[23 Sep] “Kok Jelek?”

Minggu, 23 September 2018, hari pertama setelah Glassy pergi

“Ini ‘udah ada foto-foto kebaktian dan pemakaman Glassy, Teh… kalau mau lihat…”, kata adikku sambil menyodorkan HP-nya.

Aku raih HP-nya dan kulihat deretan foto di sana. Mataku segera tertuju ke foto Glassy dalam peti matinya yang mungil… “Kok jelek!? Berkerut-kerut begini…!?”, teriakku kepada diri sendiri. Segera ku kembalikan HP itu ke tangan adikku.

Ah, Glassy… kamu benar-benar sudah mati ya… badanmu tidak hanya menjadi dingin, tapi juga perlahan menjadi rusak… dan akhirnya akan hilang berkalang tanah…

No, I don’t want to look at that ugly photo of Glassy. Let me have a good memory of my Glassy…

Ah, if only I hold him a little longer… If only I put him beside me on my bed a little longer… If only I took more beautiful photos of him with me…

[23 Sep] An Instant Answer From God

Minggu, 23 September 2018, hari pertama setelah Glassy pergi

Pagi ini aku posting obituary Glassy di PPROM Facebook Group yang selama ini kuikuti. Dengan sedih kutuliskan “…the most technology-advanced NICU and medicines in my country couldn’t help…”

Ku tuliskan “…in my country…” karena hatiku masih getir saat mengingat dr. Adhi mengatakan “…sebetulnya ada teknologi yang membantu menukar CO2 dengan O2, jadi semacam paru-paru buatan gitu… Tapi di rumah sakit ini teknologinya belum ada… di Indonesia juga belum ada…”

Akankah Glassy hidup bila kami berobat di Amerika?

Aku teringat apa yang Jully katakan tadi siang saat menjengukku: “Walaupun di Indonesia, kalau Tuhan mau bayinya hidup ya hidup aja; walaupun di Amerika, kalau Tuhan mau bayinya mati ya mati”.

Aku juga teringat apa yang pernah Febi katakan saat menjengukku dulu: “All the best and worst of man can’t change the master plan.”

Tapi sungguhkah teknologi kedokteran di Amerika benar-benar tidak akan bisa menolong anakku kalau memang Tuhan berkata tidak…?

Hanya dalam hitungan jam, di hari yang sama, ku dapatkan jawabannya.

Seorang anggota grup menulis komentar berikut di postinganku: “…delivered via emergency c-section due to cord prolapse at 25+2. Our little guy, Luke only made it 11 hours before going to be with Jesus. Even with all of the medical interventions, our sons lungs were also just too underdeveloped.”

Hey, mama ini juga melahirkan anaknya di usia kehamilan 25 minggu! Anaknya juga hanya bertahan 11 jam! Masalahnya juga pada paru-parunya! Apakah ia tinggal di Amerika?

Ku cek profil Tiffany Morris, ku googling St. Joseph Mercy Hospital. Yes, she lives in America!

—–

God and God alone, created all these things we call our own
From the mighty to the small, the glory in them all
is God’s and God’s alone

God and God alone, reveals the truth of all we call unknown
And all the best and worst of man can’t change the master plan
It’s God’s and God’s alone

God and God alone is fit to take the universe’s throne
Let everything that lives reserve its truest praise
for God and God alone

God and God alone, will be the joy of our eternal home
He will be our one desire, our hearts will never tire
of God and God alone

*God and God Alone, words and music by Phill McHugh