SUPPORT GROUPS: WHEN YOUR WATER BREAKS BUT YOUR HOPE DOESN’T

Mengingat resikonya, hampir semua dokter spesialis kandungan dan kebidanan (SpOG) di seluruh dunia akan menyarankan ibu PPROM untuk menghentikan kehamilannya. Saran ini sesuai dengan text book/clinical pathway/SOP dunia kedokteran (apa pun itu namanya). Walaupun demikian, ternyata ada para ibu-ibu keras kepala yang memutuskan untuk melanjutkan kehamilannya; ada yang akhirnya berhasil, ada yang tidak. Beberapa ibu yang berhasil ini ingin membagi ceritanya kepada ibu-ibu PPROM lainnya, menunjukkan kepada mereka bahwa harapan itu ada. Jadilah Facebook Page tentang PPROM. Beberapa ibu yang berhasil lainnya bertindak lebih jauh lagi, ingin membangun awareness pemerintah (DepKes), rumah sakit, dan dokter, agar ibu-ibu PPROM bisa mendapat layanan kesehatan expectant management dan bukannya langsung vonis aborsi. Jadilah yayasan yang bergerak di isu PPROM.

pProm Pre-Viability (before 24 Weeks)

Dari beberapa Facebook Page mengenai PPROM yang ada, saya memilih untuk bergabung dengan FB Page “pProm Pre-Viability (before 24 Weeks)” karena anggota dan pembahasan Page ini lebih spesifik ke kasus PPROM yang terjadi sebelum usia kehamilan 24 minggu, seperti yang saya alami. Kenapa 24 minggu? Karena di Amerika, bayi dalam kandungan dianggap viable mulai dari usia kehamilan 24 minggu. Sebelum itu, kebanyakan rumah sakit di Amerika tidak akan menerima ibu PPROM untuk rawat inap. Bayangkan ibu-ibu yang kena PPROM di usia kehamilan belasan minggu harus menunggu hitungan bulan untuk bisa dirawat di rumah sakit! Tentu mereka butuh teman senasib sepenanggungan untuk saling menguatkan dan berbagi informasi. Itulah kegunaan dari komunitas ibu-ibu PPROM di FB Page ini.

Salah satu success story yang menjadi penguat saya karena PPROM terjadi di minggu ke-13, sama seperti saya, dan berhasil menunda kelahiran bayi hingga usia kehamilan hampir 33 minggu.

Walaupun diawali di Amerika, anggota FB Page yang jumlahnya 500-an orang ini ada juga yang berasal dari berbagai belahan negara lain misalnya Eropa dan Australia. Dan jangan heran kalau ibu-ibu di sini cukup banyak yang religius – bisa terlihat dari komentar mereka yang membawa nama “God” atau “Jesus” – mengingat mereka adalah ibu-ibu yang mengambil keputusan untuk tidak men-terminate kehamilannya, kemungkinan karena alasan religius.

Karena FB Page ini Closed Group, maka Anda perlu mendapat approval dari admin untuk menjadi anggota. Tapi jangan kuatir, tidak ada pertanyaan yang diajukan admin dan respon admin sangat cepat.

Little Heartbeats – Making Pprom Awareness

Little Heartbeats adalah organisasi nirlaba di UK. Facebook Page-nya bisa ditemukan di www.facebook.com/ppromawarenessuk. Anggota FB Group-nya ada lebih dari 5000 orang, jauuuh lebih banyak daripada FB Group yang saya ikuti di atas, karena Little Heartbeats memang berbentuk Yayasan dan tidak spesifik hanya pada PPROM sebelum 24 minggu.

Hal yang menarik dari Little Heartbeats adalah mereka memberikan PPROM Information Pack secara cuma-cuma (gratis!) yang isinya tidak hanya lembaran informasi tentang PPROM melainkan juga adult coloring book (untuk mengisi waktu selama bedrest) dan boneka. Boneka ini spesial, karena ibu bisa merekam detak jantung bayi dan menyimpannya dalam boneka ini sebagai kenang-kenangan (apalagi kalau kelak ternyata bayinya tidak bertahan hidup). Untuk mendapatkan PPROM Information Pack ini, ibu hanya perlu mengirimkan private message ke Little Heartbeats yang berisi informasi berikut:

  1. Usia kehamilan saat PPROM terjadi
  2. Usia kehamilan saat ini
  3. Berapa banyak air ketuban ibu saat ini
  4. Alamat lengkap (untuk pengiriman Information Pack)

Walau berada di UK, Little Heartbeats mengirimkan Information Pack ini ke banyak negara di seluruh dunia. Jadi Indonesia juga termasuk.

Saya sendiri akhirnya memutuskan untuk tidak meminta Information Pack ini karena saya pribadi merasa tidak enak karena tidak bisa mengirimkan donasi ke Little Heartbeats. Sebagai organisasi nirlaba, Little Heartbeats bergantung pada donatur.

Kalau Anda memutuskan untuk meminta Information Pack ini dan berhasil mendapatkannya, share di Comment ya!

[ki-ka] Tampilan FB Page Little Heartbeats, informasi bagaimana mendapatkan PPROM Information Pack dari Little Heartbeats, dan PPROM Information Pack.

PPROM Regimen

“Regimen” means a prescribed course of medical treatment, way of life, or diet for the promotion or restoration of health

Di Amerika, organisasi nirlaba yang fokus pada PPROM adalah The PPROM Foundation (www.aapprom.org). Salah satu content dari websitenya yang banyak menjadi referensi Ibu-Ibu di FB Page yang saya ikuti adalah PPROM Regimen (www.aapprom.org/theregimen). Tapi harus tetap diingat, saran dokter Anda tetap memiliki otoritas yang lebih tinggi daripada regimen di website ini.

The PPROM Regimen yang dijadikan referensi oleh banyak ibu-ibu di PPROM Facebook Group

Mommies, did your water break? Don’t let your hope break too!

BERAPA HARGA YANG HARUS DIBAYAR?

[Sebagai referensi untuk membantu suami-istri senasib dalam mengambil keputusan]

“Selama ini, kasus yang gue temuin pasti keluarganya memutuskan untuk ambil pilihan terminate atau let it be. Mungkin karena gue di rural kali ya, jadi pasiennya males ribet. Dan tentu masalahnya di waktu dan biaya.”

Kalimat di atas adalah penggalan ketikan jari Anita, teman SMP saya yang pintar yang kini adalah seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan di Semarang, saat saya meminta masukannya mengenai opsi apa yang sebaiknya saya ambil untuk bayi PPROM di kandungan saya: (1) terminate, (2) let it be/let nature decide, atau (3) full effort

Apakah Anda atau istri Anda atau orang yang Anda kasihi mengalami PROM/PPROM dan bingung pilihan apa yang harus diambil? Terlepas dari apakah Anda orang yang percaya kuasa Tuhan atau tidak, pro-life atau pro-choice, sudah atau belum memiliki anak, ada baiknya mengetahui ‘harga’ yang harus Anda bayar bila mengambil opsi ketiga: full effort. ‘Harga’ di sini bukan hanya uang rupiah yang harus Anda keluarkan, tapi juga harga immaterial lainnya. Semuanya didasarkan pada pengalaman saya sendiri.

Jadi, berapa harga yang harus dibayar?

1. Waktu

Ini adalah periode sejak PPROM terjadi hingga melahirkan. Lamanya tidak bisa dipastikan karena tergantung sejak usia kehamilan berapa PPROM terjadi dan tergantung berapa lama bayi bertahan (dan bisa ditahan) di dalam kandungan. Bayi PPROM pasti (di)lahir(kan) prematur karena – mengingat resikonya – hanya ditahan hingga usia kehamilan 32-34 minggu. Secara umum, semakin muda usia kandungan saat PPROM terjadi, semakin panjang waktu yang dibutuhkan menuju kelahiran.

Selama rentang waktu ini, Anda harus bedrest total, baik itu di rumah maupun di rumah sakit, mana yang Anda pilih. Bedrest artinya melakukan semua aktivitas Anda di atas tempat tidur, atau dengan kata lain, tidak berdiri di atas kaki Anda, kecuali untuk ke toilet. Ini artinya Anda tidak bisa bekerja seperti biasa, tidak bisa mengurus anak seperti biasa (kalau sudah ada anak), dan tidak bisa mengurus rumah seperti biasa. Apakah Anda memiliki waktu untuk ini? Berapa bulan waktu yang Anda punya? Kalau Anda karyawan kantoran, berapa bulan cuti sakit yang bisa Anda dapatkan? Kalau Anda punya anak kecil, seberapa kuat support system Anda? Kalau Anda wirausaha, seberapa lama bisnis Anda bisa berjalan tanpa kehadiran fisik Anda?

Bedrest is a must kalau Anda memutuskan mengambil opsi ketiga Full Effort. Kalau Anda setengah-setengah menjalankan bedrest, maka sama saja mengambil opsi kedua yaitu Let It Be. Dalam kasus saya, saya beruntung karena memiliki cukup waktu karena kantor saya mengikuti aturan cuti sakit panjang dari Departemen Tenaga Kerja dan karena saya memiliki support system yang kuat.

2. Biaya

Biaya untuk opsi ketiga Full Effort mencakup biaya rawat jalan, rawat inap, melahirkan, dan NICU. Di dalamnya termasuk biaya laboratorium, dokter, dan obat-obatan.

Besaran proporsi rawat jalan dan rawat inap tergantung dokter Anda dan Anda. Di Amerika, karena janin dianggap viable saat berusia 24 minggu, maka rawat inap baru bisa dilakukan bila usia kandungan minimal sudah 24 minggu. Di negara lain, ada yang menganut viability 28 minggu. Di Indonesia sendiri, berdasarkan pengalaman saya, dokter mengijinkan rawat inap berapa pun usia kandungan kita. Terkait biaya, tentu saja semakin lama rawat inap kita, semakin besar biaya yang harus dikeluarkan. Karena itu, kalau memang tidak ada keluhan serius, kita bisa memilih untuk rawat jalan saja (bedrest di rumah) paling tidak hingga usia kehamilan kita 24 atau 28 minggu untuk menekan biaya.

Mengenai NICU, realistis saja, bayi PPROM pasti memerlukan NICU karena ia pasti lahir prematur. Hanya saja, seberapa lama bayi harus dirawat di NICU dan seberapa tinggi level perawatan di NICU yang dibutuhkan akan berbeda-beda tergantung kondisi bayi. Karena itulah biaya NICU sulit diprediksi; bisa puluhan juta mendekati seratus juta, bisa ratusan juta mendekati satu miliar. Intinya, semakin sedikit kekurangan bayinya sehingga semakin pendek waktu yang diperlukan di NICU, semakin rendah biayanya.

Sebagai gambaran, berikut ini biaya yang saya keluarkan selama hampir 13 minggu, yaitu sejak usia kehamilan 13 minggu saat PPROM terjadi hingga melahirkan di usia kehamilan 25 minggu 4 hari:

A. Rawat jalan:

  • Pemeriksaan lab komprehensif di awal, untuk memutuskan apakah Full Effort feasible untuk dilakukan: Rp 3,6 juta.
  • Rawat jalan ke dokter spesialis, dengan USG setiap rawat jalan: sekitar Rp 900 ribu per rawat jalan.
  • Transabdominal infusion, yaitu penambahan cairan ketuban melalui jarum suntik yang ditusukkan di perut langsung ke amniotic sac: Rp 6,8 juta. FYI, harga jarumnya saja sudah Rp 5,2 juta sendiri.
  • B. Rawat Inap

  • Rawat inap pertama selama 10 malam di kamar Rp1.600.000 per malam: Rp46,902,700. Tindakan medis yang dilakukan di sini adalah mencoba meningkatkan jumlah cairan ketuban melalui infus.
  • Rawat inap kedua selama 35 malam di kamar Rp1.200.000 per malam: Rp133.581.125. Tindakan medis yang dilakukan di sini mencakup operasi pemasangan celsite dan cerclage, transabdominal infusion melalui celcite beberapa kali, bedrest, pemberian obat-obatan seperti antibiotik, antikontraksi, vitamin, dan steroid dan magnesium shots, dan pengangkatan cerclage.
  • C. Melahirkan

    Operasi c-section sekaligus mengangkat celsite di kamar Rp1.200.000 per malam selama 2 malam: Rp32.475.825.

    D. NICU

    NICU dengan level tertinggi (maximum handling) sejak kelahiran hingga kematian bayi (hanya bertahan 10 jam saja): Rp32.260.000.

    Total poin B, C, dan D adalah Rp245,219,650. Bila ditambah dengan perkiraan biaya rawat jalan pada poin A di atas dan biaya pemakaman, maka biaya yang terjadi mencapai 275 juta rupiah. Ini belum termasuk biaya non-medis lainnya, misalnya biaya transportasi bolak-balik ke rumah sakit, biaya membeli keperluan rawat inap seperti pembalut dan disposible underwear, biaya membeli kertas lakmus, dll. Penghitungan biaya ini juga belum termasuk opportunity cost akibat berkurangnya pendapatan karena tidak bekerja dan additional cost akibat membayar upah lembur babysitter.

    Biaya yang saya keluarkan ini bisa dikatakan cukup “sedikit”, karena NICU-nya hanya kurang dari satu hari saja. Bayangkan bila NICU-nya harus hitungan bulan… Dan dalam kasus saya, saya beruntung karena terbantu asuransi dari kantor yang terms and condition-nya cukup bagus (misalnya menjamin biaya medis anak sejak usia 0 hari), dan karena suami saya wirausaha yang pendapatannya bisa tetap berjalan walaupun tidak berada di kantor.

    3. Emosi

    Selain pengorbanan waktu dan biaya, Anda dan pasangan harus siap mental berkorban emosi. Masa pengobatan yang panjang yang memporakporandakan rutinitas Anda – belum lagi memisahkan Anda dari anak-anak Anda – pada akhirnya pasti akan membuat Anda dan pasangan burn out. Tapi di sisi lain, menderita bersama pasangan bisa juga membuat hubungan Anda dengan pasangan menjadi lebih kuat dibandingkan sebelumnya.

    Setelah menghitung-hitung biaya waktu, uang, dan emosi yang kira-kira harus Anda bayar, Anda harus mengingat hal ini: Berapa pun biaya yang sanggup Anda keluarkan, bagaimana pun ketatnya Anda bedrest, seberapa pun jagonya dokter Anda, tidak akan ada yang bisa menjamin bahwa bayi Anda akan bertahan hidup atau lahir tanpa cacat.

    Jadi, apakah Anda masih mau membayar harganya tanpa kepastian hasil akhirnya?

    PERLENGKAPAN PERANG

    Tidak ada prajurit yang pergi ke medan perang tanpa senjata; seorang Daud pun tetap membawa batu dan ketapelnya. Kalau begitu, perlengkapan apa yang harus kita siapkan dalam pertempuran melawan Ketuban Pecah Dini (KPD/PPROM)?

    1. Asupan Cairan

    Karena masalah yang ditimbulkan PPROM adalah berkurangnya jumlah air ketuban, maka yang harus dilakukan adalah meningkatkan jumlahnya. Cara alami untuk melakukannya adalah dengan memberi badan asupan cairan yang lebih banyak dari biasanya. Cairan terbaik tentu saja adalah air putih biasa dalam suhu ruang atau hangat. Usahakan minum lebih banyak dari biasanya, sekitar 3 liter per hari. Menurut beberapa member di PPROM Page yang saya ikuti, air kelapa dan gula stevia yang dilarutkan di minuman seperti teh juga bisa membantu.

    Pastikan gula Stevianya bukan sekedar penggunaan nama ‘Stevia’ tetapi benar-benar terbuat dari daun Stevia

    2. Doppler

    Bayi PPROM dapat meninggal sewaktu-waktu di dalam janin. Bila ini terjadi, bayi harus lekas dilahirkan (still birth) karena dapat menyebabkan infeksi yang mengakibatkan kematian ibu. Semakin tua usia kandungan, semakin cepat bayi harus dikeluarkan. Salah satu cara untuk mengetahui apakah bayi yang dikandung masih hidup atau tidak adalah dengan mencari detak jantung bayi menggunakan alat Doppler.

    Doppler juga mengukur seberapa cepat detak jantung bayi. Berdasarkan info dari para perawat yang merawat saya selama bedrest di rumah sakit, detak jantung normal adalah 120 sampai 160. Saat detak jantung bayi di atas 160, cobalah untuk lebih rileks dengan menarik nafas panjang. Detak jantung bayi biasanya akan kembali normal mengikuti rileksnya Ibu. Detak jantung bayi juga bisa menjadi lebih cepat bila Ibu mengalami demam.

    Ada dua hal yang harus diingat dalam menggunakan Doppler. Pertama, kemampuan Doppler mendeteksi detak jantung bayi tergantung pada usia kehamilan dan pada kualitas alat. Kedua, saat mencari detak jantung bayi, bedakan bunyi detak jantung bayi dengan bunyi bising usus ibu. Ada baiknya menggunakan Doppler tidak dalam keadaan lapar.

    Cari dan ukurlah detak jantung bayi Anda setiap 6 sampai 8 jam sekali. Bila detak tidak terdeteksi atau bila detak sangat cepat, apalagi bila disertai demam, segeralah pergi ke rumah sakit.

    Doppler yang saya pakai

    3. Termometer

    Salah satu resiko PPROM adalah infeksi. Begitu tanda-tanda infeksi terjadi, ibu hamil harus segera ke rumah sakit. Terlambat menangani infeksi dapat menyebabkan kematian bayi dan juga ibu hamil itu sendiri.

    Salah satu tanda adanya infeksi adalah demam. Karena itu, pastikan termometer tersedia di kotak P3K di rumah. Begitu Anda mulai merasa akan demam/meriang, cek suhu tubuh dengan termometer. Bila suhu di atas normal, walaupun hanya sedikit di atas normal, bersiap-siaplah ke rumah sakit. Apalagi bila disertai vaginal discharge berwarna kehijauan. Better safe than sorry.

    4. Kertas Lakmus

    Ibu dengan kehamilan normal mengeluarkan vaginal discharge; Ibu dengan kehamilan KPD mengeluarkan vaginal discharge termasuk air ketuban. Bagaimana membedakannya? Gunakan kertas lakmus yang berfungsi mengukur pH cairan. Begitu terasa ada cairan keluar dari vagina, letakkan kertas lakmus di mulut vagina, tutup/apit dengan celana dalam, dan tunggu sebentar. Ambil kertas lakmus tersebut dan cek hasil pengukuran pH-nya. Bila kertas lakmus menunjukkan pH > 7, berarti cairan yang keluar adalah air ketuban.

    Kertas lakmus yang saya pakai. Bisa menentukan pH cairan dari pH 0 sampai 14.

    Sebetulnya ada tipe kertas lakmus yang pengukurannya lebih sederhana yaitu kertas lakmus satu warna: biru (basa) atau merah (asam). Untuk keperluan deteksi air ketuban, gunakan kertas lakmus merah (asam). Bila memang cairan yang kita uji adalah air ketuban, maka lakmus merah akan berubah warna menjadi biru karena air ketuban bersifat basa.

    5. Pembalut

    Air ketuban berbentuk cair (watery), bening, dan tidak berbau tidak wangi (kalau tidak bisa dibilang wangi). Selama mengandung bayi KPD, begitu banyak variasi vaginal discharge  yang terjadi. Ada saatnya tidak ada air ketuban yang keluar, ada saatnya air ketuban keluar. Saat air ketuban keluar, ada saatnya berupa rembesan sedikit demi sedikit, ada saatnya berupa one big gush. Ada saatnya hanya air ketuban yang keluar, ada saatnya air ketuban bercampur darah, atau bahkan darah saja. Ada saatnya bercampur lendir, ada saatnya cairan saja. Ada saatnya berwarna bening, pinkish, kecoklatan, merah darah segar, atau bahkan kehijauan. Ada saatnya berlangsung beberapa jam saja lalu berhenti, ada saatnya berlangsung berhari-hari tanpa henti.

    Semua cairan yang keluar dari vagina ini – bentuknya, warnanya, volumenya – harus diketahui untuk dicatat (bahkan difoto) untuk kemudian dilaporkan ke dokter. Karena itu, untuk memudahkan observasi (dan tentu saja untuk higienitas), siapkanlah semua tipe pembalut: Panty Liner, Day, dan Night. Panty Liner saat yang keluar hanyalah vaginal discharge biasa, Day saat yang keluar adalah cairan dengan volume sedang, Night saat yang keluar adalah cairan dengan volume tinggi atau sedang. Pembalut Night yang berukuran lebih panjang sangat membantu mencegah bocor belakang karena ibu hamil KPD yang bedrest tentu menghabiskan banyak waktunya untuk berbaring saja.

    Apapun jenis pembalut yang Anda pakai, demi menjaga kebersihan vagina untuk mencegah infeksi, gantilah pembalut setiap kali buang air kecil atau sebelum itu bila memang pembalut sudah terasa penuh.

    6. Sebamed

    Sebagaimana dijelaskan di atas, momok dari KPD adalah infeksi. Untuk mencegah infeksi terjadi terlalu dini, kebersihan badan dan kamar perlu dijaga selama bedrest. Badan harus bersih, pakaian diganti setiap hari, sprei diganti rutin, kamar disapu dan dipel setiap hari.

    Untuk kebersihan badan selama kehamilan KPD, saking parno-nya, saya mengganti sabun dan sampo saya dengan sabun dan sampo Sebamed, dan saya juga menggunakan pembersih kewanitaan sebamed. Pada prakteknya, saat bedrest di rumah sakit Sebamed ini (apalagi samponya) jarang saya gunakan karena saya lebih sering dimandikan (di lap) oleh suster di atas tempat tidur menggunakan tissue khusus daripada mandi sendiri di kamar mandi. Kalau Anda memilih untuk lebih banyak bedrest di rumah, maka Sebamed ini bisa menjadi pilihan.

    7. Aplikasi BabyCenter

    Pada kehamilan normal, pecah ketuban adalah salah satu tanda bahwa kelahiran akan segera terjadi. Hal yang sama berlaku pada kehamilan PPROM (Ketuban Pecah Dini), di mana badan ibu akan menganggap bahwa saatnya mengeluarkan bayi sudah tiba. Karena itulah tujuan utama perawatan ibu PPROM adalah menahan bayi selama mungkin di kandungan – jangan melahirkan dulu – hingga usia kehamilan paling tidak masuk ke trimester ketiga, yaitu 7 bulan atau 28 minggu. Syukur-syukur bisa mencapai 32-34 minggu.

    Ibu PPROM yang bedrest adalah ibu yang menghitung hari, menghitung minggu… Berharap dengan cemas bahwa bayinya akan tetap bertahan di dalam kandungan selama mungkin sebelum akhirnya infeksi menghadang dan bayi harus dilahirkan. Salah satu aplikasi smartphone yang bisa dipakai untuk ‘menghitung hari’ ini adalah BabyCenter. Ibu tinggal masukkan tanggal Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT), dan BabyCenter akan otomatis menampilkan usia kehamilan saat ini di landing page aplikasi. BabyCenter juga memberi informasi tentang perkembangan bayi minggu demi minggu – disertai ilustrasi bayi pada minggu tersebut – dan juga menyediakan artikel-artikel bagus setiap harinya sesuai usia kehamilan ibu.

    Contoh tampilan aplikasi BabyCenter

    ‘Menghitung hari’ dapat dibawa cemas, tapi dapat juga dibawa ke rasa syukur karena hari itu ibu belum harus melahirkan. Saat membuka aplikasi BabyCenter setiap harinya, ibu dapat tersenyum dan berkata “Today I am pregnant… let’s celebrate!”

    KEMANA KAMI HARUS PERGI?

    Mendengar diagnosa dokter bahwa kita mengalami PPROM sungguh bagaikan terkena petir di siang hari yang cerah. Apalagi bila dokter kita langsung memvonis bahwa tidak ada harapan sama sekali…

    Bila Anda masih mau berharap dan berusaha, maka pergilah mencari bantuan ke dokter dan rumah sakit yang tepat.

    Dokter

    Di atas dokter umum, ada dokter spesialis. Di atas dokter spesialis, ada dokter sub-spesialis atau dokter konsultan. Bila memungkinkan, ibu hamil dengan PPROM sebaiknya pergi berobat tidak ke SpOG tetapi ke SpOG(K) yang sub-spesialisasinya adalah Kelainan Janin (Maternal-Fetal Medicine / MFM). Lebih jauh lagi, carilah MFMS (Maternal-Fetal Medicine Specialist) yang berpengalaman yang terus-menerus praktek di bidangnya, karena ini artinya semakin banyak kasus yang dia lihat dan tangani. Lebih baik lagi bila MFMS ini praktek setiap hari di rumah sakit yang sama. Jadi in case Anda perlu dirawat inap, doctor visit dapat dilakukan setiap hari oleh dokter Anda sendiri.

    Rumah Sakit

    Pilihlah rumah sakit yang memiliki fasilitas NICU. Ini wajib, karena bayi PPROM Anda pasti akan lahir prematur. Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) biasanya memiliki peralatan dan tenaga medis (dokter, bidan, perawat) yang lebih terbiasa menangani kasus high-risk pregnancies dibandingkan dengan Rumah Sakit Umum. Pertimbangkan juga jarak dari tempat tinggal Anda ke rumah sakit. Semakin sebentar waktu tempuhnya, semakin baik.

    Antara RSIA dan RSU, sebisa mungkin pilihlah RSIA

    Dalam kasus saya, saya ditangani oleh Dr. dr. Noroyono Wibowo, SpOG(K) di RSIA Bunda Menteng. Dokter Bowo, sebagaimana ia biasa dipanggil, adalah lulusan Universitas Indonesia dan pengajar di FKUI. Profilnya bisa dilihat di sini. Dokter Spesialis Anak untuk anak saya dipilih sendiri oleh dr. Bowo, yaitu dr. R. Adhi Teguh, SpA(K), juga lulusan Universitas Indonesia.

    APA ITU PPROM?

    Ada PPROM, ada PROM. Keduanya adalah yang kita kenal dengan Ketuban Pecah Dini (KPD). Bedanya, PROM – Premature Rupture of Membranes – adalah ketuban yang pecah di usia kehamilan lebih dari 37 minggu tetapi sebelum persalinan (labor) dimulai. Kondisi dimana ketuban pecah sebelum kehamilan berusia 37 minggu disebut PPROM – Preterm Premature Rupture of Membranes.

    Pecahnya ketuban membuat air ketuban merembes atau mengalir keluar badan ibu melalui vagina. Ini mengakibatkan air ketuban di kantong ketuban tinggal sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali (tidak dapat diukur). Kondisi dimana air ketuban kurang dari semestinya disebut sebagai oligohydramnios.

    Berikut ini adalah highlights mengenai PPROM:

    Dalam sebagian besar kasus, penyebab PPROM tidak dapat diketahui dengan pasti. Tetapi, faktor-faktor berikut diketahui dapat meningkatkan resiko PPROM:

    • Kehamilan sebelumnya berakhir dengan kelahiran prematur
    • Adanya infeksi (misalnya urinary tract infection)
    • Merokok, minum minuman keras selama hamil

    PPROM dapat terjadi di semua trimester kehamilan. Jadi bisa terjadi di trimester pertama, kedua, atau pun ketiga. Semakin dini PPROM terjadi, semakin panjang latency period. Latency period adalah periode sejak PPROM terjadi hingga persalinan terjadi. Seberapa besar kemungkinan bayi PPROM bertahan hidup setelah dilahirkan lebih ditentukan pada usia kehamilan saat melahirkan, bukan usia kehamilan saat PPROM terjadi dan bukan pada seberapa panjang latency period-nya.

    Membranes yang rupture dapat menutup kembali (reseal). Tetapi mengingat probabilitasnya yang sangat kecil sekali, sebaiknya jangan berharap banyak reseal akan terjadi.

    PPROM termasuk high-risk pregnancy dengan resiko terbesar sbb:

    1. Infeksi

    Karena kantong ketuban tidak tertutup rapat, maka jalan masuk bakteri untuk terjadinya infeksi terbuka. Infeksi yang tidak tertangani dengan cepat dan baik dapat menyebabkan kematian janin dan ibu.Terganggunya perkembangan janin.

    2. Terganggunya perkembangan janin.

    Ini terkait dengan tidak bisanya air ketuban menjalankan fungsinya sepenuhnya karena jumlahnya sangat sedikit karena adanya kebocoran di kantong ketuban.

    • Sistem pernapasan bayi tidak dapat berkembang sempurna karena air ketuban tidak cukup banyak untuk dihirup bayi;
    • Sistem pencernaan bayi tidak dapat bekerja sempurna karena bayi tidak bisa/hanya sedikit menelan air ketuban;
    • Bayi kekurangan ruang untuk bergerak sehingga tidak bisa melatih otot-ototnya (tidak bisa latihan menendang, misalnya);
    • Tali pusar (umbilical cord) dapat menekan bayi seiring membesarnya ukuran badan bayi karena tidak ada air ketuban yang berperan sebagai bantalan (cushion);
    • Tekanan terus-menerus dari kantong ketuban yang rupture pada akhirnya dapat membuat plasenta – yang bertugas memberikan oksigen dan nutrisi ke janin – terlepas dari dinding rahim sebelum waktunya (placental abruption).

    3. Kelahiran Prematur.

    • Bayi PPROM tidak akan bertahan hingga full-term di dalam kandungan karena badan ibu akan cenderung melahirkan bayi PPROM karena ketuban sudah pecah. Yang bisa dilakukan adalah mempertahankan bayi PPROM selama mungkin di dalam kandungan hingga viable. Viable artinya bayi sudah memiliki kemungkinan hidup di luar kandungan; dengan alat bantu, tentu saja (NICU). Sebelum mencapai viability, teknologi NICU tercanggih di dunia ini tidak dapat membantu. Di Amerika, viability adalah 24 minggu dengan berat badan bayi minimal 500 gram. Di negara lain termasuk Indonesia, viability adalah 28 minggu.
    • Seandainya bayi PPROM berhasil tetap bertahan di dalam kandungan hingga melewati viability, bayi PPROM tetap harus dilahirkan prematur karena menunda persalinan hingga lebih dari 34 minggu meningkatkan resiko infeksi (sepsis) yang dapat menyebabkan kematian janin dan ibu.
    • Semakin prematur bayi dilahirkan dan semakin rendah berat badannya, semakin kecil kemungkinan ia bertahan hidup, semakin lama ia harus dirawat di NICU, dan semakin besar kemungkinan ia memiliki masalah kesehatan (jangka pendek maupun panjang).

    Karena resiko yang ditimbulkan PPROM sangat besar – baik bagi ibu maupun bayi – maka biasanya dokter menyarankan untuk menghentikan kehamilan. Semakin segera terminasi dilakukan sebelum viability, semakin baik. Bila opsi terminasi ini diambil, bayi bukan digugurkan di dalam kandungan untuk kemudian dikeluarkan. Sebaliknya, ibu akan diinduksi supaya bayi bisa keluar secara normal (dengan kata lain, Ibu melahirkan bayi) untuk kemudian dibiarkan gugur secara natural karena kondisi fisiknya, terutama paru-parunya, belum siap menghadapi dunia luar.

    Bila opsi terminasi tidak diambil, kehamilan akan dipertahankan selama mungkin dengan expectant management. Ibu harus bedrest total, hidrasi terjaga baik (banyak minum), asupan gizi dan vitamin terjaga baik. Selama expectant management berlangsung, ibu (bila bedrest di rumah) atau tenaga medis (bila hospital bedrest) harus memonitor gejala infeksi dan tanda-tanda kontraksi, dan menghindari pemeriksaan internal melalui vagina yang tidak terlalu diperlukan. Begitu kehamilan mencapai viability, maka dokter bisa memberikan corticosteroids/steroid shot untuk membantu mempercepat perkembangan paru-paru bayi. Magnesium sulfate/magnesium shot – untuk membantu perkembangan otak bayi – juga biasanya diberikan. Bila Anda mengalami PPROM, jangan lupa minta steroid dan magnesium shots pada dokter Anda.     

    Selain expectant management, tindakan lain yang bisa dilakukan adalah meningkatkan volume air ketuban dengan serial transabdominal amnioinfusion. Amnioinfusion artinya memasukkan cairan isotonik langsung ke dalam kantong ketuban. Transabdominal artinya cairan dimasukkan lewat perut, yaitu melalui jarum panjang yang ditusukkan di perut ibu. Karena kantong ketubannya rupture, maka pada akhirnya cairan yang sudah berhasil dimasukkan ke kantong ketuban akan merembes keluar lagi sehingga volume air ketuban menjadi kurang lagi. Dalam hal ini, amnioinfusion dilakukan lagi (karena itu disebut ‘serial’).