PERSONAL MESSAGE CONDOLENCES

Sejak aku mengumumkan obituary Glassy di laman Facebookku, ucapan belasungkawa tidak hanya kuterima melalui komentar di postingan tersebut tetapi juga di tempat lain seperti Facebook Messanger dan Whatsapp. Ada juga yang langsung meneleponku, yaitu Tutu, teman kuliahku dulu yang sudah 17 tahun kami tidak pernah bertemu. Ada juga yang mengucapkan belasungkawa di Whatsapp Group yang kuikuti, dan saat member lainnya bertanya apa yang terjadi, orang itu menyalin-tempel obituary Glassy dari Facebook ke Whatsapp Group tersebut. Jadilah akhirnya aku menerima ucapan belasungkawa di beberapa Whatsapp Group yang kuikuti.

Ucapan belasungkawa yang dikirimkan personal melalui FB Messenger dan Whatsapp tidak aku dokumentasikan di sini, karena isinya lebih privat – misalnya ada yang sharing pengalamannya juga. Afterall, kalau mereka bersedia diketahui orang banyak, pasti mereka tidak akan mengontakku lewat private message ‘kan…

Terimakasih untuk kalian semua yang telah berduka bersamaku dan memberikan penguatan dan semangat:

Steve, Rotua, Annette, Tri, Linda, Wina, Lenti, Ira, Savitri, Debby, Ninit, Om Bambang, Vianne, Prima, Lusi ex-babysitternya John, Prisca, Meilya, Lusi kakak-nya Lenti, Mbak Wulan, dan Silvia AKK-ku.  

Tuhan memberkati kalian semua.

BERKAT TUHAN MARI HITUNGLAH…

Selama aku berjuang menghadapi PPROM, termasuk saat dirawat inap berkepanjangan, memang tidak ada orang yang kuberitahu akan kondisiku selain orang yang berkepentingan langsung.

Karena itu saat aku ‘mengumumkan’ kematian Glassy di laman Facebookku, beberapa teman terkaget-kaget karena mereka whatsapp-an denganku selama periode rawat inapku tetapi aku tidak singgung sama sekali tentang kondisiku. Maaf ya, teman-teman… aku memang pada dasarnya introvert. I like being alone, but I am not lonely. Tapi mungkin alasan sebenarnya adalah ini: aku ‘ga mau kalian melihatku jelek! Badan bengkak, rambut kusut ‘ga keramas berminggu-minggu, mulut bau jarang sikat gigi. Hah!

Contoh orang yang kuberitahu adalah atasan langsungku di kantor, for obvious reason. Timku sendiri hanya tahu kalau aku sakit, tapi tidak tahu sakit apa. Bahkan, orang tua dan kakak adikku pun awalnya tidak tahu. Mereka baru tahu saat aku diberitahu kalau mamaku masuk rawat inap (di rumah sakit lain) dan mereka bertanya apakah aku bisa menjenguk mama. Tidak ada alasan lain yang sekuat alasan “Maaf nggak bisa jenguk, saya juga lagi di rawat inap”, ‘kan?

Karena mengambil pendekatan seperti inilah maka selama aku rawat inap jarang ada orang menjengukku. Situasi baru berubah saat aku mendadak harus melahirkan sedangkan suamiku sedang business trip ke luar negeri dan pihak rumah sakit mendesakku untuk menghadirkan orang lain di sisiku. Jadilah aku menyerah dan meminta bala bantuan. Praktis, sejak aku melahirkan, kemudian Glassy meninggal, dan akhirnya suamiku kembali, aku tidak pernah sendiri di kamarku. Selalu ada orang yang bertugas menjagaiku. Mungkin memang sebaiknya begini, karena adanya orang lain di kamarku membuatku terlepas sejenak dari memikirkan Glassy, sambil menunggu suamiku pulang…


Begitu banyak dukungan yang aku terima dari teman, kolega, dan keluarga selama aku berjuang untuk hidup Glassy. Mulai dari datang berkunjung, memberi buah tangan seperti makanan, buku, dan barang, memberikan pelayanan, menawarkan bantuan finansial, dan memberikan dukungan semangat dalam bentuk doa, get-well-soon card, hingga pesan WA. Semua dukungan tersebut aku dokumentasikan di sini:

Kunjungan dan Buah Tangan

[20 Jul]

Febi dan Sofi menjengukku di apartemen;Febi meminjamkan satu set Chronicle of Narnia sesuai permintaanku.

[29 Jul]

Febi dan Sofi menjengukku lagi, kali ini aku sudah di rawat di rumah sakit.

[1 Agu]

Silvia dan Liyanni menyempatkan diri datang menjengukku di rumah sakit di jam istirahat kerja mereka begitu tahu aku dirawat inap.

[2 Agu]

Febi, Sofi, dan Michelle lengkap menjengukku. Mereka membawakanku coklat, roti, dan setoples kue nastar yang kebetulan lagi diidamkan olehku.

[3 Agu]

Triana dan Savitri menjenguk di rumah sakit membawa parsel buah. “kami pilihin buah yang gampang dimakan, Ria…”;

[4 Agu]

Leo dan Jully, Sofi, dan Kevin datang menjengukku di rumah sakit di waktu yang hampir bersamaan. Mereka semua membawa makanan – roti, cake, donat – sehingga persediaanku aman untuk beberapa hari ke depan dan aku juga bisa berbagi dengan orang rumah dan para perawat yang menjagaku. Jully juga meminjamkan buku Grace for Woman untukku mengisi waktu dan menguatkanku.

[5 Agu]

Papa datang menjenguk membawakan anggur.

[9 Agu]

Aku menerima kiriman Doppler dari Leo dan Jully, yang fungsinya untuk mencari dan mengukur detak jantung bayi. [photo] Tidak sekedar memberi pendapat bahwa aborsi tidak diinginkan Tuhan, mereka juga menolongku dalam mengelola resiko medisnya.

[21 Agu]

Febi dan Sofi datang mengunjungiku lagi di rumah sakit.

[24 Agu]

Rombongan teman kantor (Ferry, Kevin, Savitri, Togu) membawakan pie hangat enak banget (aku nyesel cuma makan satu dan sisanya ku kasih ke keluargaku! Apa ya itu nama pienya…?). Triana datang menyusul rombongan dengan membawa 2 toples kue kering Dapur Coklat, salah satunya adalah Sagu Keju kesukaanku. Bagi Kevin, Savitri, dan Triana, ini kedatangan mereka yang kedua kalinya. Di waktu yang bersamaan, Papa datang berkunjung lagi.

[date unrecorded]

Papa dan Mama datang menjenguk membawakan setoples kacang mede untuk suamiku.

[28 Agu]

Nita dan Cece datang di malam hari – ngobrol panjang kali lebar sampai hampir tengah malam. Untung mereka membawakan martabak Orins kesukaanku – martabak manis dan martabak telur – yang sebagian besar juga dimakan oleh mereka.

[10 Sep]

Febi dan Michelle datang untuk small group. Mereka juga membawakanku roti untuk sarapan.

[13 Sep]

Papa, Mama, dan Arum membawakan bluder tape enak oleh-oleh Mbak Dian dari Bandung;

[19 Sep]

Mbak Wulan, bosku yang baik hati, membawakan 2 kotak Scotland Butter Cookies Mark and Spencer, salah satunya berisi coklat yang sengaja dibelinya untuk anak-anakku di rumah;

bersama salah satu toples cookies dari Triana

[21 Sep]

Ibu Lianny dan Pak Andrian datang menjenguk membawakan parsel buah.

[22 Sep]

Kantor mengirimkan parsel buah dan bunga. Wangi bunganya menyambutku saat kembali ke ruang perawatan dari ruang operasi;

Pak Heru dan Ferry menyempatkan diri datang menjenguk begitu mereka selesai ujian PAMJAKI;

Triana datang menjenguk untuk ketiga kalinya, kali ini membawakan risol, begitu ia selesai ujian PAMJAKI;

Reita menyempatkan diri datang sebentar di malam hari, meninggalkan dua anaknya yang masih kecil.

[23 Sep]

Leo dan July datang menjenguk untuk kedua kalinya, kali ini bersama kedua anak mereka. Mereka membawakan sop ikan batam untukku, sekotak penuh bakpao A-Satu untuk suamiku, dan buku stiker untuk anak-anakku.

Silvia juga datang menjenguk untuk kedua kalinya, kali ini bersama anak pertamanya.

Febi dan Sofi datang menjenguk sekitar jam 4 sore. Mewakili Michelle juga, mereka memberikan buku My Utmost for His Highest. Febi yang baru saja mendarat dari Malang juga membawakan bakpao non-halal dan 1 pak keripik tempe yang enak banget, asli dan fresh dari Malang;

Grace datang sekitar jam 8 malam membawakan coklat,

di susul oleh Nita yang datang sekitar jam 9 malam membawakan gorengan. Mereka berdua menungguiku hingga suamiku datang kembali di jam 11.45 menjelang tengah malam, padahal besoknya hari kerja.

[24 Sep]

Para Suster RS membelikan kue ulang tahun.

[25 Sep]

Babysitter anak-anak membelikan kue ulang tahun dan Mama Papa membawakan kue-kue;

[28 Sep]

Ingrid dan Liane datang berkunjung ke apartemen. Ingrid membawakan sepanci ayam obat dan Liane membawakan ayam kalasan ready to cook untuk anak-anakku supaya gampang kalau mau makan di rumah.

Memberikan Pelayanan

  1. Febi yang tetap memimpin Small Group;
  2. Babysitter yang selama aku sakit tidak mengambil jatah cuti bulanan, mau bekerja lembur, dan tetap masuk kerja di libur Tahun Baru Islam;
  3. Papa dan Mama dan Mbak Dian yang ngangon anak-anakku saat semua babysitter cuti Idul Adha;
  4. Leo dan Jully yang menawarkan tumpangan untuk anak-anakku pulang dari RS ke apartemen; Silvia dan Hendra yang memberi tumpangan pulang dari RS ke apartemen ke anak-anakku;
  5. Arum dan Cece yang mengurus administrasi rumah sakit;
  6. Triana yang mengurus asuransi;
  7. Keluarga, saudara, dan jemaat gereja yang mengurus penguburan, termasuk ibadah penghiburan dan pelepasan. Om dan Bulik yang menemani Papa menjemput jenazah Glassy di rumah sakit, kakak yang memilihkan baju dan selimut untuk Glassy, mama yang pasti juga mengurus macam-macam padahal ia juga sedang sakit;
  8. Sofi yang memberi informasi tentang Dian Mustika untuk pemulihan fisikku dan mencarikan nomor kontak owner-nya langsung (baca ceritanya di sini);
  9. Nita dan Arum yang membantu update software laptop kantor supaya aku bisa submit klaim asuransi secepatnya (baca ceritanya di sini).
Materi Small Group yang disiapkan Febi

Bantuan Finansial

Terimakasih karena telah bertanya “ini rawat inapnya pakai asuransi…?”, karena aku tahu itu adalah salah satu cara kalian untuk menggali informasi apakah bantuan finansial dibutuhkan. Dalam kasusku, kali ini aku tidak memerlukannya. Tapi aku yakin, kalian akan murah hati memberi bila diperlukan!

Dukungan doa, get well soon card, dan pesan teks

  1. Febi-Michelle-Sofi, Leo-Jully, dan Cece-Nita yang berdoa untukku saat berkunjung;
  2. Triana yang melampirkan get-well-soon card di toples kue pemberiannya;
  3. Kantor yang mengirimkan standing flower turut berdukacita;
  4. Semua teman, saudara, dan keluarga yang menanyakan update kabar selama aku di rawat dan yang menyatakan dukacita melalui WA, Wechat, Facebook Wall, Facebook Messenger, dan panggilan telepon.
get-well-soon card dari Triana

Ah… dadaku terasa hangat saat mengingat-ingat kembali dukungan apa saja yang telah aku terima dari teman-teman semua selama aku memperjuangkan Glassy… Kasih Tuhan sungguh terasa mengalir melalui mereka. Tidak hanya di facebook, aku juga punya teman di dunia nyata! I AM BLESSED!

Bila topan k’ras melanda hidupmu, bila putus asa dan letih lesu,

Berkat Tuhan satu-satu hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya.

Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau ‘kan kagum oleh kasihNya.

Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya.

Adakah beban membuat kau penat, salib yang kau pikul menekan berat?

HItunglah berkatNya, pasti kau lega dan bernyanyi t’rus penuh bahagia!

Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau ‘kan kagum oleh kasihNya.

Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya.

https://www.youtube.com/watch?v=mxbQO3XRMQc