Snorkeling

Aku tidak sadar betapa nikmatnya bernapas lewat hidung sampai aku mengenakan snorkel yang membuat bernapas melalui hidung menjadi tidak mungkin sehingga memaksaku bernapas lewat mulut. Menarik napas menjadi pekerjaan yang berat saat snorkel kujejalkan ke dalam mulut dan kugigit dengan gigi geligiku yang terpasung kawat gigi. Menarik napas menjadi tantangan saat aku menceburkan badan ke laut, dikelilingi air yang banyaknya tak terhitung, yang mengombak, yang terasa asin.

“Nah, sekarang coba masukkan kepalanya ke dalam air”, kata pelatih snorkeling. Kucoba perlahan. Ah, belum sampai poniku basah oleh air, aku sudah mengangkat kepalaku ke permukaan. “Aku tidak bisa bernapas!”, engahku. “Rileks saja, tidak apa-apa. Bernapas dengan snorkel akan menjadi mudah saat kita di dalam air, tidak seberat saat kita di luar air”, nasehat sang pelatih.

Karena keinginan memiliki pengalaman snorkeling begitu kuat, maka kucoba dan kucoba lagi membiasakan tubuh ini dengan snorkel. Masih berat, masih sulit, masih ragu. Tapi pelatih membawaku ke tempat yang lebih dalam, ke tempat karang-karang indah berada dan ikan-ikan eksotis bermain, ke tempat dimana kakiku tidak bisa menjejak pasir lagi dan bergantung pada pelampung.
Aku ingin kembali ke pantai!
Tapi kamu sudah tiba di laut.
Aku tidak bisa bernapas dengan alat ini!
Tapi kamu belum mencobanya lagi.
Aku tidak perlu snorkeling!
Benarkah?

Baiklah, akan kucoba sekali lagi. Apa tadi pesan pelatih? Rileks saja, percaya saja pada pelampung dan alat snorkel, bernapas akan mudah bila kita di dalam air.
Kuulang-ulang mantra itu dalam kepalaku. Rileks saja, percaya saja, bernapas akan mudah di dalam air… Rileks saja, percaya saja… Rileks saja…
Kucelupkan kepalaku. Sekilas ku lihat karang, dan hey..! Ada ikan berenang! Wah, ada yang lainnya! Wow, isi laut begitu indahnya! Wah…!
…dan tubuhkupun dengan mengejutkan bisa bernapas lewat mulut melalui snorkel secara alamiah, tanpa perlu berpikir lagi. Hore… Aku bisa snorkeling! *bernyanyi tralala*

Saat kau melihat isi laut melalui kacamata snorkel, kau seperti berada di dunia lain.
Dunia yang indah! Karang dan ikan yang bermain disekitarnya sungguh indah! Kau bahkan bisa merasakan sentuhan mulut ikan saat dia mengambil remah roti yang kau pegang di tanganmu. Ini lebih nyata daripada akuarium di rumah atau bahkan di Seaworld Ancol.
Dunia yang sunyi! Kau hanya mendengar tarikan napasmu. Sisanya adalah keheningan.
Dunia yang menggentarkan hati! Saat kau berada di area tanpa karang, kau tak melihat apa-apa… Dasar laut tidak kelihatan, tak ada karang berarti tak ada ikan. Menyeramkan! Ini lautan luas! Hati yang gentar mengirim sinyal ke otak untuk mengirim perintah ke tubuh agar kembali ke dunia normal. Aku pun mengangkat kepala dari air, mata memandang pantai, telinga mendengar suara-suara orang di sekitar.
Segera ku mencari pemanduku, mengayunkan lengan dan kaki menuju ke arahnya. Aku mau minta dia menunjukkan tempat yang ada karangnya! Aku mau snorkeling lagi! Aku ketagihan!
Saat mengingat detik-detik aku mulai bisa snorkeling, aku teringat hubunganku dengan Tuhan.

Percaya saja, celupkan saja kepalamu ke dalam air tanpa banyak tanya!
Percayalah, pakai saja kuk yang kupasang kebadanmu! Tak perlu banyak protes dan ragu, karena kau baru akan mengerti saat kau sudah memakainya. Beban kuk-mu akan ringan!

Saat kau sudah didalam air, bernapas dengan snorkel tidak akan seberat saat kau di luar air!
Saat kau melakukan kehendak Tuhan dan menderita karenanya, kau akan merasakan sukacita sejati, karena kau memang tercipta untuk hidup di dalamNya, bukan diluarNya!

Tentang perjalanan ke Lombok dan Gili Trawangan, 20-24 Januari 2012.
Ditulis di Jakarta, 27 Januari 2012.

This is Chinese Way (Catatan Perjalanan ke Cina, 24-30 Desember 2010)

Makan malam di restoran. Cuaca cerah tidak terlalu dingin. Karena itu kami memilih meja di halaman restoran, beratapkan langit. Setelah memesan hotpot daging domba dan sayuran, pelayan segera menata alat-alat makan di meja kami, termasuk mangkuk kecil untuk makan sup dan gelas untuk minum teh, dan menyediakan satu poci chinese tea. Henry segera menuangkan teh ke mangkuknya, meletakkan gelasnya ke dalam mangkuk berisi teh tersebut. Kaget, aku berteriak “what are you doing?”. “washing my glass”, jawabnya kalem. “this is chinese way”, ujarnya menambahkan. Kemudian dia mengangkat gelasnya dari mangkuk, dan membuang air teh di mangkuk ke tanah di pinggir jalan. “why didn’t you do the same to my glass?” tanyaku menuntut. “this is chinese way, you are not chinese”, jawabnya dengan santai, mengacuhkan aku yang terbengong-bengong.

Tiba di hotel menggunakan taxi. Aku segera keluar, ingin menikmati kamar yang hangat. Tunggu punya tunggu, Henry tidak keluar-keluar juga dari taxi. Aku menengok ke dalam dari pintu taxi yang terbuka: Henry dan sopir taxi saling bicara dan sama-sama memegang uang. Tidak perlu bisa bahasa Mandarin untuk mengerti permasalahan yang ada bahwa si sopir tidak punya uang kembalian, dan Henry tetap menuntutnya mengembalikan uangnya. “Henry, it’s just two yuan. Just give the change to the driver”, pintaku ketika melihat uang 20 yuan di tangannya dan argometer menunjukkan angka 18. Dia mengacuhkanku dan melanjutkan pembicaraan dengan supir taxi. Dengan sabar aku berdiri  menunggu di samping taxi, penasaran bagaimana dua pria ini akan menyelesaikan permasalahan mereka. Tak lama kemudian Henry keluar taxi memegang uang 5 yuan. “You asked the driver to give you five?”, tanyaku tak percaya dia bisa setega itu. “No, i gave him additional 3 yuan”, jawabnya cepat. “This is chinese way. Chinese never give the change. That’s western”, terangnya menambahkan.  “But what if the driver really doesn’t have the change?”, tanyaku. “Then the driver must go to change the money. It is not customer responsibility”. Haiah….

Aku sangat tidak cocok dengan masakan Cina, sehingga selalu hanya makan sedikit saja dan itu pun dengan sangat lambat. Pada suatu kesempatan, kami akhirnya makan pizza. Senang sekali rasanya melihat ada lingkaran pizza terbentang di hadapanku, siap disantap. Saat aku dengan bersemangatnya hendak mengambil potongan pertama, aku teringat kalimatnya saat dia berkunjung ke Jakarta 3 bulan lalu: “Chinese don’t touch the food”. Segera saja aku menghentikan tanganku, dan memandang Henry. Ternyata dia sedang meminta pelayan untuk memberikan satu garpu untuknya. Menyadari pandanganku, dia berkata “Go ahead, use your hand. You are Indonesian. It’s OK for you to touch the food”. “But I’m in China now”, kataku ngotot. Sebagai jalan tengah (karena aku juga malas makan pizza dengan garpu), maka aku mengambil sarung tangan plastik yang disediakan pelayan (saat mengantar pizza ke meja kami, pelayan juga membawa dua sarung tangan plastik), memakainya di tangan kananku, dan mengambil dan menyuapkan pizza ke mulutku menggunakan tangan yang terbungkus sarung tangan. Yeah, I don’t touch the food, and no need to use fork. A good deal! (Henry? Dengan santainya makan menggunakan garpu).

makan pizza dengan sarung tangan plastik

Aku dan Henry menghabiskan jam-jam terakhir sebelum keberangkatanku ke Baiyun airport di taman kota. Berjalan-jalan menikmati indahnya pepohonan, danau dan bunga-bunga, atau duduk-duduk di kursi taman untuk ngobrol sambil ngemil. Saat kami sudah menghabiskan setengah silinder Pringles rasa cabai (Henry suka sekali dengan masakan pedas), tiba-tiba aku mendapat pencerahan dan berteriak penuh tuduhan kepada Henry: “Hey, you touch the food! You are eating Pringles using your hand!”. “I have no choice. I don’t have chopstick now…” katanya santai sambil terus menggali isi silinder Pringles dan mengunyahnya. Nyam…nyam…nyam…

Siang itu Henry ada urusan ke bank, dan aku dengan bersemangat menemaninya karena ingin mengetahui bank di Cina seperti apa. Untuk berurusan dengan teller, ternyata tidak perlu berdiri mengantri. Ambil nomor antrian di mesin, kemudian duduk di tempat yang disediakan sambil menanti giliran kita tiba yang dapat diketahui dari suara perempuan yang keluar lewat pengeras suara dan juga dari nomor antrian yang terpampang di papan display. Nasabah yang mendapat giliran akan bertransaksi sambil duduk, bukan berdiri, karena di depan teller disediakan kursi tunggal. (Kalau di Indonesia, biasanya hanya bagian Customer Service (CS) – bukan teller – yang menyediakan nomor antrian dan kursi saat bertransaksi). Ada sekitar 10-15 orang yang mengantri sebelum kami, dan ada 2 konter yang buka.  Henry tampak tidak sabar, tidak bisa  duduk dengan manis, dan bahkan mengambil nomor antrian baru karena siapa tahu nomor tersebut lebih cepat dipanggil (memang seperti ada dua nomor urut begitu…). Aku berusaha mengalihkan perhatiannya dengan mengajaknya bicara. “Hey, what are they doing?”, tanyaku sambil menunjuk kerumunan beberapa pria di depan konter yang tampak ribut berbicara. “What are they saying?”, tanyaku lebih jauh lagi. Sambil menghela napas, Henry menjawab lemas: “They want to know when their turn come”. “Why don’t they just sit? They will know when their turn comes, right?”, tuntutku. “They are like me. Impatient people. The teller works really slow…”. Dan gagallah usahaku mengalihkan perhatiannya.

Aku dan Henry menikmati mandi sinar matahari di halaman rumah orangtuanya yang menghadap dapur dan gudang, sambil (mencoba) menikmati penganan semacam kerupuk yang disuguhkan mamanya dalam kantong keresek. Melihat ada dua ekor anjing yang tertambat di dalam dan di depan gudang (pintu gudang terbuka), aku melemparkan potongan kerupuk ke anjing yang paling depan.

Dia memakannya! Mendapat angin segar, aku pun melemparkan potongan kedua, yang lebih besar lagi, ke anjing yang sama. Dia kembali memakannya, dan tampangnya tampak penuh harap, sama seperti tampang anjing di belakangnya yang ditambatkan di dalam gudang. Setelah sekali lagi melemparkan potongan kerupuk ke anjing di depan, aku mencoba melemparkan kerupuk untuk anjing di belakang, yang jaraknya lebih jauh lagi. Ah, lemparanku tidak sampai ke sana. Untuk maju mendekati mereka aku takut karena ukuran anjingnya besar. Akhirnya aku meminta Henry untuk melemparkan kerupuk itu untuk anjing di belakang. “No, give it yourself”, tolaknya. Melihat muka protesku, dia menambahkan: “Don’t give the food to the dog. Man food is for man, not for dog. Man food is for man, dog food is for dog”. “But they like the food! They eat it! Look!”, pungkasku dengan keras kepala. “The dog should not eat any food from stranger. You are stranger. They should not eat any food from you. If it is a thieve who give them food, and they eat it and stop barking, it will harm us. And what if the food is poisoned…”, jelasnya panjang kali lebar. “But they ate the food i gave them. It means you should train them more”, ujarku menyalahkan. “And i think nothing is wrong if sometimes we give the dog man food. They like it”, tambahku. Henry kembail menerangkan: “We keep dogs to protect us. Chinese don’t keep animal as pet. The animal should be useful for us”. “Then why you keep those cats?”, tuntutku sambil menunjuk dua ekor kucing yang sedang bermalas-malasan mandi matahari di pekarangan seperti kami. “to catch rats”, jawabnya cepat. Dan aku pun memakan kerupuk lagi dengan lambat…