Once You See It, You Can’t Unsee It

Kalau kita tidak pernah memiliki, kita tidak akan pernah merasa kehilangan.

Dulu, sebelum Glassy, aku tidak pernah membayangkan memiliki tiga orang anak. Dua anak saja sudah cukup! Aku sudah memiliki anak laki-laki dan perempuan. Mereka sudah kompak bermain bersama dan berantem bersama.

Kini, setelah Glassy, aku tidak pernah membayangkan memiliki dua orang anak. Anakku ada tiga! Laki-laki, perempuan, dan laki-laki lagi. Setiap kali aku melihat John bermain bersama Jackie, aku juga melihat bayi Glassy bermain bersama mereka.

Kini aku melihat tiga orang anak. Tak lagi bisa ku melihat hanya ada dua orang anak.

Once you see it, you can’t unsee it. Once you have it, you can’t just forget it when you lost it.

Seumur hidup aku harus hidup dalam penglihatan ini… Tiga anak, bukan dua!

Must Have: Strong Support System

Salah satu yang jadi pergumulan Ibu yang memilih memperjuangkan bayi PPROM-nya dengan bedrest, baik di rumah apalagi di rumah sakit, adalah siapa yang akan menjaga anak-anaknya.

Dalam kasusku, aku beruntung karena support system-ku berjalan kuat.

  1. Ada dua babysitter – satu untuk setiap anak – yang sudah bekerja untukku selama 3kali Lebaran. Satu babysitter tinggal bersamaku, satu pulang-pergi. Tapi selama aku bedrest di rumah sakit, yang pulang pergi ini bersedia menginap. Para babysitter ini aku berikan uang untuk menghibur anak-anakku dengan membawa mereka jalan-jalan. Hasilnya, selama aku sakit anak-anakku jalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan, Masjid Istiqlal, Kota Tua, Car Free Day, wahana bermain anak di berbagai mall seperti Kokas, Lotte, dan Grand Indonesia, dan pasar malam di belakang apartemen. Anak-anak terlihat senang, karena babysitter dengan gampangnya memakai uang yang aku beri tidak hanya untuk jalan-jalan tetapi juga untuk membelikan anak-anakku mainan dan jajanan yang diinginkan mereka. Jadinya pengeluaranku untuk anak cukup membengkak selama aku rawat inap. Haha… bisa jadi anakku lebih senang kalau mamanya di rawat di rumah sakit ya…
Duo JJ jalan-jalan naik kereta ke Kota Tua bersama babysitter tanpa Mama, 24 Juli 2018

Babysitter juga membawa anak-anak mengunjungiku di rumah sakit naik Grab kalau aku minta, sekalian membawa keperluanku (yang paling sering adalah disposible underwear, pembalut, dan mamaroz juice favoritku).

Saat anak-anak bersama babysitter mereka menjengukku, 29 Juli 2018

Babysitter bahkan membawa anak-anakku menemui dokter spesialis anak langganan mereka di rumah sakit untuk imunisasi sesuai jadwal!

2. Saat kedua babysitter tidak ada karena cuti Idul Adha, maka andalan selanjutnya adalah orang tua. Kebetulan rumah Kakak – yang juga punya anak balita – cuma sepelemparan batu jaraknya dari rumah orang tua, jadi kakak juga bisa bantu mengasuh sekalian sama anak-anaknya.

3. Beberapa teman gereja yang satu kelompok Small Group pun menawarkan bantuan menjaga anak-anakku di rumah mereka, karena mereka ibu rumah tangga yang home schooling anaknya dan anak-anakmereka sudah cukup besar untuk bisa momong anakku yang lebih kecil. Ada jugayang menawarkan bantuan antarjemput anakku ke Sekolah Minggu. Semua tawaran inimemang tidak kumanfaatkan karena support system lapis pertama dan kedua sudah cukup, tapi aku sungguh bersyukur mengetahui bahwa aku memiliki support system lapis ketiga!

Seperti yang dipikirkan oleh Wendy Kay Riggs, anggota gereja harus saling bertolong-tolongan. Hal ini efektif dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil

Pertanyaan Yang Sering Diajukan

Selama aku mendapatkan perawatan medis, baik rawat jalan maupun rawat inap, aku berinteraksi dengan beberapa dokter dan banyak perawat. Dalam interaksi awal denganku, setelah mereka tahu kasusku adalah PPROM, biasanya mereka menanyakan rangkaian pertanyaan yang sama, bahkan dengan urutan yang sama pula:

Ini hamilnya IVF (bayi tabung) ya?

         Bukan. Bayi biasa.

Anak pertama ya?

         Bukan. Anak ketiga.

Anak ketiga? Anak pertama dan keduanya cowok atau cewek?

         Yang pertama cowok, yang kedua cewek.

Oh… mereka sehat?

         Ya, sehat. Cakep-cakep dan pintar-pintar juga.

[awkward silent]

Begitu aku di rawat cukup lama di rumah sakit, para perawat yang sudah tahu tentang dua anakku biasanya akan menanyakan pertanyaan seperti ini:

Anak-anaknya umur berapa, Bu?

Yang gede mau 5 tahun, yang kecil mau 3 tahun.

Oh, masih kecil-kecil ya… Di rumah sama siapa dong, Bu?

         Sama babysitternya.

Oh…

Dan akhirnya, mereka akan bertanya:

Anak-anak kok nggak pernah nengok ke sini? Saya ga pernah lihat…

Udah datang waktu itu. Seminggu sekali lah. Kan mereka sekolah. Lagipula gapapa ga datang juga. Kan ada videocall…

Whatsapp videocall dengan Adek Jackie. Ia menunjukkan gerakan balet yang baru saja dipelajarinya di RockStar Gym. Selain videocall, kami juga menggunakan Whatsapp voice message.

Atau jawaban alternatif lainnya:

Udah datang waktu itu. Seminggu sekali lah. Kan mereka sekolah. Lagipula suami saya ga terlalu suka kalau mereka datang sering-sering atau terlalu lama, soalnya saya pasti kecapean setiap kali mereka habis berkunjung. Mereka loncat sana-sini, bikin saya kuatir mereka cedera… Saya sibuk teriak-teriak ke mereka atau ke suami saya untuk hati-hati, jadinya saya kecapean sendiri…

Anak-anak bermain bersama Bapaknya agar tidak ‘mengganggu’ ibunya di tempat tidur, 11 September 2018

[6 Okt] Visiting the Tomb: “No, He is Not There”

Sabtu, 6 Oktober 2018

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat kami tiba di rumah orang tuaku di Depok. Terlambat satu jam dari rencana semula. Papaku menyarankan untuk pergi ke makam Glassy besok pagi saja karena Sabtu sore jalanan macet, bisa makan waktu satu jam untuk ke sana, sehingga hari pastilah sudah gelap saat tiba di sana karena tidak ada penerangan. Aku setuju dengannya, karena memang aku ingin Gege J dan Adek J turut serta ke sana.

Suamiku ingin ke sana sore itu juga, sesuai rencana semula. Walau pada akhirnya dia setuju untuk berangkat besok pagi, tapi air mukanya menunjukkan ketidakpuasan. Mamaku menyarankan untuk berangkat sekarang saja, tanpa anak-anak, yang penting suamiku senang. Apa pun kondisi pemakaman, makam terlihat atau tidak terlihat, yang penting sudah keturutan. Akhirnya ku putuskan untuk berangkat sore itu juga seperti rencana semula, tapi tanpa anak-anak. Ku pikir-pikir ada baiknya juga ada alasan untuk tidak membawa anak-anak ke sana, karena aku ingin menikmati kunjungan pertamaku ke makam Glassy. Tak perlu kuatir anak-anak dan babysitter mereka melihatku menangis… (Papa tetap harus ikut karena ia yang mengetahui letak makam).

Matahari sudah hampir terbenam seluruhnya ketika kami tiba disana jam 6 sore. Tak seperti biasanya, suamiku membukakan pintu mobil untukku dan mengulurkan tangannya untuk membantuku turun dari mobil. Mungkin dia pikir aku akan terlalu sedih…?

Dua pemuda bergegas menghampiri dan berinisiatif membuang bunga salib yang telah kering, menyapu makam, dan menyiram air di atas makam. Matahari telah terbenam saat mereka selesai.

Suamiku melihat ke makam-makam lain di sekeliling dan bertanya padaku apakah bisa membuat makam Glassy menjadi permanen. “Setahuku harus menunggu sampai tanahnya turun yang artinya petinya sudah lapuk dan ambruk… tapi coba kutanyakan pada Papa dulu”, jawabku. Papa bilang sudah bisa dari sekarang kalau kami mau. Dia pun berdiskusi dengan dua pemuda tadi untuk mencari informasi.

Aku kaget juga melihat suamiku terpikir membuat makam Glassy menjadi permanen, karena setahuku di budayanya jenazah di kremasi, bukan dikubur. Dan dia ingin melakukannya secepatnya. Kalau Papa-ku tidak bilang ke kami “Nanti saja, kita cari informasi dulu ke manajemen pemakaman”, maka bisa jadi kami sudah mau transfer saja uangnya ke kedua pemuda tadi. Mungkin sama sepertiku, suamiku mau semua urusan ini segera beres…

Papa yang mengobrol dengan kedua pemuda tadi memberikan waktu bagi aku dan suamiku berdua saja di hadapan makam Glassy. Tidak seperti biasanya, suamiku merangkul pundakku erat…

Ku pandangi tanah makam Glassy yang basah dan kosong tanpa bunga segar. Ku lihat dua rangkaian bunga yang sudah kering di sisi kanan dan kiri nisannya. Ah… bunga itu dari dua minggu yang lalu. Betapa lekasnya bunga gugur dan mengering! Dan oh, jasad mungil Glassy di bawah sana pastilah mulai membusuk juga. Kami manusia fana! Betapa raga jasmani ini hanyalah tenda!

Ku gelengkan kepalaku, dan berkata lirih lebih kepada diriku sendiri: “He is not there, Ba… What is DOWN there is just his body, his earthly body. He is UP there, with Jesus, with God, in a new body. With perfect lung. He can breath. He is happy. He is NOT down there. We’ll see him again”. Suamiku menjawab dengan merangkulku lebih erat…

Kami kemudian berfoto seadanya dalam kegelapan malam sebelum meninggalkan makam Glassy. “So long, Glassy…”, lirihku dalam hati sambil memandang makamnya dari dalam mobil yang bergerak meninggalkan tempat parkir. “Mama will be back, but don’t know when. Perhaps won’t be as frequent as I previously thought I would. You are UP there. You have a working lung. You are happy”.

[4 Okt] Tes… Tes… Tes…

Kamis, 4 Oktober 2018, hari ke-12 setelah Glassy pergi.

Pagi ini ASI keluar saat aku sedang dipijat! Padahal pijatannya bukan di payudara. Aku abaikan tetesan itu. Nanti juga berhenti sendiri, pikirku.

Siang ini aku terbangun dari tidur siang karena bajuku terasa basah. Ternyata itu ASI-ku. ASI-ku terus menetes… tes… tes… tes…

Kucari bayiku. Aku tahu aku tidak akan menemukannya. Sedih rasanya, ternyata aku belum gila.

Aku pandangi obat penghenti ASI yang telah berhenti kuminum sejak beberapa hari lalu karena ASI sudah tidak keluar. Masih banyak, masih ada sisa untuk 13 hari. Apa harus diminum semuanya sampai habis baru ASI bisa berhenti permanen?

sisa untuk 13 hari

Ku googling nama obatnya. Ah, harus diminum terus ternyata. Walaupun efek sampingnya kok ngeri banget ya. Bisa mati!

harusnya selama 14 hari
efek samping kematian?

Tak apa-apalah kalau hanya mati. Aku teguk obatnya lagi mulai malam ini.

Maafkan Mama, Glassy. Mama sungguh berharap kelak bisa menyusuimu di sorga sana.

[3 Okt] How to ‘Forget’: Get the Paperwork Done Quickly!

Rabu, 3 Oktober 2018, hari ke-11 setelah Glassy pergi.

Kontrol rawat jalan ke dokter paska melahirkan: checked.

Memulai rangkaian perawatan paska melahirkan: checked.

So, what now? Admin work!

Dokumen dari rumah sakit, kuitansi perawatan, buku kehamilan, formulir asuransi, semuanya harus dirapikan. Klaim reimbursement harus segera diajukan karena melihat semua dokumen dan formulir ini sungguh menyakitkan karena membawa ingatan kembali ke Glassy.

Sebagian besar biaya yang keluar memang sudah dibayar asuransi melalui sistem cashless. Tapi, masih ada klaim reimbursement yang harus diurus:

  1. Klaim biaya melahirkan (Maternity Benefit) dari kantor.
  2. Klaim Flexible Benefit dari kantor. FlexBen adalah sejumlah uang per tahun yang bisa di gunakan tidak hanya untuk mengganti biaya rawat jalan, tapi juga untuk biaya terbatas lainnya seperti pemeliharaan mobil, langganan TV kabel/internet, tiket liburan, kursus pengembangan diri, dll. Dalam kasusku, aku menggunakannya untuk klaim excess dari biaya melahirkan (limit Maternity Benefit di poin 1 tidak cukup karena ternyata melahirkan di RS Bunda mahal).
  3. Klaim Santunan Kematian dari asuransi. Jumlahnya cukup membantu untuk mengganti biaya pemakaman (peti, sewa makam, baju, dll), biaya ibadah penghiburan dan ibadah pelepasan/penguburan, dan excess biaya rawat inap Glassy.

Klaim #1 dan #2 diajukan ke kantor menggunakan sistem/aplikasi kantor yang hanya bisa diakses melalui laptop kantor di internet jaringan kantor. Akibat berbulan-bulan tidak masuk kantor, aku tidak bisa akses VPN kantor karena software ternyata perlu diupdate (tapi hebatnya, aku tetap ingat password untuk log-in lho!). Bisa sih menunggu sampai masuk kantor lagi. Tapi karena ingin segera get rid of these medical documents which bring me sad memories about Glassy, maka laptop harus dikirim dengan aman ke kantor untuk dikerjakan oleh IT.

1 Oktober: Nita datang ke apartemen mengambil laptop dan iPhone kantor. Aku pergi kontrol ke rumah sakit sekalian mengambil dokumen yang diperlukan untuk klaim #3.

2 Oktober: Nita mengantarkan laptop dan iPhone ke kantor.

3 Oktober: Arum menjemput laptop dan iPhone dari kantor dan mengantarnya kembali ke apartemenku.

Begitu laptop di tanganku, aku kerjakan pengajuan tiga klaim sekaligus. Kemungkinan besar klaim #3 masih harus tek-tok dengan asuransi, tapi paling tidak notifikasi dan pengajuan awal sudah dilakukan untuk menghindari claim expiration.

Terima kasih banyak untuk Nita dan Arum yang membantu proses update laptop, dan terima kasih banyak untuk Triana yang sangat sangat helpful dalam pengajuan klaim #3. I can’t thank these ladies enough!

3 Oktober 2018, hari ke-11 setelah Glassy pergi, semua dokumen sudah bisa dibereskan dan disimpan rapi tanpa perlu dilihat lagi…