan ‘terserempet’.

“OK, Dok. Saya ikut ‘aja”, jawabku sedikit lega. At least yang memilih jarum yang tajam bukanlah aku!

Akhirnya, jarum pun ditusukkan berdasarkan panduan dari layar monitor USG. Semakin dalam jarum ditusukkan, rasanya perutku semakin tertekan. Tekanan ini membuatku terasa mau BAB atau seperti mau melahirkan. Tekanan yang terasa aneh dan sangat tidak nyaman.

Setelah jarum masuk dan berhenti pada tempatnya, selang infus disambungkan ke sana dan infusi-pun dimulai. Jumlah cairan yang dimasukkan hanya sekitar 200 cc karena dokter berkata kalau terlalu banyak nanti takutnya bayi akan kaget. Setelah masuk 200 cc, monitor USG menunjukkan jumlah air ketuban memang meningkat. Aku lega melihatnya.

Karena cairan infuksi sudah terbukti berhasil masuk, maka dokter pun mencabut jarum yang tertancap di perutku. Tapi ternyata, begitu jarum tercabut, cairan dengan deras mengalir keluar dari vaginaku! Deras… seperti kalau buang air kecil. Sejak aku mulai bedrest, aku hanya perlu menggunakan panty liner, bukan pembalut, karena vaginal discharge jauh berkurang. Karena itu, hari ini aku juga hanya mengenakan panty liner. Dengan cepat panty linerku terasa basah. Celana panjang yang kupakai pun terasa basah. Bidan yang mendampingi dokter mencari pembalut untukku. Aku pun ke toilet di temani suami dan bidan untuk mengganti pembalut. Bidan harus menyertaiku karena dokter ingin mengetahui seberapa banyak cairan keluar. Vaginaku bagaikan keran yang tidak menutup sempurna. Cairan menetes-netes dari sana dengan cepat. Warnanya pink dan bercampur darah. Selama aku mengalami PPROM, vaginal discharge-ku selalu berwarna kecoklatan, belum pernah pink seperti ini. Itu adalah pemandangan yang mengerikan bagiku…

Wajah dokter terlihat kuatir, karena ini mengonfirmasi bahwa aku memang mengalami amniotic sac rupture. Ia memintaku datang kembali besok untuk pengecekan jumlah air ketuban yang tersisa. Dari sekitar 200 cc yang masuk, ia memperkirakan yang keluar sekitar 50 cc. Jadi harusnya masih ada air yang tersisa. Aku pun pulang, membawa bekal obat antibiotik yang diresepkannya.

Di perjalanan pulang, suamiku menyetir dengan serampangan seperti mau pulang ke surga. Ia mulai marah kepadaku karena hari ini aku menggunakan sepatu high heel yang biasa aku pakai kalau ke kantor dan karena kemarin malam aku tidur dengan anakku yang sedang sakit. “Jangan kamu pikir kalau kamu bisa bayar maka kamu akan sehat. Kesehatan itu juga tergantung dari pasien!”.

High heel yang kupakai paling cuma 3 cm. Dan itu Rockport. Hari itu untuk pertama kalinya aku memakai celana panjang hamil bagus warna hitam untuk kantoran yang kurung celananya cukup lebar. Skechers warna pink-ku sangat tidak matching dengan celana itu. Jadilah kuputuskan pakai Rockport hitamku. Tapi aku tidak menjelaskan ini kepada suamiku, karena aku sadar ini memang terdengar bodoh… Jadi aku hanya diam dan pasrah saja duduk di dalam mobil yang berlari sprint serampangan. Stres karena kebocoran air ketuban yang baru saja terjadi menutupi rasa takutku akan terjadi kecelakaan. Syukurlah kami bisa sampai di tempat parkir apartemen dengan selamat. Sejak saat itu, suami cenderung cuek dan selalu bilang “up to you” atau “you choose, it’s your health” kalau aku mencoba mendiskusikan kehamilan ini.

Malamnya, beberapa jam setelah infusi, kebocoran mulai berhenti. Aku ingat dokter mengatakan dari 200 cc yang masuk, paling hanya sekitar 50 cc yang keluar. Tapi aku tahu, ini jauh lebih banyak dari 50 cc. Kepastiannya akan aku dapatkan besok saat USG…

[19+4] Sabtu, 11 Agustus

Suami terlambat pulang ke rumah untuk menjemputku untuk kemudian bersama-sama pergi ke rumah sakit. Jam 4:45 sore kami baru sampai di poli rawat jalan – dari yang seharusnya paling lambat tiba jam 4 sore – dan ternyata dokter sudah selesai praktek. Sepertinya hari ini pasien tidak sebanyak biasanya. Karena besok hari Minggu, maka waktu tercepat untuk bertemu dokter lagi adalah di hari Senin, dua hari setelah infusi. Aku kesal sekali mengingat waktu yang terbuang. Tapi memang ada faktor high heel di sini, jadi apa mau dikata…

Malamnya aku kontak teman dekat yang seingatku memiliki anak lahir prematur. Aku ingin tahu usia kehamilannya waktu itu, berat bayinya, dan seberapa lama bayi harus di NICU, sebagai benchmark untukku. Ternyata yang melahirkan prematur adalah adiknya. 35 minggu, berat bayi 2,4 kg, di NICU 2 mingguan. Ah… sudah lumayan besar ternyata ya…

[19+6] Senin, 13 Agustus

Hari ini aku melanggar aturan bedrest. Pagi-pagi aku dan suamiku pergi ke bank karena ada urusan yang maha penting terkait suamiku. Dia terlihat happy karena urusannya beres. Aku jadi ikut happy juga.

Sorenya kami pastikan untuk tidak datang terlambat ke rumah sakit untuk periksa kandungan paska transabdominal amnioinfusion Jum’at lalu. Seperti sudah aku duga, hasilnya tidak menggembirakan. USG menunjukkan bahwa cairannya tinggal sedikit. Jumlah cairan memang bertambah dibandingkan sebelum infusi – dari 1,5 cm (single deepest pocket) menjadi 2,4 cm – tapi ini tidak cukup karena air bagaimana pun akan berkurang lagi ke depannya. Untuk mempertahankan jumlah air ketuban, maka infusi harus dilakukan lagi (serial amnioinfusion). Dokter terlihat keberatan untuk melakukan amnioinfusion dengan metode suntik lagi. “Ibu memangnya mau ditusuk-tusuk lagi perutnya kayak gitu?”, tanyanya retorik.

Opsi Full Effort terakhir adalah pemasangan Celsite dan pengikatan mulut rahim (cervical cerclage/stitch). Dokter mengirim kami pulang untuk memikirkan opsi terakhir ini.  

[19+7] Selasa, 14 Agustus

Suami menawarkan apakah aku mau nonton film di Epiwalk. “We need to relax”, katanya. Aku sebetulnya bingung kenapa dia menawarkan ini. Bukankah dia mengharuskanku strict bedrest? Is this a test?

Ku memilih untuk percaya padanya. Jadilah kami ke Epiwalk malam ini, nonton The Meg-nya Jason Statham.

[20+1] Rabu, 15 Agustus

Pagi ini aku memberitahu suamiku kalau aku akan mengambil opsi Celsite dan suamiku setuju (terserah aku saja, tepatnya).

Aku kemudian WA dr. Bowo. “Kami putuskan untuk mengambil opsi Celsite. Tolong pesankan alat yang bagus ya, Dok. Saya nantikan informasi untuk langkah selanjutnya, yaitu kapan saya harus ke RS Bunda. Terima kasih.”

“Iya bu”, balasnya singkat.

Today morning I told my husband I wanna take celsite option and he agreed. I have informed doctor and now am waiting for info from him about when should I come to hospital. He needs to order the device first. I will be hospitalized for 3 days, but husband said he prefer at least 1 week so we have time to observe the water reduce again and refill it again.
Oh, the surgery will not only to install Celsite, but also to stitch my cervical canal (to reduce leakage flow), in the hope that the amniotic sac membrane will reseal by itself. 
Anyway, whatever infusion method we choose, we know it will leak again. So serial infusion is required.Needle transfusion is too complex to perform. 
Doctor doesn’t guarantee baby will survive. We understand that. I just cannot terminate my baby alive…Although all family members, including husband, want me to choose that option.But at least they dot force me.
I pray to God that baby, if survive, not to have long term and permanent disability… I don’t think i can take that burden, if without family support…
Yup, baby is overweight by one week! Everything looks normal until now.

~Today’s update for my Small Group friends

[20+2] Kamis, 16 Agustus

Tidak ada kabar dari dokter.

[20+3] Jum’at, 17 Agustus

Jam 11:28 siang, aku putuskan untuk WA dokter lagi untuk follow-up jadwal operasi. “…Apakah sudah ada info mengenai tanggal berapa saya harus ke RS untuk rawat inap untuk celsite surgery?…” Dokter cepat membalas, “Hari ini bisa. Besok bisa.”

Aku kaget. Hari ini bisa? Lah untung aku inisiatif kontak dia lagi. Hari ini bisa? Mendadak banget ya. Apakah memang operasi langsung bisa diadakan? Tidakkah perlu surat pengantar dokter untuk bisa check-in? Dokter tidak ada jadwal praktek hari ini. Bagaimana aku bisa mendapatkan suratnya?

Setelah tek-tok diskusi dengan dokter, akhirnya kami sepakat untuk aku masuk rawat inap malam ini juga untuk operasi besok pagi. Surat pengantar rawat inap untuk keperluan asuransi bisa aku ambil di bagian Admission rumah sakit setelah jam 19:30 karena kebetulan dokter ada urusan di rumah sakit bada magrib atau isya.

Suami, entah kenapa, mengajak nonton film lagi. Sebetulnya aku agak reluctant karena aku merasa lemas dan vaginal discharge kembali keluar lebih banyak dari biasanya sehingga aku harus memakai pembalut, bukan sekedar panty liner. Tapi karena kupikir suami yang menginginkannya, bahwa this is not a test, dan bahwa ini hari terakhir sebelum rawat inap lagi, akhirnya ku iyakan. Jadilah kami ke Epiwalk untuk nonton The Equalizer-nya Denzel Washington jam 16:45. Vaginal discharge terus mengalir saat aku nonton film.

Sepulang nonton kami kembali ke apartemen sebentar untuk packing. Sampai rumah sakit, ternyata suratnya tidak dititipkan di Admission, dan ternyata dr. Bowo masih ada di rumah sakit, sedang mengoperasi pasien. Jadilah kami menunggu dokter selesai operasi. Begitu bertemu dokter, ia menginformasikan kalau ternyata kamar operasi penuh besok pagi! Slot tercepat yang tersedia adalah besok jam 5 sore. Jadilah kami pulang lagi ke rumah malam itu… tapi paling tidak surat pengantar masuk rawat inap sudah ada di tanganku.

Saat bertemu dokter, aku juga menyampaikan kalau kebocoran mulai terjadi lagi. Tapi ia mengatakan tidak apa-apa, operasi masih bisa dilakukan.

Malamnya, kebocoran terus berlanjut. Aku merasa bayiku lebih aktif dari biasanya dan aku tidak bisa tidur… I know something unusual is happening…

Paginya, seperti biasa aku ke toilet. Betapa kagetnya aku saat melihat bahwa pembalutku sudah penuh berisi darah seperti kalau haid. Darah warna merah, bukan lagi kecoklatan. This is alarming, as bleeding might means miscarriage. Dengan gemetar karena kuatir dan sedih, aku memberitahu suamiku. “Ba, I think I’ve lost the baby…”

Kami sepakat untuk datang rawat jalan dulu ke dokter pagi ini untuk mengetahui kondisi bayi dan untuk memastikan apakah memang operasi masih perlu dan masih bisa dilakukan. Aku WA dokter memberitahunya tentang kondisiku saat ini dan bahwa kami akan datang rawat jalan dulu, dan ia menjawab “Iya”.

[20+4] Sabtu, 18 Agustus

Renungan hari ini dari aplikasi Our Daily Bread.

I do not know what is coming next, but my God does. And I know I can trust Him with every moment that stretches before me…

—–

USG menunjukkan kalau air ketuban benar-benar habis sekarang. Kepala bayi menempel di dinding rahim tanpa bantalan air lagi, perut bayi tidak lagi berbentuk bundar. Tapi bayi masih bernapas, masih hidup. Pemeriksaan transvaginal (yeah, that exam chair again!) menunjukkan bahwa rahim belum mulai membuka yang artinya tidak ada tanda-tanda persalinan. Luka juga tidak ditemukan di sana. Dokter mengambil kesimpulan bahwa pendarahan terjadi akibat kontraksi biasa. Kesimpulannya, kehamilan masih bisa dipertahankan dan operasi masih bisa dilakukan.

Dokter meminta kami mengambil waktu untuk berpikir baik-baik apakah kami mau lanjut atau tidak. “Kenapa selalu kami yang harus ambil keputusan? Apa tidak bisa dokter saja yang menyarankan jalan mana yang harus diambil?”, tanyaku.

“Karena semuanya masih di borderline. Tingkat infeksi borderline, rahim juga masih belum membuka. Kalau misalnya, infeksinya sudah di 30, saya tidak akan kasih opsi. Apa pun preferensi Ibu, saya akan terminate kehamilannya. Atau misalnya, rahim sudah mulai membuka, maka saya akan terminate kehamilannya, karena bagaimana pun dalam waktu maksimal 1 minggu Ibu akan melahirkan bayinya…”

“Please pray for me: recently our relationship is not too good and this stress me out… this pregnancy starts to take a toll on us. Please pray that we both pass this test.”

~my prayer request

Jam 12:59, akhirnya aku WA dokter. “Hi Dok. Saya putuskan untuk tetap coba last option ya: celsite.”

“Iya bu”, jawab dokter singkat.

Aku kemudian mengurus admission rawat inap untuk operasi pemasangan celsite dan pengikatan mulut rahim. Perjalanan panjang bedrest dimulai lagi…

3. First Hospitalization

[17+5] Minggu, 29 Juli, hari ke-2 rawat inap

Aku adalah orang yang selalu BAB setiap pagi. Catat: S.E.T.I.A.P. pagi. Tanpanya, badan terasa tidak enak, mood jelek, dan hari bisa terasa berantakan. Karenanya, hal yang paling tidak aku suka dari strict bedrest ini adalah pembatasan ke toilet yang membuatku memilih untuk menahan BAB sehingga tidak perlu menunaikannya setiap hari. Tapi walau tersiksa seperti ini, entah kenapa aku merasa kuat, bersemangat, dan rela menderita. Pikir punya pikir, ku pikir aku menemukan jawabannya: HOPE. HARAPAN.

Dokter pertamaku mengatakan dengan pasti bahwa tidak ada harapan bayiku bisa bertahan hidup. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Mengetahui hal itu, aku pun tidak rela untuk bedrest. Untuk apa? ‘Toh tak akan ada gunanya. Tak ada harapan. Hopeless.

Dokterku yang sekarang memberiku harapan. Walaupun hanya secercah saja, tapi itu tetap harapan. Masih ada yang bisa dilakukan. Karena ada harapan, maka attitude-ku pun berubah. Tahan banting. Hopeful.

Aku jadi teringat pada iman Kristen. Harapanku pasti! Bukan hanya secercah, tapi pasti! Tuhan mengatakan bahwa pengorbanan Yesus di kayu salib sudah cukup menebus dosa-dosaku sehingga aku dilayakkan untuk bersama Tuhan lagi di surga. Karena harapanku pasti, maka cara hidupku di dunia ini juga mencerminkan harapanku itu. Aku berbuat baik untuk menyenangkan Tuhan, karena aku tahu pengharapanku pasti.

Alangkah bahagianya menjadi orang yang memiliki harapan!

[17+6] Senin, 30 Juli, hari ke-3 rawat inap

USG jam 5 sore. Hanya ada sedikit kemajuan. Air ketuban meningkat, tapi masih di bawah yang dibutuhkan. USG sebelumnya menunjukkan bahwa air ketuban ada sekitar 100-150 ml; USG hari ini menunjukkan air ketuban ada sekitar 150-200 ml (atau sekitar 4,1 kalau menggunakan skala ukur lain). Dokter mengatakan bahwa yang dibutuhkan paling tidak adalah 8. Jadi aku berasumsi kalau yang dibutuhkan adalah sekitar 400 ml. Dokter akan melakukan USG lagi di hari Rabu, lusa. Kalau di hari itu kemajuannya masih sedikit, belum mencapai 8, maka ia harus give up, katanya.

“Then if it increase 50 ml in 2 days, let’s continue the treatment for 8 more days…”, kata suamiku berhitung-hitung saat aku melaporkan hasil USG kepadanya.

“But looks like that’s not the way doctor think. I guess because the bigger the baby, the more fluid s/he needs. I don’t know…”

Hari ini petugas lab mengambil sampel darahku. CRP (indikator infeksi) ada di angka 3,2 mg/L dari acuan normal <= 5.0.

[17+7] Selasa, 31 Juli, hari ke-4 rawat inap

“…Now I am preparing for the worst. One thing boggling my mind: what does Scripture really says about abortion..? If baby died in the womb, it is easy for me to make decision for stillbirth. If mother’s life is being threaten, it is also easier for me to make decision to give up the baby. But I think this is not life threatening (at least for now) because my recent lab result shows infection is minimum (thanks to all the antibiotics I have been taking through IV and pills), and baby is growing. I am not sure God wants me to deliver the baby alive and let him/her died after birth… So, I don’t know…”

my whatsapp message to my Small Group friends today.

Q&A with friends:

Q:    What will happen if by Wednesday not reaching 8? You have to deliver the baby? Knowing that the baby will die after birth?

A:    To my understanding, yes. They will induce me so I will feel contraction and deliver the baby, alive. But within minutes baby will certainly die because baby’s lung is not fully formed yet to breath the air.

Q:    And if the baby stays? What will be the risk if keeping the treatment to see if the amniotic fluid increase?

A:    No one can tell how long baby will survive. Can be days, weeks, even months. For example, my first doctor said baby will die in one week…. Now already 3 weeks since he said that… However, keeping baby inside me with a rupture in the amniotic sac membrane means I am prone to infection. Once I get infected, it is life threatening for both baby and mother. We both can die. Not to mention that the older/bigger the baby, the more chance he will be born with some disability.

Anyway, I am thinking of keeping the baby until he die naturally in my womb. But I think hospital/doctor/insurance won’t accept me hospitalized for uncertain period. So perhaps I will ask for strong antibiotic prescription for home treatment and do frequent doctor visit to ensure less gap between the day baby dies to the day doctor take baby out. The bigger the baby, the more dangerous to keep dead baby in womb (again, infection).

Q:    Would be useful to be well-informed regarding the chances of risks juga Ri. So can make a proper anticipation.

A:    Yup. Will ask doctor on wednesday. But too bad my husband won’t be here… Husband wants me to continue current treatment until he come back this Saturday. Only then we make decision. Hopefully they allow me to stay longer… ?

[18+1] Rabu, 1 Agustus, hari ke-5 rawat inap

USG.

[18+2] Kamis, 2 Agustus, hari ke-6 rawat inap

Hasil lab dari Prodia untuk Mikronutrisi dan Logam Berat sudah keluar. Copper level ku di atas normal. Ku forward hasilnya ke dokter via Whatsapp, tapi dokter bilang itu masih normal.

Mengingat hasil USG yang masih tidak menggembirakan, mau tak mau aku kembali memikirkan pertanyaan yang dulu pernah kutanyakan:

To terminate, or not to terminate; that is the question.

Googling lagi. Kali ini kepada Quora aku berpaling.

[18+3] Jumat, 3 Agustus, hari ke-7 rawat inap

Ambil darah untuk pemeriksaan lab. CRP ada di angka 2,2 mg/L dari acuan normal <= 5.0.

Hari ini USG dengan dr. Rima.

[18+6] Senin, 6 Agustus, hari ke-10 rawat inap

To terminate, or not to terminate; that is still the question.

Googling lagi, kali ini masih Quora.

Malamnya USG dengan dr. Bowo.

Air ketuban masih belum mencapai level minimum. Kesimpulannya, memasukkan cairan lewat infus biasa tidak berhasil dalam kasusku. Somehow it just doesn’t work…

Hari ini dokter memberikan 2 opsi terakhir untukku kalau memang aku masih mau melanjutkan Upaya Penuh:

  1. Amnioinfusion. Dokter akan menyuntikkan air ketuban ke dalam kantong ketuban menggunakan jarum yang ditusukkan di perut. Tidak perlu operasi. Kalau nantinya air ketuban berkurang lagi (kemungkinan besar memang akan berkurang), maka dilakukan penyuntikan lagi.
  2. Cell cyte (aku tidak yakin apakah penulisannya benar seperti ini). Dokter akan melakukan operasi untuk memasang semacam selang (kateter) di dalam perutku. Jadi setiap kali aku menerima amnioinfusion, yang diperlukan hanyalah menyambungkan selang di luar dengan selang di dalam perut. Aku tidak bisa menjelaskannya… Yang pasti metode ini mengharuskanku untuk rawat inap sekitar 3 hari. Dan biayanya lebih tinggi, tentu saja. Tetapi keuntungan opsi ini adalah, kalau level air ketuban sudah rendah sehingga harus diisi ulang, proses isi ulangnya jauh lebih mudah. Kalau aku mengambil opsi ini, maka persalinan harus dilakukan dengan operasi caesar, dimana kateter yang terpasang di dalam tubuh akan diambil sekalian.

Opsi apa pun yang aku pilih, dokter tidak bisa menjamin bahwa bayiku akan hidup atau bahwa bayiku akan sehat.

Opsi lainnya adalah menghentikan kehamilan hidup-hidup dengan segera, atau let it be (tunggu sampai bayi meninggal sendiri di dalam perut, tidak ada yang bisa memprediksi kapan).

Akhirnya, karena metode meningkatkan air ketuban melalui infus biasa sudah gagal, maka tidak ada gunanya lagi melanjutkan rawat inap. Aku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter untuk melanjutkan bedrest di rumah sambil mempertimbangkan opsi yang dia tawarkan di atas.

Suamiku memutuskan untuk pulang malam itu juga. Walau hari sudah larut malam saat kami tiba di apartemen, kusempatkan menulis pokok doa melalui whatsapp ke teman Small Group ku:

“My husband, his parents, and my father (my mother still doesnt know) prefer to terminate the baby immediately, considering my health and baby’s future. But I cannot decide it yet. At the end, husband said it’s up to me cause this is my body and my health. Any decision, he will support. But I know for sure deep in his heart he prefer toterminate the baby. Please pray for us.”