KEMANA KAMI HARUS PERGI?

Mendengar diagnosa dokter bahwa kita mengalami PPROM sungguh bagaikan terkena petir di siang hari yang cerah. Apalagi bila dokter kita langsung memvonis bahwa tidak ada harapan sama sekali…

Bila Anda masih mau berharap dan berusaha, maka pergilah mencari bantuan ke dokter dan rumah sakit yang tepat.

Dokter

Di atas dokter umum, ada dokter spesialis. Di atas dokter spesialis, ada dokter sub-spesialis atau dokter konsultan. Bila memungkinkan, ibu hamil dengan PPROM sebaiknya pergi berobat tidak ke SpOG tetapi ke SpOG(K) yang sub-spesialisasinya adalah Kelainan Janin (Maternal-Fetal Medicine / MFM). Lebih jauh lagi, carilah MFMS (Maternal-Fetal Medicine Specialist) yang berpengalaman yang terus-menerus praktek di bidangnya, karena ini artinya semakin banyak kasus yang dia lihat dan tangani. Lebih baik lagi bila MFMS ini praktek setiap hari di rumah sakit yang sama. Jadi in case Anda perlu dirawat inap, doctor visit dapat dilakukan setiap hari oleh dokter Anda sendiri.

Rumah Sakit

Pilihlah rumah sakit yang memiliki fasilitas NICU. Ini wajib, karena bayi PPROM Anda pasti akan lahir prematur. Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) biasanya memiliki peralatan dan tenaga medis (dokter, bidan, perawat) yang lebih terbiasa menangani kasus high-risk pregnancies dibandingkan dengan Rumah Sakit Umum. Pertimbangkan juga jarak dari tempat tinggal Anda ke rumah sakit. Semakin sebentar waktu tempuhnya, semakin baik.

Antara RSIA dan RSU, sebisa mungkin pilihlah RSIA

Dalam kasus saya, saya ditangani oleh Dr. dr. Noroyono Wibowo, SpOG(K) di RSIA Bunda Menteng. Dokter Bowo, sebagaimana ia biasa dipanggil, adalah lulusan Universitas Indonesia dan pengajar di FKUI. Profilnya bisa dilihat di sini. Dokter Spesialis Anak untuk anak saya dipilih sendiri oleh dr. Bowo, yaitu dr. R. Adhi Teguh, SpA(K), juga lulusan Universitas Indonesia.

APA ITU PPROM?

Ada PPROM, ada PROM. Keduanya adalah yang kita kenal dengan Ketuban Pecah Dini (KPD). Bedanya, PROM – Premature Rupture of Membranes – adalah ketuban yang pecah di usia kehamilan lebih dari 37 minggu tetapi sebelum persalinan (labor) dimulai. Kondisi dimana ketuban pecah sebelum kehamilan berusia 37 minggu disebut PPROM – Preterm Premature Rupture of Membranes.

Pecahnya ketuban membuat air ketuban merembes atau mengalir keluar badan ibu melalui vagina. Ini mengakibatkan air ketuban di kantong ketuban tinggal sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali (tidak dapat diukur). Kondisi dimana air ketuban kurang dari semestinya disebut sebagai oligohydramnios.

Berikut ini adalah highlights mengenai PPROM:

Dalam sebagian besar kasus, penyebab PPROM tidak dapat diketahui dengan pasti. Tetapi, faktor-faktor berikut diketahui dapat meningkatkan resiko PPROM:

  • Kehamilan sebelumnya berakhir dengan kelahiran prematur
  • Adanya infeksi (misalnya urinary tract infection)
  • Merokok, minum minuman keras selama hamil

PPROM dapat terjadi di semua trimester kehamilan. Jadi bisa terjadi di trimester pertama, kedua, atau pun ketiga. Semakin dini PPROM terjadi, semakin panjang latency period. Latency period adalah periode sejak PPROM terjadi hingga persalinan terjadi. Seberapa besar kemungkinan bayi PPROM bertahan hidup setelah dilahirkan lebih ditentukan pada usia kehamilan saat melahirkan, bukan usia kehamilan saat PPROM terjadi dan bukan pada seberapa panjang latency period-nya.

Membranes yang rupture dapat menutup kembali (reseal). Tetapi mengingat probabilitasnya yang sangat kecil sekali, sebaiknya jangan berharap banyak reseal akan terjadi.

PPROM termasuk high-risk pregnancy dengan resiko terbesar sbb:

1. Infeksi

Karena kantong ketuban tidak tertutup rapat, maka jalan masuk bakteri untuk terjadinya infeksi terbuka. Infeksi yang tidak tertangani dengan cepat dan baik dapat menyebabkan kematian janin dan ibu.Terganggunya perkembangan janin.

2. Terganggunya perkembangan janin.

Ini terkait dengan tidak bisanya air ketuban menjalankan fungsinya sepenuhnya karena jumlahnya sangat sedikit karena adanya kebocoran di kantong ketuban.

  • Sistem pernapasan bayi tidak dapat berkembang sempurna karena air ketuban tidak cukup banyak untuk dihirup bayi;
  • Sistem pencernaan bayi tidak dapat bekerja sempurna karena bayi tidak bisa/hanya sedikit menelan air ketuban;
  • Bayi kekurangan ruang untuk bergerak sehingga tidak bisa melatih otot-ototnya (tidak bisa latihan menendang, misalnya);
  • Tali pusar (umbilical cord) dapat menekan bayi seiring membesarnya ukuran badan bayi karena tidak ada air ketuban yang berperan sebagai bantalan (cushion);
  • Tekanan terus-menerus dari kantong ketuban yang rupture pada akhirnya dapat membuat plasenta – yang bertugas memberikan oksigen dan nutrisi ke janin – terlepas dari dinding rahim sebelum waktunya (placental abruption).

3. Kelahiran Prematur.

  • Bayi PPROM tidak akan bertahan hingga full-term di dalam kandungan karena badan ibu akan cenderung melahirkan bayi PPROM karena ketuban sudah pecah. Yang bisa dilakukan adalah mempertahankan bayi PPROM selama mungkin di dalam kandungan hingga viable. Viable artinya bayi sudah memiliki kemungkinan hidup di luar kandungan; dengan alat bantu, tentu saja (NICU). Sebelum mencapai viability, teknologi NICU tercanggih di dunia ini tidak dapat membantu. Di Amerika, viability adalah 24 minggu dengan berat badan bayi minimal 500 gram. Di negara lain termasuk Indonesia, viability adalah 28 minggu.
  • Seandainya bayi PPROM berhasil tetap bertahan di dalam kandungan hingga melewati viability, bayi PPROM tetap harus dilahirkan prematur karena menunda persalinan hingga lebih dari 34 minggu meningkatkan resiko infeksi (sepsis) yang dapat menyebabkan kematian janin dan ibu.
  • Semakin prematur bayi dilahirkan dan semakin rendah berat badannya, semakin kecil kemungkinan ia bertahan hidup, semakin lama ia harus dirawat di NICU, dan semakin besar kemungkinan ia memiliki masalah kesehatan (jangka pendek maupun panjang).

Karena resiko yang ditimbulkan PPROM sangat besar – baik bagi ibu maupun bayi – maka biasanya dokter menyarankan untuk menghentikan kehamilan. Semakin segera terminasi dilakukan sebelum viability, semakin baik. Bila opsi terminasi ini diambil, bayi bukan digugurkan di dalam kandungan untuk kemudian dikeluarkan. Sebaliknya, ibu akan diinduksi supaya bayi bisa keluar secara normal (dengan kata lain, Ibu melahirkan bayi) untuk kemudian dibiarkan gugur secara natural karena kondisi fisiknya, terutama paru-parunya, belum siap menghadapi dunia luar.

Bila opsi terminasi tidak diambil, kehamilan akan dipertahankan selama mungkin dengan expectant management. Ibu harus bedrest total, hidrasi terjaga baik (banyak minum), asupan gizi dan vitamin terjaga baik. Selama expectant management berlangsung, ibu (bila bedrest di rumah) atau tenaga medis (bila hospital bedrest) harus memonitor gejala infeksi dan tanda-tanda kontraksi, dan menghindari pemeriksaan internal melalui vagina yang tidak terlalu diperlukan. Begitu kehamilan mencapai viability, maka dokter bisa memberikan corticosteroids/steroid shot untuk membantu mempercepat perkembangan paru-paru bayi. Magnesium sulfate/magnesium shot – untuk membantu perkembangan otak bayi – juga biasanya diberikan. Bila Anda mengalami PPROM, jangan lupa minta steroid dan magnesium shots pada dokter Anda.     

Selain expectant management, tindakan lain yang bisa dilakukan adalah meningkatkan volume air ketuban dengan serial transabdominal amnioinfusion. Amnioinfusion artinya memasukkan cairan isotonik langsung ke dalam kantong ketuban. Transabdominal artinya cairan dimasukkan lewat perut, yaitu melalui jarum panjang yang ditusukkan di perut ibu. Karena kantong ketubannya rupture, maka pada akhirnya cairan yang sudah berhasil dimasukkan ke kantong ketuban akan merembes keluar lagi sehingga volume air ketuban menjadi kurang lagi. Dalam hal ini, amnioinfusion dilakukan lagi (karena itu disebut ‘serial’).