[2 Okt] How to ‘Forget’: Get in Shape Quickly!

Selasa, 2 Oktober, hari ke-10 setelah Glassy pergi.

Saat mengunjungiku di rumah sakit di Minggu sore, 23 September, Sofi memberitahuku tentang perawatan paska melahirkan Dian Mustika. Selain alamat website Dian Mustika, Sofi juga memberikan nomor Whatsapp Ibu Dian, pemilik Dian Mustika, untuk konsultasi untuk menentukan tipe perawatan yangtepat.

Senin sorenya, 24 September, aku kontak Ibu Dian. Beliau memberikan beberapa e-brosur berisi tips dan jenis-jenis perawatan di Dian Mustika.

Selasa, 2 Oktober 2018, hari ke-10 setelah Glassy pergi, aku mulai perawatan Dian Mustika. Seharusnya paling cepat tanggal 8 Oktober, 2 minggu setelah operasi, baru aman untuk mulai perawatan yang mencakup ikat dengan bengkung. Tapi aku putuskan mulai lebih awal saja, tanpa ikat bengkung. Ikat bengkung menyusul di minggu kedua perawatan.

Sebetulnya aku bukan orang yang suka dipijat. Aku tidak melakukan perawatan seperti ini saat punya anak pertama dan kedua dulu. Tapi kali ini berbeda. Pertama, anaknya tidak ada, jadi aku ada waktu untuk menjalani prosesi perawatan selama dua jam setiap harinya dengan santai. Kedua, aku merasa badanku remuk redam dan bengkak sana sini akibat bedrest berbulan-bulan. Tapi alasan utamanya adalah ini: makin cepat kondisi tubuh kembali seperti semula, makin bisa aku ‘melupakan’ Glassy.

Ada banyak jejak Glassy di badanku.

Lihat bekas tempelan EKG di dada, ingat Glassy.

Lihat kulit tangan lebam bekas infus, ingat Glassy.

Lihat perban penutup luka operasi caesar, ingat Glassy.

Lihat rambut berminyak kusut karena tidak bisa keramas dulu, ingat Glassy.

Lihat kaki masih bengkak belum cukup enak masuk sepatu, ingat Glassy.

Lihat Linea Nigra, ingat Glassy.

Lihat perut bergelambir kosong, ingat Glassy.

Lihat darah nifas memenuhi pembalut, ingat Glassy.

Lihat ASI menetes-netes dari payudara, sangat ingat Glassy…

Satu demi satu, aku hapus jejak itu dari badanku. Karena tak pernah bisa dari hatiku.

[1 Okt] “Maaf, Saya Lupa Bayar!”

Senin, 1 Oktober 2018, seminggu setelah keluar rumah sakit

Hari ini kembali lagi ke rumah sakit; kali ini untuk kontrol paska melahirkan dan mendapatkan dokumen Glassy untuk keperluan asuransi. Dokter praktek mulai dari jam 4 sore. Biasanya aku datang di malam hari di antrian nomor-nomor terakhir. Tapi kali ini aku minta suamiku untuk berangkat dari rumah jam 3 sore. Selain karena ingin dapat nomor antrian awal supaya urusan lekas selesai dan lekas istirahat di rumah, juga karena aku ingin mengurus beberapa dokumen Glassy yang, supaya aman, harus selesai sebelum jam kerja berakhir.

Tiba di rumah sakit, aku ke bagian pendaftaran rawat jalan di lantai dasar, lalu minta dipertemukan dengan petugas bagian Rekam Medis untuk mengambil Resume Medisku. Sambil menunggu petugas Rekam Medis datang, aku naik ke lantai 2 Poli Rawat Jalan untuk mengambil nomor antrian. Tumben suster Rosmi ada di Nurse Station. Ia menyebut namaku dan menanyakan kabarku. “Baik, dalam masa pemulihan”, jawabku. Setelah menimbang berat badan (sudah 51 kg!) dan mengukur tekanan darah, aku menanyakan nomor urutku. Kupikir aku dapat nomor urut 10 karena kudengar pasien di depanku mendapat nomor urut 9. Ternyata aku dapat nomor urut 6! “Ibu saya kasih nomor urut untuk emergency, nomor 6 tadinya memang dikosongkan, saya kasih untuk Ibu”, kata suster Rosmi. Aduh, makasih, Suster!

Karena dr. Bowo belum mulai praktek karena sedang ada dua operasi berturut-turut, aku turun kembali ke lantai 1 untuk menemui petugas Rekam Medis. Resume Medisku sudah jadi, tapi Claim Form Asuransi untuk Santunan Kematian Glassy belum bisa ku ambil karena belum selesai diisi karena petugas Rekam Medis belum memiliki kesempatan bertemu dengan dr. Adhi yang merawat Glassy. “Kalau nanti sudah selesai, kami akan telepon Ibu jadi Ibu bisa datang ke sini lagi untuk mengambilnya”, kata petugas.

[Syukurlah akhirnya kantorku bisa nego dengan asuransi sehingga Claim Form-nya nanti bisa dalam bentuk email saja, tidak perlu hardcopy. Tidak terbayangkan kalau harus kembali lagi ke rumah sakit… Setiap kali aku mengucap frase “…anak saya ‘kan meninggal…” ke petugas Rekam Medis untuk menjelaskan keperluanku, dadaku sesak, mataku berlinang, dan mulutku tercekat.]

Kemudian aku kembali naik ke lantai 2, kali ini ke ruangan Kasir Pusat, untuk mengambil Surat Keterangan Kelahiran. Ini berat, karena lokasinya di dalam area rawat inap, sehingga aku harus bertemu dengan suster-suster yang merawatku dulu… Tapi yang lebih membuatnya berat adalah kesadaran bahwa aku memerlukan Surat Keterangan Kelahiran ini untuk mengurus Klaim Asuransi Santunan Kematian anakku, bukan untuk mengurus Akta Lahirnya! Sebetulnya di Surat Keterangan Kelahirannya ada kesalahan penulisan nomor paspor suamiku di mana angka 1 ditulis huruf I. Tetapi saat petugasnya memintaku mengecek keakuratan informasi di surat tersebut dan memberitahunya bila ada kesalahan tulis, aku tak memberitahunya. Biarlah urusan admin ini lekas selesai… ‘Toh tak akan ada Akta Lahir yang perlu dibuat…

Kemudian aku meminta legalisir Resume Medis Glassy dan Sertifikat Medis Penyebab Kematian Glassy. Tapi menurut kasir pusat, yang bisa memberi legalisir adalah bagian Rekam Medis. Aku pun kembali ke lantai dasar ke bagian pendaftaran rawat jalan, meminta mereka mempertemukanku dengan petugas Rekam Medis. Saat duduk menunggu sambil memperhatikan kegiatan orang-orang di sekitarku, tanpa terasa air mata menetes-netes ke pipiku… Mungkin karena pemandangan di rumah sakit ini too familiar… mengingatkanku pada Glassy…

Petugas Rekam Medis akhirnya datang. Ternyata mereka hanya bisa melegalisir Resume Medis. Yang bisa memberikan legalisir untuk Sertifikat Medis Penyebab Kematian adalah bagian Delivery Room di lantai 2. Duh, aku tidak sanggup lagi ke lantai 2. Harus melewati ruang operasi, harus melihat lagi deretan ruang rawat inap, harus menegur suster-suster… ternyata aku tidak cukup kuat mental ya…? Ku putuskan untuk tidak meminta legalisir Sertifikat Medis Penyebab Kematian ini. Biarlah aku berikan dokumen aslinya ke asuransi. ‘Toh aku tidak memerlukannya lagi untuk keperluan lain.

Setelah urusan dokumen beres, aku minta suamiku untuk menemaniku ke kantin rumah sakit untuk makan bakso di sana. Ia pun setuju. Ku pesan semangkok bakso dan segelas teh panas untuk makan di tempat, dan seporsi dimsum, 3 potong jajan pasar (getuk, dadar gulung, dan tahu goreng), dan sebotol air mineral untuk dibungkus dimakan di ruang tunggu rawat jalan nanti. Untuk suamiku? Cukup segelas kopi hitam saja.

Saat kami kembali ke poli rawat jalan, dokter belum mulai praktek juga. Syukurlah aku dapat nomor 6, jadi tidak akan terlalu lama menunggu.

Akhirnya tiba giliranku. Sekali lagi, aku berada di tempat USG. Nothing to worry, kata dokter. Rahim bersih dan mengecil seperti seharusnya. Tapi aku mau nangis rasanya… memandang layar monitor di hadapanku yang menunjukkan rahim yang kosong. Hitam… hanya hitam disana… tidak ada gambar lingkaran kepala, lingkaran perut, dan panjang paha. Tidak perlu mengukur-ukur berat bayi dan seberapa dalam jumlah air ketuban. Tidak ada detak jantung yang diperdengarkan padaku. Sepi di sana… bersih… karena kosong… Rasanya seperti melihat lubang hitam. Gelap, hampa, menyedot energi dan emosiku. Tahan… tahan… tahan tangismu… Aku bisa menahan tangisku.

a black hole inside me

Keluar dari ruang USG, aku kembali ke meja dokter. “Jadi bagaimana?”, kata dokter. Karena aku tidak terlalu mengerti maksudnya, ku lempar saja pertanyaan ke suamiku, “Do you have any question?”. Suamiku bertanya “Do we need to come back again?” dan dokter menjawab “No, unless she has any complain”. Mendengar pertanyaan suamiku dan jawaban dokter, aku jadi tersadar bahwa ini adalah kunjungan terakhirku ke ruangan praktek dr. Bowo. Dan selama pembicaraan ini, entah berapa kali dr. Bowo mengucapkan “I’m so sorry, Sir” ke suamiku dan “Maaf, ya, Bu” kepadaku, yang selalu kami jawab dengan “It’s OK, not your fault”. Aku hampir tidak dapat menahan air mataku karena pembicaraan seperti ini membawa ingatanku ke badan Glassy yang mendingin di pelukanku… Aku bergegas berdiri dan menyalami dr. Bowo mengucapkan terimakasih sambil berkata, “Aduh, saya harus cepat-cepat pergi, dok. Kalau nggak saya bisa nangis… Makasih ya, Dok, atas bantuannya selama ini”. Tapi kemudian aku ingat belum mengucapkan perpisahan dengan suster Rosmi dan Bidan Aiy. Aku hampiri mereka, ku salami, dan kuucapkan terimakasih. Duh, air mataku kini mengalir bagai sungai. Kuucapkan terimakasih lagi pada dr. Bowo juga. “Terima kasih telah bantu saya selama ini. Bagi saya, yang penting saya sudah berusaha maksimal, jadi no regret…”. Dan mereka semua mengangguk-angguk dalam diam…

“It’s OK, Ma…”, kata suamiku saat memencet tombol lift untuk turun ke lantai dasar. “…we have two dinos at home”.

[kami suka menyebut anak kami sebagai dino, kependekan dari dinosaur]

Di tempat parkir, kupandangi gedung rumah sakit lekat-lekat. Ah… ini terakhir kalinya…

—–

Tiba di rumah, aku segera membereskan dokumen-dokumen Glassy. Tapi dokumen apa ini?

Waduh, ini dokumen tagihan rawat jalan yang harusnya aku berikan ke kasir tadi! AKU LUPA BAYAR!!

Segera ku telepon rumah sakit. “Maaf, saya lupa bayar…”.

Syukurlah keesokan harinya, 2 Oktober, urusan pembayaran beres. Syukurlah bisa lewat transfer bank sehingga aku tidak perlu lagi datang ke sana.

Kok bisa sampai lupa bayar…!!?

Ah… Aku sudah terbiasa datang ke ruangan ini dan meninggalkannya tanpa perlu membayar karena aku hanya perlu ‘pulang’ ke kamar perawatanku. Tetapi kali ini, rumah adalah tempat pulangku…

[30 Sep] “Where is Your Baby, Ma?”

Minggu, 30 September 2018

“Read to me, Ma”, pinta John.

“Ya! Read to me…!”, sambung Jackie.

“This book, Ma! I want (to read) this book”, John menyodorkan buku tentang Tubuh Manusia.

Duo JJ duduk rapi di kanan kiriku. Ku bacakan beberapa halaman pertama hingga akhirnya tiba di halaman tentang Why Do Babies Cry So Much?

Ijinkan aku membacakannya untukmu juga:

Babies cannot talk and cannot ask for what they want. So, they cry to let their parents know that they need something.

  • I’m hungry. I want some milk.
  • My nappy’s dirty. It needs to be changed.
  • I’m tired. I want to go to bed.
  • I don’t feel well. I need some extra care.
  • I just want a cuddle.

Oh, sungguh, aku tidak keberatan harus menjadi zombie akibat kurang tidur karena harus menyusui bayi baru lahir setiap dua jam sekali! Sungguh, aku tidak keberatan kalau mukaku harus terkena air seni bayi yang memancar saat aku mengganti popoknya! Sungguh, akan segera ku dekap erat, ku timang-timang, ku nyanyikan lagu sayang setiap kali ia menangis tanpa alasan!

Damn! Penglihatanku mulai kabur oleh butiran air mata yang mulai menggenang. Sayup-sayup ku dengar anakku, entah yang mana, bertanya “Where is your baby, Ma?”.

Ku bangkit dari kursiku, ku tinggalkan mereka begitu saja. Ya, where is my baby, God?

[28 Sep] Babies Everywhere!

Jum’at, 28 September 2018

Sebelum Glassy, aku tidak sadar betapa banyaknya postingan tentang bayi dan anak-anak di timeline Facebook-ku…

Setelah Glassy, I see babies everywhere!

Melihat iklan Mothercare kini tak semenyenangkan dulu, berapa pun besaran diskonnya.

Melihat video ibu dan bayi binatang pun kini bisa bikin baper…

Dan oh, betapa banyaknya foto-foto bayi milik teman-teman Facebook-ku berseliweran di timeline-ku! Foto saat akan dibawa pulang dari RS, foto saat berusia sehari, tiga hari, seminggu, sebulan, you count it… foto bayi bermain bersama kakak dan ayahnya, foto bayi pakai baju pemberian kakek nenek paman tantenya, foto bayi dibaptis, foto bayi mandi, foto bayi senyum, foto bayi nggak lagi ngapa-ngapain… Babies, babies everywhere!

Toy Story’s everywhere meme

Aku jadi teringat dulu pernah ada polemik di Facebook tentang apa yang sebaiknya tidak kita posting. Salah satu contohnya adalah jangan posting foto anak karena siapa tahu teman-teman Facebook kita ada yang sudah bertahun-tahun ingin punya anak tapi belum dapat juga. Postingan anak kita dapat menyakiti hati mereka. Dulu, pendapatku adalah “terserah yang posting dong… nggak suka lihatnya ya tinggal unfollow, unfriend, atau snooze for 30 days”. Kini, aku mengerti maksud orang yang menyarankan untuk tidak posting hal seperti itu. Tapi kini, pendapatku tetap sama. Tidak mungkin mengatur orang lain untuk tidak posting. Mereka berhak bahagia atas anak-anak mereka. Dan jujur, aku harap mereka mengasihi, membesarkan, dan mendidik anak-anak mereka dengan baik.

Sedangkan aku? Nampaknya harus libur dari Facebook dulu.

[28 Sep] Weeping With Me

Jumat, 28 September 2018, hari keenam setelah Glassy pergi.

Ingrid dan Liane datang menjengukku di apartemen. Bawa ayam obat sepanci untukku dan ayam kalasan ready to cook untuk anak-anakku. Mereka duduk di sisi tempat tidurku, mendengarkan ceritaku. Entah kenapa hari itu banyak cerita tentang Glassy mengalir dari mulutku, dan air mata dari mataku. Dan entah kenapa, mereka berdua pun dengan mudahnya turut menangis bersamaku.

Pernahkah kamu mengalami orang lain menangis untukmu, menangis bersamamu? Betapa beruntungnya bila kau memiliki teman seperti itu!

—–

Telepon Ingrid berdering. Babysitternya memberitahu bahwa bayinya menangis tidak bisa ditenangkan, karena yang ia butuhkan adalah air susu ibunya.

Ah, betapa selfish-nya aku! Aku lupa menanyakan pada Ingrid “How is your newborn baby? Who take care of your baby now that you are away from home to visit me?”. Dan ternyata bayinya menunggu di dalam mobil di parkiran bersama babysitternya, menungguku selesai bercerita tak ada hentinya!

Ingrid pun akhirnya memutuskan untuk turun ke bawah menyusui bayinya dulu, untuk kemudian kembali naik ke apartemenku. Setelah ia akhirnya pulang, baru terpikirkan olehku: Ah, how considerate! Tidak memilih opsi untuk membawa bayinya naik ke atas dan menyusuinya di depanku, karena pasti air mata akan jatuh lebih deras dari mataku…

—–

Ingrid and Liane, thank you for your visit.

You listened to me. You wept with me. You prayed for me.

[27 Sep] Tak Perlu Lagi

Kamis, 27 September 2018, hari kelima setelah Glassy pergi.

Tak perlu lagi meminta Papaku membawakan box bayi dari gudang rumah ke apartemenku. Siapa yang muat tidur di sana…

Tak perlu lagi berpikir untuk beli mobil 3-row menggantikan mobil saat ini yang 2-row. Dua car seat anak-anak sudah muat di baris kedua…

Tak perlu lagi kupindahkan wishlist baju-baju hamil di aplikasi Zalora ke dalam keranjang check-out. Perutku sudah tak ada isinya…

Ku hapus baju-baju itu dari Wishlist-ku.

I no longer need those…